Hari demi hari berlalu sejak Richard dan Reynald membuat sebuah rencana untuk Valentine. Setelah didesak oleh kedua orang tua mereka, akhirnya mereka mengakui bahwa mereka memang ingin memberi sesuatu untuk Valentine kali ini. Untunglah, kedua orang tua mereka dengan tanggap memberikan mereka alamat sebuah toko coklat langganan sang Ibu.
“Toko coklat ini memang masih baru, tapi bikinan mereka bagus dan harganya juga rasional. Bicara langsung sama yang punya toko, bilang aja mama yang minta. Nanti pasti dikasih potongan, entah berapa. Mungkin agak banyak, soalnya tiap Valentine, toko ini laku keras. Jadi ya, penjualan naik drastis.”kata sang Ibu.
“Bagaimana kita tahu yang mana pemiliknya?” Richard bertanya. “Apa dia bertanduk apa berhidung jumbo gitu?”
“Menjelang Valentine, dia pasti pakai kemeja warna merah, dan terus dipakai sampai Valentie berakhir. Gampang kan? Udah sekarang kamu kesana, pesan coklat yang spesial, pilih model yang bagus. Ini uangnya.”kata sang Ibu sambil memberikan beberapa lembar uang.
“Thanks mom.”kata kakak-beradik itu sambil berlari ke garasi dan tancap gas.
Ibu dari kakak-beradik yang unik itu hanya tersenyum melihat kedua anaknya yang penuh semangat. Puluhan tahun yang lalu, semangat yang sama juga terpancar dari suaminya. Mereka mulai pacaran kelas 3 SMA, tepatnya pada tanggal 14 Februari, dan menikah pada tanggal 14 Februari juga bertahun-tahun kemudian. Kebetulan yang aneh, kadang-kadang ia berpikir. Namun baginya, keanehan itu terasa membahagiakan.
.
.
—-
Kalender menunjukkan 13 Februari, dan 2 batang coklat sudah siap di kulkas. Coklat kali ini berbeda dengan coklat biasa. Keduanya berbentuk hati, dan di masing-masing coklat itu, tertulis nama Cynthia dan Michelle yang terbuat dari coklat putih. Keduanya terbungkus rapi dalam sebuah kotak plastik transparan yang diikat dengan pita pink. Dan ukurannya cukup besar, bisa dimakan berdua, atau jika lapar, dimakan sendiri.
“Jangan lupa ya, Samuel. Di kelas banyak banget yang pesan bunga dari elo.”Richard berbicara di telepon pada teman sekelasnya yang memiliki usaha jual-beli bunga (tidak hanya mobil Kijang yang bisa jual-beli) terbesar di Jakarta. Namanya Samuel Sellflora. Seperti namanya, ia ditakdirkan untuk menjual bunga ke orang-orang tidak beruntung yang menjadi korbannya.
“Heh, no problem. Punya lo yang mawar biru kan? Dua buket.”
“Yep.”
“Okay. See you tomorrow, and I expect the money.”
“Whatever deh, mata duitan luh.. bye”
Richard menutup telepon dengan perasaan yang berbunga-bunga. Demikian juga Reynald yang sedang menyelesaikan PR Kimia yang menumpuk bagaikan tumpukan jerami di pertanian. Rasanya analogi ini adalah yang paling pas.
Ingin rasanya malam ini berlalu dengan cepat, karena keesokan harinya, mereka akan mengadakan long march cinta.Tepatnya dengan 2 buah mobil.
“How do you feel right now? Senang?”Reynald bertanya pada adiknya.
“Senang sekali sehingga sulit sedih” Richard menjawab enteng.
“Baguslah. Tidur duluan saja, nanti kesiangan lho.”
“Okay, good night.”
Dan Richard pun menuju kamarnya untuk tidur. Ia tidak membuang-buang waktu untuk belajar, khusus malam ini. Seakan-akan besok ia harus tampil prima. Kembali, patung Darth Vader menghiasi malam ini dengan lightsabernya yang menyala.
Sambil berbaring di ranjangnya yang sudah mulai terlalu kecil untuk dirinya yang masih dalam taraf pertumbuhan (kata orang-orang), ia menatap langit-langit. Ia melihat stiker bintang-bintang berfosfor yang ditempel di langit-langit. Stiker-stiker itu tampak indah di malam hari, menenangkan hati siapapun yang tidur.
Semua orang pernah mendapatkan sebuah bintang dalam hidupnya, ia berpikir dalam hati.
Kapan bintangku akan tiba? Aku akan terus menunggu, dan mungkin, akan kuraih bintang itu. Langit akan kulompati dan bulan akan kuinjak demi menyentuh bintangku…
Dan ia tertidur, penuh kegelisahan, namun ada sedikit kegembiraan dalam hatinya.
Sekarang kita beralih ke kamar sebelah, dimana Reynald sudah bersiap-siap untuk tidur.
Ia mematikan lampu dan menyalakan radio, sekedar untuk menenangkan hatinya yang juga galau. Namun tidak seperti adiknya, ia lebih ke arah gembira daripada galau. Dan ia sulit tidur saking gembiranya.
Apa kabar bintangku? Ia bertanya dalam hatinya. Besok aku akan mengunjungimu, ke tempatmu berada, yaitu di langit. Aku akan melompatinya untuk mengantarkan sebuah tanda cinta. Dan yakinlah, aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Sampai kapanpun aku akan terus menunggu…
14 FEBRUARI
“Ini kan hari spesial nih? Bawa mobil masing-masing aja kan?” Richard bertanya pada kakaknya yang masih membereskan kemeja.
“Maksud lu..”
“Yep. Percuma dibeli kalau gak dipakai. Mendingan dijual lagi untuk beli SUV.”
Reynald yang sedang menghabiskan roti panggangnya bergegas menuju garasi. Di situ ada sebuah mobil yang sampai sekarang masih ditutup dengan covernya. Langsung saja ia buka penutup mobil itu.
Tampaklah sebuah mobil berwarna hitam, Jaguar S-Type yang masih mulus dan hanya sedikit berdebu.
“Agak sayang sih kalau pakai ini.”Reynald berkata pada adiknya.
“Terserah.”Richard menjawab.”Mau naik Jazz juga tidak masalah, mau naik skateboard pun, gua berani.”
“Tapi memang jarang dipakai sih, okelah. Daripada rusak dimakan debu. Bisa-bisa dicuri genderuwo”
“Reynald, genderuwo apa sih yang nyolong mobil? Dasar gila luh.”
“Jelmaan siapa kali, ga tau, mungkin genderuwonya udah adaptasi, udah cukuran kali.”
Akhirnya ia memutuskan untuk memakai mobil mewah itu. Ke sekolah.
Ketika ia menstarter mobil itu, ternyata tidak bisa jalan.
“Bad sign.” Reynald berkata dengan penuh makna kepada Richard. “Jumper.”
“Ya ampun..”Richard mengeluh. Ia lalu mengambil kabel jumper dari Land Crusiernya, lalu memasangnya pada aki Jaguar dan menyalakan SUVnya. Dengan segera, mesin mobil hitam itu menyala. Halus sekali bunyinya.
“Nanti jangan mogok lagi, bisa ditertawakan. Jaguar kok mogok.” Richard meledek kakaknya. “Ganti aja namanya jadi meong”
“Bacot. Sudah, ayo kita pergi.” Reynald menjawab dengan terburu-buru. “Tapi kok perasaan gua gak enak..”
“Bacot. Sudah, ayo kita pergi.” Richard membalas omongan kakaknya.
Kemudian mereka berangkat bersamaan, melewati jalan-jalan yang belum ramai dengan kecepatan normal, tidak ugal-ugalan seperti biasanya. Dan setelah sampai di sekolah, mereka dengan terburu-buru masuk ke kelas masing-masing.
“Kevin, Samuel ada?”Richard bertanya pada seseorang di dalam kelasnya yang sedang tidur.
“Si…atlit gagal itu..mana mungkin datang jam segini..hoahm. Udah mendingan lu tidur aja. Gua juga pesan bunga sama dia.” Kevin sang atlit voli itu menjawab dengan malas.
“Oh ya, good idea.” Richard merespon dengan sedikit perasaan galau. Ia khawatir, kalau-kalau Samuel tidak datang.
“Nanti ada pelajaran tambahan akuntansi.” Kevin mendadak nyeletuk sambil setengah mimpi. “Si brengsek itu mau merusak Valentine kita semua. Kalau tidak punya istri ya pelampiasannya jangan ke kita.”
”Memang sih, agak repot juga, soalnya jam pulang setiap sekolah kan hampir sama, sekitar setengah dua.”Richard menjawab celetukan Kevin dengan bete mampus.
Kenapa akuntansi demikian susah…
“Itu dia. Ya sudah lah, apa mau dikata.” Kevin melanjutkan tidurnya.
Menit demi menit berlalu.
“Samuel! Dimana lo?!” Sebuah teriakan membangunkan Richard yang ikut tertidur di dalam kelas, menunggu bel masuk. Rupa-rupanya ia sudah tertidur 25 menit, dan isi kelas yang hanya 18 orang itu ternyata sudah ramai, hanya tinggal 4 orang yang belum datang, dan Samuel adalah salah satu dari mereka.
”David…”Richard berbicara lirih. “Dia belum datang juga..?”
“Lihat sendiri, apa dia sudah datang? Aduh, bisa rusak acara gua.”David menjawab dengan panik. “Lihat ini, boneka sapi akan lebih bagus kalau ada bunga nya, bukan begitu?”
Richard melihat boneka sapi yang dibawa David(hacker gila perusak database sekolah dan komputer kepsek). Boneka itu sangat, sangat lucu, namun Richard tahu bahwa Cynthia tidak suka boneka, karena itulah ia tidak mencari boneka apapun. Sapi itu berpita pink, sama seperti coklatnya yang disimpan dalam cooler box mini yang ia bawa ke dalam kelas.
Sementara itu di kelas Reynald, yaitu 3 IPA 3, suasana sudah sangat ramai, namun tidak ada yang membicarakan Valentine. Semuanya membahas PR, ulangan, dan rumus.
“Gak ngapa-ngapain hari ini?” Reynald bertanya pada seorang temannya yang bernama Mattheus.
“Gak, besok kita banyak ulangan, gak sempat kemana-mana nih. Tapi ya sudah lah, tuntutan hidup. Toh pacaran itu tidak penting” Mattheus menjawab dengan polos.
“Ow..”Reynald hanya bisa bergumam kecil. “Perasaan gua jadi orang tolol sendiri yang bawa cooler box berisi coklat.”
“Memang tolol sih.”Mattheus menjawab sedikit sinis.”Tapi tololnya kolektif kok, den
gan 5 orang lain di kelas ini, jadi lu gak sendiri. Ambil positifnya saja. Udah bikin PR Fisika? Nanti diperiksa lho.”
“Udah….”Reynald menjawab dengan sedih.
Kembali di kelas 3 IPS 1, suasana cinta sangat terasa di antara anak-anak yang dianggap buangan oleh beberapa guru matematika, namun mereka adalah batu penjuru masyarakat.
“Memang lebih bagus kalau sapi itu diberi bersama-sama bunga.” Richard menjawab omongan David mengenai boneka sapinya. “Kalau cuma itu, rasanya kurang.”
“Yeah.”jawab David. “Moga-moga orang itu cepat datang. Apa dia gak kasihan sama Handy yang sudah bawa kue sebesar bagong itu?”
Richard segera menengok ke meja Handy, dan ia melihat sebuah kotak BESAR dari sebuah toko ternama. Isinya ia tidak tahu, namun yang pasti, harganya mahal dan pasti pesanan khusus.
Lalu ia menoleh ke meja Brahma, teman sebangkunya, dan ia melihat boneka beruang yang bertuliskan : ‘ To my Valentine : I Love You’.
Kelas gua isinya orang gila semua. Sayangnya, gua secara resmi mengaku kalau gua juga gila..
Ia lalu menoleh ke meja Kevin yang tepat di belakangnya, dan ia melihat sebuah kantong plasik berisikan sesuatu, seperti patung.
“Apa isinya, Kevin?” Richard bertanya pada sang atlit voli.
“Ribuan figurin anime. Dari Pokemon, Bleach, Naruto, Kenshin, alah, kaga bisa dihitung deh. Cewek gua suka anime banget sih, jadi ya udah, gua kasih nih ribuan figurin anime biar dia speechless”
Richard cuma bisa bengong.
“Heran? Elu sih tidur kelamaan.”Kevin melanjutkan omongannya. “Hampir semua di kelas ini membawa sesuatu untuk Valentine, paling-paling yang enggak cuma si Harold Mubay di pojok dan Arnold si jomblo dari Puri Indah. Come on, feel the love. Liat di belakang kelas kita yang luas ini, apa aja yang ada disana? Pernak-pernik Valentine.”
Richard melihat ke bagian belakang kelas yang kosong (bangku-bangku hanya mengisi setengah kelas). Di sana sudah banyak sekali pernak-pernik yang ditaruh di sebuah meja yang tidak terpakai, mulai dari boneka lumba-lumba, coklat raksasa, hingga karangan bunga berbentuk hati yang berdiameter 50 centimeter. Tentu saja cincin dan perhiasan disimpan dalam tas masing-masing.
“Tapi yang penting,” Kevin melanjutkan kuliah cintanya. “Lu memberikan sesuatu hari ini dengan penuh cinta. Apa artinya barang mahal kalau tidak ada cinta? Tell me, lu ngasih apa?”
Dengan minder, Richard menjawab pelan.”Coklat, gak besar, ada namanya. Sama kayak punya kakak gua. Yah, emang rada bego sih, mungkin nanti juga plus bunga nya.”
“Nah yang seperti itu kan bagus.”jawab Kevin. “Gak usah beli raksasa, cukup sesuatu yang sedang-sedang aja. Omong-omong hadiah, mana Samuel?”
Kriiiing. Bel berbunyi.
“SETAN!! Kemana dia?!” Kevin mengamuk.
“Telat mungkin?” Richard mencoba menenangkan temannya.
“Dia datang mepet, tapi tidak pernah telat. Apa-apaan ini?”
“Sabar kali….”
Pelajaran pertama selesai, namun tidak ada tanda-tanda kemunculan Samuel. Bagaikan detektif kesiangan,Richard yang curiga langsung mengecek ke ruangan dimana anak-anak telat biasa dikumpulkan dan dihukum, dan benar saja, tidak ada seorang pun yang telat hari ini.
Ketakutan terbesarnya benar-benar terjadi.
oh tidak..
Richard berlari seperti dikejar singa ke kelasnya.
“Samuel nggak masuk!” Ia berteriak ke teman-teman sekelasnya. “Now what?!”
Tentu saja, sumpah serapah keluar dari mulut mereka, anak-anak 3 IPS 1, yang notabene adalah pangeran-pangeran cinta yang hari ini akan mengunjungi sang luna masing-masing.
“Mampus lu semua.”ejek Arnold. Seorang yang emosi langsung menghantamnya dengan botol minum, sementara yang lainnya mendorongnya dari kursi sampai terjatuh.
“Setan alas!”teriak Kevin. “Kenapa dia?! Berani-beraninya!”
Lalu seorang guru masuk dan memberikan kabar kurang enak.
“Teman-teman sekalian,”kata si guru.”Apa betul ini kelasnya Samuel Chen ?”
“Betul banget tuh pak, bajingan itu!”tukas seorang anak yang emosi.
“Jaga omongan kamu! Kamu tidak tahu, dia tadi pagi mengalami kecelakaan, ia dihantam bis yang sedang lewat ketika menyebrang jalan!” Guru itu berteriak keras. “Dan ia luka parah! Lalu kalian masih menghina dia. Bagus! Saya minta kalian menjenguk dia sesegera mungkin.”
3 IPS 1 menjadi sesunyi kuburan.
Someone explain this thing… Richard pun ikut diam dan lesu
** Waktu istirahat**
“Mana bunganya?” Reynald menghampiri adiknya yang sedang membeli minuman.
“Gak ada?” Richard menjawab dengan datar.
“Hahaha, jangan bercanda lu.” Reynald tertawa. “Nanti pulang sekolah gua ambil ya.”
“Serius, beneran gak ada.” Jawab Richard.
“Maksud lu…?”senyum Reynald langsung lenyap.
Richard mengajak kakaknya ke tempat yang sepi, dan menceritakan apa yang terjadi dengan Samuel. Reynald seakan tak percaya akan apa yang terjadi.
“Oh God….”Reynald langsung lemas. “That is a bad news.”
“Ember..”jawab Richard.
“Okay..so?”
“Masih ada kesempatan, di dekat sini kayaknya ada yang jual bunga bagus-bagus. Tapi tetap saja lu berangkat duluan kan? Yah kalau ketemu, kasih tahu gua, toh tambahan Akuntansi hari ini hanya setengah jam.”
“Beres” kata Reynald.
“Okay, good luck my brother.”Richard lalu melangkah pergi ke kelasnya.
**** BEL PULANG****
“Richard, gua duluan yah.” Reynald berkata pada adiknya sambil berlari ke halaman parkir sekolah mereka yang cukup sempit itu. Kolese Peter van Honn memang tidak pernah memikirkan untuk memperbesar lapangan parkir mereka.
“Oke dadah. Kasih kabar soal bunga yah. Good luck.” Richard berkata sambil melambaikan tangan.
Richard lalu masuk kelas 2 IPS 1 (yang memang hanya satu) untuk memulai pelajaran tambahan Akuntansi. Terlihat raut muka kurang senang dari teman-teman IPSnya, baik dari 3 IPS 1 maupun 3 IPS 2, karena acara Valentine mereka menjadi sedikit kacau.
“Baik anak-anak” kata sang guru Akuntansi. “Hari ini kita belajar mengenai piutang tak tertagih.”
Mimpi buruk IPS berlangsung selama 30 menit.
* * *
Reynald menyetir Jaguarnya dengan kencang namun hati-hati. Ia tidak ingin merusak mobilnya itu. Dengan keringat dingin namun penuh semangat, ia mengambil semua tikungan dengan penuh perhitungan, antara kecepatan dan mata. Sambil menjaga jarak antar kendaraan, ia pun melihat-lihat kalau-kalau ada yang menjual bunga.
Ketika ia sudah mendekati sekolah yang ditujunya –St. Lisieux-, ia melihat seorang penjual bunga di trotoar. Dagangannya sudah hampir habis, namun masih tersisa beberapa buah buket yang terlihat cantik.
Ini dia, pikir Reynald. Ia menepi dan memarkir mobilnya untuk melihat-lihat bunga yang dijual.
“Silakan bunganya.”kata si penjual. “Masih segar, lihat saja sendiri. Baru tadi pagi diambilnya.”
Reynald memeriksa bunga yang dijual itu. Asli, bukan sintetis.
“Ada mawar biru pak?” tanya Reynald.
“Oh ada, tapi agak mahal, soalnya langka” kata si penjual.”Rp. 100.000 satu buket.”
Untung mama memberi modal cukup untuk Valentine kali ini. “Beli 2 buket pak, tapi yang satu lagi tolong disimpan dulu, nanti adik saya datang pakai mobil Land Cruiser, platnya B 2212 CA, jangan lupa ya.”kata Reynald sembari mengeluarkan uang pas.
Setelah mengambil bunganya, Reynald mengirim sms kepada Richard tentang lokasi penjual bunga, lalu melanjutkan perjalanan menuju St. Lisieux.
Macet. St Lisieux dipenuhi mobil-mobil yang akan masuk ke dalam. Terlihat pula beberapa anak dari sekolah lain berdatangan ke sekolah elit itu, ada yang membawa bunga, coklat, maupun keduanya. Hanya saja, mereka tidak memakai cooler box.
Reynald ,dengan sangat sabar namun senewen, menunggu antrian masuk , namun karena menyadari bahwa tidak mungkin ada tempat di dalam, ia menepi ke kiri di samping trotoar dan memarkirkan mobilnya. Ia lalu menyeberang jalan dengan mudah (karena jalanan macet, tidak ada mobil yang bisa jalan.)
Langkah demi langkah dilewati olehnya, dan ketika itu juga, ia melihat sebuah mobil yang ia kenal di kejauhan.
Mercy S-Class berplat B 4444 XX.
Pikiran-pikiran yang merusak mood mulai berkecamuk di otaknya, namun segera ia singkirkan.
Ia berjalan dengan hati-hati, sangat hati-hati, sambil membawa coklat yang sudah dikeluarkan dari cooler box dan sebuket mawar biru yang indah.
Lalu, ia berhenti berjalan.
Di gerbang masuk gedung sekolah, di dekat penjual majalah, di bawah kanopi yang teduh, Erwin sedang memberikan bunga dan coklat kepada Michelle.
Bunga dan coklat kepada Michelle.
Kepada Michelle.
Michelle.
Reynald memperhatikan dari jauh, nafasnya sudah panas dan tenggorokannya mulai kering, namun ia tetap memperhatikan dari jauh, kalau-kalau Erwin menyudahi pemandangan yang membuat mata Reynald gatal.
Namun Erwin tidak kunjung pergi, ia tetap berada di situ. Sementara itu, ekspresi wajah Michelle terlihat sangat gembira.
Lalu Michelle memeluk Erwin.
Dan mencium pipi kirinya.
Erwin lalu mencium dahi Michelle dengan lembut, lalu menggandeng tangannya dan berjalan menuju Mercy S-Class miliknya. Michelle masuk ke dalam mobil mewah itu, setelah itu ia lenyap dari pandangan bersama dengan hilangnya mobil milik Erwin.
Tinggallah Reynald berdiri diam. Di lapangan parkir St. Lisieux yang penuh. Sambil memegang bunga dan coklat.
Ia tidak sanggup berkata-kata. Ia tidak mau berkata-kata. Ia benci berkata-kata. Matanya berkunang-kunang seperti kehabisan darah.Tenggorokannya sekarang benar benar kering, seret, dan sakit, seperti hatinya.
Perasaannya ditusuk dan diburai oleh pemandangan romantis tadi. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk meraih bintangnya.
Hari ini bintangku diambil daripadaku. Itulah yang ia pikirkan.
Reynald berlari keluar dari lapangan parkir, penuh dengan rasa malu, sakit, dan kematian. Ia membanting bunga dan coklatnya ke tanah, dan menginjaknya. Ia masuk ke mobil dan membanting pintu.
Ia menghantamkan kepalanya ke stir hingga lecet dan sedikit meneteskan darah. Nafasnya sudah sesak, ia ingin menangis, tetapi ia tidak punya kekuatan untuk menangis. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar lagi. Ia lalu menyetel radio, dan tancap gas. Ia tidak peduli mau kemana. Ia ingin lari, lari dari kenyataan ini. Dengan kecepatan tinggi dan darah menetes, ia mengambil tikungan tanpa mengerem dan terus melaju.
Bunga dan coklatnya terlindas.
20 menit kemudian, sebuah Land Cruiser mengambil tempat parkir kosong itu, yang anehnya, tidak ditempati siapa-siapa dalam waktu 20 menit. Pintu dibuka, dan keluarlah Richard dengan mawar biru dan coklat. Ia lalu menyebrang jalan dan masuk ke dalam gedung sekolah St. Lisieux.
“Kenapa tidak ada seorang pun yang aku kenal disini?” Richard berpikir keras. “Apa mereka sudah pulang semua?”
Ketika Richard masuk , seluruh teman-teman orkestranya yang bersekolah di St. Lisieux sudah berdiri dalam 2 baris di sisi kiri dan kanan lorong sekolah layaknya penyambut tamu di pernikahan. Mereka semua diam dan tidak bicara sepatah kata pun walaupun ditanya.
Dengan keheranan, Richard berjalan diantara 2 barisan itu.
Mendadak, dari salah satu ruang kelas, Cynthia keluar sambil setengah didorong-dorong oleh beberapa temannya, namun ia tidak menunjukkan raut muka cemberut atau ketidaksukaan. Ia berdiri tepat di tengah-tengah barisan.
Rupa-rupanya sudah ada panitia penyambutan di sini, entah siapa yang merencanakan, tetapi Richard sangat berhutang budi padanya.
Richard pun terdiam, entah malu, entah senang, entah kaget, tapi ia kembali berjalan. Langkah-langkah penuh makna diambilnya, sentimeter demi sentimeter dilalui, ia berjalan menghampiri Cynthia.
Lalu jarak aman sudah habis. Sekarang mereka saling bertatapan, saling berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat untuk membuat suasana menjadi sedikit romantis.
Richard merasakan ada sesuatu yang menghalangi suaranya, namun ia dengan segenap kekuatannya, bisa mengeluarkan sedikit suara untuk mengucapkan sesuatu, sesuatu yang sekiranya bisa membuka perasaannya walaupun hanya sedikit.
“Cynthia..” Richard membuka pembicaraan. Ingin sekali ia menumpahkan seluruh isi hatinya, namun sekarang belum saatnya. Belum saatnya hal ini dibicarakan. Belum ada momen yang tepat untuk ini, namun sekarang, ia mempunyai hal lain yang ingin dibicarakan.
“..Happy Valentine.” Richard mengakhiri kalimatnya, dan menyerahkan bunga dan coklatnya kepada Cynthia. Keringat dingin mengucur. Layaknya seseorang yang akan dihukum mati, ia merasa sedikit ketakutan, gemetar, dan seperti drug addict yang sakaw.
Tapi semua itu sirna ketika Cynthia mengambil pemberian Richard.
“Thanks yah. You’re so kind.” Cynthia membalas dengan sebuah senyum yang manis, yang meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Senyum seseorang memang bisa memiliki banyak arti, senyum seseorang bisa memiliki tujuan tertentu. Namun kali ini, senyum yang diberikan Cynthia adalah senyum yang tulus dari hati.Tidak pernah Richard melihat sebuah senyuman tulus diberikan pada dirinya. Baru kali ini, untuk seumur hidupnya, seseorang tersenyum dengan tulus padanya.
Tepuk tangan menggemuruh dan siulan genit dilemparkan pada kedua orang itu. Dengan tampang malu-malu, mereka tersenyum pada orang-orang yang menyambut mereka.
“So Cynthia…”Richard melanjutkan pembicaraannya. “How about if we go somewhere? Just to hang out for today..?”
“Sure”jawab Cynthia. “Tapi tunggu sebentar yah, gua mau beresin kerjaan dulu. Ganti baju dulu saja, masa pakai seragam sekolah.”
“Oke, no problem.”jawab Richard.
* * *
Reynald menyetir mobilnya dengan kencang, dan ia sekarang berada di jalan HOS Cokroaminoto.
“Selamat siang kawula muda. Request lagu dari saudara Arman akan kita mainkan. Ini dia Kerispatih dengan Kejujuran Hati!”
Reynald naik darah mendengar lagu itu.
“Sesungguhnya, ku tak rela, jika kau tetap bersama dirinya…” demikian lirik lagu itu.
Terkutuk buat siapa pun yang request lagu ini di saat gua lagi gila!
Reynald segera mematikan radionya dan melaju terus menuju H.R. Rasuna Said. Dan pada saat itu juga, handphonenya berbunyi.Dari Richard. Ia langsung mematikan HP nya dan terus melaju.
Richard menelepon lagi. Kali ini Reynald benar-benar sebal dan ia merejectnya sekali lagi, lalu melempar handphonenya ke jok belakang.
* * *
“Berangkat sekarang yuk. Tugas gua udah selesai. Richard?” Cynthia berkata pada Richard yang masih bingung melihat layar handphonenya.
“Telepon gua di-reject sama Reynald dua kali. Lu liat Reynald gak?” Richard bertanya pada Cynthia.
“Nggak tuh. Memang dia datang?.”
“Hah? Serius?”
“Aduh, beneran. Ngapain juga gua bohong?”
“Oh oke. Ya udah, yuk berangkat.”
Richard dalam hatinya khawatir akan Reynald. Instingnya mulai bekerja, dan perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Richard dan Cynthia masuk ke dalam Land Cruiser, dan berangkat menuju suatu tempat yang hanya Richard yang tahu.
30 menit kemudian..
Richard masih menyetir dan bercanda dengan Cynthia. Mendadak sebuah telepon masuk ke handphone Richard.
“Sini, biar gua nyalakan loudspeaker.”kata Cynthia sambil menyalakan loudspeaker Nokia 6600 milik Richard.
“Thanks. Halo?”
“Halo.”suara itu menjawab.
“Papa ya? Kenapa?” tanya Richard.
“Reynald kecelakaan di Kuningan.”