THe Untitled Love Story Part XVIII

•February 28, 2008 • Leave a Comment

Helena masuk ke dalam ruangan itu dan ia melihat Reynald yang terbaring lemah dan remuk. Ia hanya bisa hening melihat kondisinya yang begitu parah, seakan tak percaya hal ini bisa terjadi.  “Helena?” Reynald memulai pembicaraan. “Astaga..Reynald..lu baik-baik aja kan? Kenapa bisa begini?” “Ceritanya panjang.”jawab Reynald. “Tapi, thanks banget lu udah mau datang kesini, padahal gua gak nyangka bakal ada yg jenguk.” “Gua cuma khawatir, Reynald. Emosi elo kan kadang-kadang nggak stabil. Pasti ada apa-apa. Ayo, cerita lah.” Dan dengan senang hati dan terpaksa, Reynald menceritakan ulang apa yang ia alami di siang hari yang terik beberapa jam yang lalu. Bagaimana hatinya remuk, dihantam kekecewaan dan ketidakpercayaan yang mendalam. “Begitulah.”kata Reynald.”Segalanya udah terjadi. Gua bener-bener nggak menyangka, Erwin ada maksud sama Michelle. Gua….kecewa banget.” “Menurut gua sih,” Cynthia menyambung.”pasti Erwin berpikir begini : ‘Reynald kan bukan siapa-siapanya Michelle’… sering terjadi tuh” “Mungkinkah dia orang seperti itu?”Richard yang notabene sangat mengenal Erwin memang tidak mudah percaya akan segala gosip miring. “Dia orang baik, walaupun dia kadang suka berprinsip untuk dekat dengan banyak cewek.” “Tapi prinsip yang kaya gitu yang bahaya lho, Reynald.”
”Yah, benar juga sih.”
“Udahlah.”Cynthia berusaha mengembalikan suasana sebisanya. ” Reynald yang penting harus sembuh dulu, jadi, jangan dibicarain dulu deh.” “Yep. Jangan ngomongin orang dulu deh, bikin aura panas aja tau. Richard mau nginap di sini?”tanya Helena, kalau-kalau Reynald harus melalui malam ini sendiri “Iya, gua nginep. Takut dia mati kesepian” Richard menjawab. “Yang jelas, gua musti ambil buku buat besok, pakaian ganti untuk sekolah, dan iPodnya Reynald.” “Ya baguslah kalau gitu. Reynald cepet sembuh ya.”kata Helena dengan tersenyum. “Eh sorry yah, gua musti pulang dulu, soalnya bisa dimarahi ortu karena nggak bilang-bilang kalau ke sini. Pokoknya, biar Reynald cepet sembuh, makanan harus dimakan semua. Kalau enggak, gua bikin diopname seumur hidup, hahaha. Oke?”

“Oke” Reynald membalas dengan sebuah senyum yang pilu.

Helena pun pergi dari ruangan itu, sementara Richard dan Cynthia masih menemani Reynald di dalam. Richard terlihat sedang mengatur frekuensi radio, mencari stasiun yang sekiranya bisa membantu Reynald untuk menenangkan pikirannya. “Classic? Jazz?” Richard bertanya pada kakaknya. “Gak. Radio anak muda  aja. Apa kek, lagu-lagu yang lagi ngetrend.”Reynald menjawab. “Yakin ga? Nanti mampus lu dengerin curhat valentine orang-orang.” Richard mengejek kakaknya. “ Bodo, yang penting gaul.” “Terserah.” Richard memutar frekuensi radio Praegus. Memang, lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang gaul. Or so it seems . Reynald memang sudah terlihat dapat sedikit mengontrol dirinya, namun tetap saja, ia terluka secara fisik. Tubuhnya memang benar-benar hancur, secara literal dan bukan kiasan. Setelah beberapa saat berlalu, Cynthia ditelepon dan diminta pulang oleh ayahnya. Tentunya, Richard harus meninggalkan Reynald sendirian untuk beberapa waktu. “Gua tinggal sebentar ya Reynald, Cynthia mau pulang dulu, gua mau anterin.”Richard pamit pada kakaknya.
”Oke, hati-hati ya. Bye Cynthia.”
“Bye Reynald. Get well soon yah” Cynthia mengucapkan salam perpisahannya pada Reynald lalu pergi dari kamar itu bersama Richard. “Thanks Cynthia.” Ketika mereka berdua keluar, radio Praegus menyiarkan sesuatu yang tidak terduga. “Selamat malam, guys and gals yang masih mendengarkan Radio Praegus dengan setia. Bagaimana Valentine malam ini? Tentunya semua punya pengalaman sendiri ya? Baiklah, kita akan membacakan sms dari kalian semua tentang bagaimana kalian merayakan Valentine ini….pertama dari..Albert. Kamu lagi mendengarkan? Yak, Albert bilang ‘hari ini gue dapet coklat lho, padahal rencananya gue yang bikin surprise. Wah asik deh.’ Yak tampaknya hari ini ada yang senang. Berikutnya…” Reynald mulai sebal, tapi dia berusaha untuk tetap sabar, lagipula, tangannya tidak sampai ke radio mini itu. “Baiklah, setelah lagu ini, kita akan membacakan sms  kalian lagi. Lagu ini direquest oleh Chris, berjudul ‘Tong Hua’. Wah setahu gue lagu ini artinya romantis banget. Baiklah, selamat menikmati!” Reynald  langsung shock. Sekarang ia tidak tahu apakah dirinya sendiri masih mencintainya. Orang itu adalah seseorang yang ia lihat pergi dari hadapannya tadi siang, di bawah kanopi sekolah St. Lisieux. Sekarang ia hanya bisa menangis dan meratap.  *          *         * “Richard…” Cynthia memecah keheningan yang berada dalam mobil Richard. “Ya?” “Thanks banget yah udah mau datang, gua beneran gak nyangka lho.” “Oh, no problem Cynthia. Namanya juga the first time celebrating Valentine. Harus spektakuler, menurut gua. Tapi tampaknya agak aneh.”
”Gak kok Richard” Cynthia tersenyum padanya. “Gak ada yang perlu disesali soal apapun. Bunganya bagus lho, beli dimana? Pesanan khusus ya?”

”Enggak” Richard menjawab tegas. “Gak pesan, beli di tukang bunga.”
“Oh oke. Tapi hebat juga tukang bunganya ada mawar biru segala.”Cynthia menjawab keheranan. “Yah, mungkin dia yang special delivery.”

Keduanya tenggelam dalam keceriaan di hari yang kurang mengenakkan ini. Bagaimanapun juga, Reynald masih terbaring sakit di rumah sakit, dan Richard harus kembali untuk menemaninya. Dan bukan waktunya untuk senang-senang belaka.

Lalu hening.

 ”Kok diam?” Cynthia memulai pembicaraan.

“Enggak… gua cuma masih mikirin Reynald..” Richard bicara setengah berbisik.

“Sama sih, tapi gimanapun juga dia udah kelihatan mendingan, walaupun masih luka-luka. Kita doakan biar cepat sembuh. Besok kita jagain lagi aja, sama Helena. Katanya sih, orang sakit cepat sembuh kalau dia bisa melupakan sakitnya.”

“Ya, I guess so..” “By the way, Richard,” Cynthia mendadak bertanya.”Lu pernah jatuh cinta?” “Tampaknya..semua orang pernah. 99% tepatnya” Richard berusaha untuk tidak gugup.”Memang kenapa?” “Oh enggak, cuma nanya.” Cynthia menjawab dengan polos. “Lalu, apa yang terjadi?”
”Yang terjadi? Gak ada apa-apa.”

”Ditolak?” Cynthia menanyakan sesuatu yang sangat tajam.
“Gak juga sih…” “Terus?” “Yah, katakan saja, gua  keduluan.” Richard akhirnya mau mengungkapkan kanker batinnya, yang selama ini pantang diungkapkan kepada siapapun kecuali kepada kakaknya. “Oh…”Cynthia hanya dapat merespon demikian. “Dan, apakah sekarang masih contact?” “Jarang banget, dia sibuk dalam paduan suara, dan gua sendiri merasa gak enak untuk masuk kembali dalan kehidupan dia.” Richard mulai blak-blakan. “Dan mungkin saja, karena hal itu, sekarang gua memang takut untuk mencintai seseorang..tapi bukan berarti tidak mau” Cynthia terdiam sebentar, lalu kembali bertanya.”Apa yang lu takutkan dalam mencintai seseorang? Tidak pernah ada salahnya kan?” “Cynthia” Richard menjawab lirih. “Jikalau sebuah cinta tidak berbalas, sakitnya tidak akan tertahankan, apalagi kalau cinta itu sudah melekat dalam diri kita. Mencintai bayangan…tidak pernah bahagia. Trust me. Mungkin lu pernah merasakan juga?” “Belum sih…never really had someone who truly loved me, even my ex-boyfriends.” “Kok bisa?” “I don’t know…”Cynthia terlihat sangat sedih, apakah ia punya masa lalu yang kurang menyenangkan, tidak ada yang tahu. Mungkin Richard tidak akan tahu selamanya… Richard, mengetahui bahwa “Oh oke..sorry..gua gak bermaksud…” “It’s okay..”Cynthia memotong. “Setidaknya lu udah jujur, dan gua juga udah jujur. Gak ada yang perlu disesali, Richard.” Cynthia kembali tersenyum. Mobil itu terus meluncur di tengah lampu-lampu jalanan dan belokan-belokan yang halus. Mobil hitam itu terus berjalan di tengah-tengah kesibukan kota Jakarta di malam yang temaram, di tengah belantara modernisasi yang terkungkung oleh konservatisme, di tengah-tengah udara kebebasan yang otoriter. Walaupun begitu, cinta tetap ada di mana-mana. Land Cruiser itu berhenti di depan rumah Cynthia. Hari sudah mulai malam, namun lampu mobil masih saja menerangi jalan-jalan, kesibukan yang hanya terhenti bila bulan menimpa kota ini. “You’re home.” Richard berkata pada Cynthia. “Oh oke Richard.” Cynthia mengambil tasnya, namun tidak beranjak turun. Sebaliknya, ia hanya menatap Richard. “What’s wrong?” Richard mulai khawatir, kalau-kalau sebenarnya Cynthia marah kepadanya. “Ga ada apa-apa kok”katanya dengan lembut, lalu turun dari mobil. Terkesan bahwa Cynthia tidak ingin segera pergi, ia masih ingin berada di dalam mobil itu. Ia masih ingin bersama dengan Richard, untuk beberapa saat saja. Tapi sesuatu memang menghalanginya untuk berbuat demikian. Sesuatu di hatinya yang mencegah dirinya. Tidak bisa sekarang, waktu masih panjang, dan pertimbangan menanti. Itulah yang dipikirkan perempuan cantik ini, yang pernah merasakan cinta, namun belum menemukan cinta sejati yang sesungguhnya. Mencintai bayangan tidak akan pernah bahagia. Kata-kata Richard memang sedikit mengusik perasaan Cynthia. Ia tidak mau memikirkan apa-apa sekarang, ia percaya dalam proses, bukan sekedar hasil, tapi ia tahu persis, apa yang ada di dalam hati Richard. Tetapi seseorang harus berkomitmen, dan apapun komitmennya, itu adalah hak pribadi orang itu. Cinta pun harus berkomitmen, demi dirinya, dan demi orang lain, baik yang dicintainya maupun yang mencintainya. Cynthia berusaha tegar, dan menatap Richard kembali. “Thanks banget yah Richard. Untuk segala yang telah lu lakukan.” kata Cynthia dengan senyumnya yang lembut.”Sampai ketemu hari Jumat di hall latihan. Cepat sembuh ya untuk Reynald. Gua doain deh.” “Oke Cynthia, sampai ketemu hari Jumat. Thanks yah”kata Richard dari dalam mobilnya, lalu beranjak pergi sambil melambaikan tangan. Cynthia menatap kepergian mobil itu dengan pikiran yang galau, namun, ia berusaha tidak memikirkannya. Ia berbalik, lalu berjalan menuju rumahnya. Ingin sekali ia mengucapkan sesuatu, namun tidak bisa keluar dari mulutnya. Sama seperti Richard yang sering sekali gagap jika sudah salah tingkah, maka Cynthia pun memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, namun ia ragu-ragu…ia hanya dapat mengucapkannya kepada angin.. Happy Valentine, Richard. I’ll miss you..

Part XVII

•January 25, 2008 • Leave a Comment

Land Cruiser Cygnus milik Richard dengan cepat menuju ke sebuah rumah sakit di Kuningan yang sudah disebutkan oleh ayahnya.Richard dan Cynthia berlari menuju front desk, menanyakan dimana ruangan kakaknya dirawat.

 

“Ruangannya di situ nak, ruangan gawat darurat.” Kata suster yang menjaga front desk. “Tapi belum boleh dijenguk, dokter masih merawat dia. Nanti saja kalau sudah dapat kabar”

 

“Apa dia sebegitu parahnya suster?” tanya Cynthia yang ikut khawatir.

 

“Saya tidak tahu nak,”kata suster itu “tetapi jika seseorang dilarikan ke instalasi gawat darurat, ia pasti membutuhkan pertolongan pertama. Kalian kerabatnya Reynald Tanuwijaya?

 

“Oh, saya adiknya.”sahut Richard.

 

“Orang tua kamu tampaknya sudah ada di situ, nak.”kata si perawat sambil menunjuk pada ruang tunggu gawat darurat.

 

Richard dan Cyntia melihat orang-orang yang dimaksud, dan mereka menghampirinya.

“Ah, Cynthia.”kata sang ayah. “Sudah lama kita nggak ketemu, apa kabar kamu?”

 

“Baik-baik saja om”jawab Cynthia dengan sopan. “Reynald bagaimana om? Dokter belum bilang apa-apa?”

 

“Yah..”sang ayah menjawab dengan nada sedih. “Semoga dia selamat. Saya juga nggak ngerti kenapa dia bisa tabrakan. Setahu saya, dia selalu awas, kalaupun dia ngebut…Richard, kamu tahu dia kenapa?”

 

“Sama sekali nggak. Aku sih yakin dia selamat, nanti biar aku tanya. Mungkin ia sedang kesal…tapi… Reynald gak pernah seperti ini.. kayaknya ada yang gak beres dengan dia pa..”

 

“Sebaiknya kamu tanya, Richard.” sang Ibu menyela. Matanya agak sembap dan pucat. “Mama khawatir dia kecelakaan karena banyak pikiran. Tapi tadi dokter-dokter bilang,  kondisinya kritis tapi bisa ditangani”

 

“Tenang aja ma, nanti aku tanya”.

 

“Ya sudah, kalian berdua makan saja dulu di kantin situ. Enak-enak kok makanannya.”kata sang Ibu sambil menunjuk lokasi kantin.”

 

Richard dan Cynthia, tanpa komando, langsung menyerbu kantin. Segala masalah ini membuat adrenalin tinggi dan pikiran pusing, yang berakibat pada perut yang lapar walau nafsu makan sudah agak menurun.

 

“Menurut lu”,Cynthia membuka pembicaraan,”Reynald kenapa?”

 

Richard yang sedang menunggu makanan langsung kehilangan nafsu makan. “Gua sebenarnya gak tahu, tapi kayaknya….”

 

“Kayaknya apa Richard?”

 

“Michelle.”

 

“Michelle? Memang Reynald tadi ke sekolah gua?”

 

“Yap.”jawab Richard dengan tegas. “Lu tahu sendiri lah kira-kira dia mau apa.”


”Oh…”Cynthia mengetahui maksud Richard. Reynald datang ke St. Lisieux pada hari Valentine ini bukan tanpa maksud. “Jadi…?”

 

“Gua blom bisa ambil kesimpulan apa-apa..dan gua gak mau spekulasi yang aneh-aneh walaupun kira-kira gua tahu ada apa, kasihan Reynald”

 

“Oke Richard…semoga operasinya berhasil..kasihan dia.”

 

“Iya..”.

*          *        *

3 jam adalah sebuah waktu yang cukup panjang untuk sebuah penantian. Setelah 3 jam, operasi terhadap Reynald selesai, namun ia belum sadarkan diri.

 

“Mungkin tidak sampai 1 jam lagi dia sadar.”kata seorang dokter. Operasinya berjalan sukses, walaupun sebenarnya cederanya lumayan parah.”

 

“Memang dia cedera apa, dokter?”tanya ayahnya.

 

“Patah tangan kanan, kaki kanan, dan beberapa rusuk di bagian kanan. Mungkin mobilnya terbentur di bagian kanan.”

 

“Ya” kata ibu dari pemuda yang remuk itu. “Kata polisi yang mengabari saya, mobilnya memuntir ke kanan, menghantam pembatas pekerjaan jalan monorail, lalu tersungkur ke dalam lubang galian sebelum tertimpa alat bor.”

 

“Mobilnya tertimpa alat bor?!!”kata sang dokter tak percaya.”Untungnya dia tidak tewas.”

 

“Dia ga bakal mati semudah itu dokter. Kurang dramatis.”kata Richard dengan dingin.

 

Sang dokter mulai bertanya-tanya, apa gerangan yang meluputkan Reynald dari kematian. Tapi yang jelas, apa yang ia dengar barusan sulit dipercaya.

 

“Baiklah, nanti akan saya check-up lagi dalam beberapa jam.”kata dokter itu sambil terburu-buru menuju ruang kerjanya.

 

Keempat orang yang menunggui Reynald masuk ke dalam ruang perawatan tempat dimana Reynald sekarang berada. Reynald terbaring kaku dengan kaki ditumpangkan ke sebuah kain yang menggantung. Badannya dipenuhi perban, kecuali kepalanya yang hanya diplester di beberapa bagian. Tangan kanannya dibalut kencang.

 

“Gua gak berani lihat…”Cynthia merangkul tangan kiri Richard, berusaha mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang menyayat itu dan hanya memandang bahu Richard

 

“Tenang Cynthia, dia sudah bangun tuh.”kata Richard sambil menunjuk pada Reynald yang baru membuka matanya.

 

Reynald,dengan setengah sadar, berusaha bangun, namun gagal karena tubuhnya yang terluka dan diikat perban.

 

“Reynald!”seru Richard pada kakaknya yang baru bangun. “Lu kenapa bisa begini?”

 

“Perlu jawaban?”Reynald menjawab dengan lemah.

 

“Perlu…apa nanti aja?”

 

“Nanti saja.”kata Reynald yang langsung terkulai lemas, tampaknya ia masih belum kuat untuk bangun. Ia langsung berusaha tidur, namun ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi yang menunjukkan bahwa jiwanya telah hancur dan terinjak.

 

“Richard, kamu tolong tunggui dia ya. Papa sama mama ada urusan sebentar.”kata sang ayah yang terlihat sedikit lega karena anaknya sudah sadar.

 

“Eh? Tapi aku mau mengantar Cynthia pulang…”

 

“Gak apa-apa, Reynald. Rumah gua kan deket banget dari sini.” Cynthia menyela.

 

“Oke kalau gitu, papa cabut dulu ya. Sampai ketemu, Richard, Cynthia.”

 

Tinggalah mereka bertiga. Seorang adalah siswa SMU kelas 3  yang hatinya bercampur aduk antara bahagia dan sengsara, seorang lagi adalah siswi SMU kelas 2 yang bersuara emas, anggun, dan memukau, dan seorang lagi adalah kakak dari orang pertama yang sedang terluka parah.

 

“Mau cerita sekarang, Reynald?” Richard bertanya dengan halus pada kakaknya.

 

“Gua cerita juga percuma” Reynald mengeluh. “Semuanya udah terjadi.”

 

“Memang ada apa, Reynald?” Cynthia sekarang yang terlihat khawatir. “ Lu kenapa sampai bisa kaya gini?”

 

“Lu tahu tujuan Richard ke sekolah lu?”Reynald bertanya tanpa basa-basi.

 

“I…ya?”

 

“Itu pula tujuan gua. Bedanya, kali ini, gua yang harus ketiban sial.” Reynald mulai emosi.

 “Yah, terserah deh…”ia mulai menunjukkan raut muka orang sekarat. “Michelle..”

 

“Michelle kenapa?”Richard mulai tak sabar, ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

 

Dan Reynald menceritakan semuanya tanpa sensor dan tanpa ditutup-tutupi, mulai dari apa yang ia lihat dari sampai apa yang ia rasakan. Sebuah kisah pendek beberapa menit yang semuanya adalah penderitaan, sakit hati, kehancuran, yang dilebur menjadi satu dan berakibat seperti apa yang dihadapi Reynald sekarang.

 

Richard dan Cynthia seakan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang sekarang terbaring dan terluka itu, namun hal apapun yang terkesan tidak mungkin, jika sudah terjadi, maka hal itu benar-benar mungkin.

 

“Gua tahu…Michelle bukan apa-apanya gua, tapi..siapa yang gak sakit hati? Oke lah, Michelle juga bukan apa-apanya Erwin..tapi,yah, kalian putuskan sendiri mau mikir seperti apa.”Reynald menyambung pembicaraannya.

 

“Reynald..”Cynthia mencoba menenangkan orang yang sedang panik itu.”Kadang-kadang sesuatu gak terjadi seperti apa yang kita inginkan, tetapi lu harus percaya, segalanya bisa berubah. Lu gak bakal sadar kapan perubahan itu terjadi, tapi yang jelas, lu harus percaya.”

 

“Memang, tapi….”

 

Perkataan Reynald terpotong saat melihat seseorang yang  masuk ke dalam ruangannya.

Part XVI

•January 17, 2008 • Leave a Comment

Hari demi hari berlalu sejak Richard dan Reynald membuat sebuah rencana untuk Valentine. Setelah didesak oleh kedua orang tua mereka, akhirnya mereka mengakui bahwa mereka memang ingin memberi sesuatu untuk Valentine kali ini. Untunglah, kedua orang tua mereka dengan tanggap memberikan mereka alamat sebuah toko coklat langganan sang Ibu.

 

 

“Toko coklat ini memang masih baru, tapi bikinan mereka bagus dan harganya juga rasional. Bicara langsung sama yang punya toko, bilang aja mama yang minta. Nanti pasti dikasih potongan, entah berapa. Mungkin agak banyak, soalnya tiap Valentine, toko ini laku keras. Jadi ya, penjualan naik drastis.”kata sang Ibu.

 

 

“Bagaimana kita tahu yang mana pemiliknya?” Richard bertanya. “Apa dia bertanduk apa berhidung jumbo gitu?”

 

 

“Menjelang Valentine, dia pasti pakai kemeja warna merah, dan terus dipakai sampai Valentie berakhir. Gampang kan? Udah sekarang kamu kesana, pesan coklat yang spesial, pilih model yang bagus. Ini uangnya.”kata sang Ibu sambil memberikan beberapa lembar uang.

 

 

“Thanks mom.”kata kakak-beradik itu sambil berlari ke garasi dan tancap gas.

 

 

Ibu dari kakak-beradik yang unik itu hanya tersenyum melihat kedua anaknya yang penuh semangat. Puluhan tahun yang lalu, semangat yang sama juga terpancar dari suaminya. Mereka mulai pacaran kelas 3 SMA, tepatnya pada tanggal 14 Februari, dan menikah pada tanggal 14 Februari juga bertahun-tahun kemudian. Kebetulan yang aneh, kadang-kadang ia berpikir. Namun baginya, keanehan itu terasa membahagiakan.

.

.

—-

Kalender menunjukkan 13 Februari, dan 2 batang coklat sudah siap di kulkas. Coklat kali ini berbeda dengan coklat biasa. Keduanya berbentuk hati, dan di masing-masing coklat itu, tertulis nama Cynthia dan Michelle yang terbuat dari coklat putih. Keduanya terbungkus rapi dalam sebuah kotak plastik transparan yang diikat dengan pita pink. Dan ukurannya cukup besar, bisa dimakan berdua, atau jika lapar, dimakan sendiri.

 

 

“Jangan lupa ya, Samuel. Di kelas banyak banget yang pesan bunga dari elo.”Richard berbicara di telepon pada teman sekelasnya yang memiliki usaha jual-beli bunga (tidak hanya mobil Kijang yang bisa jual-beli) terbesar di Jakarta. Namanya Samuel Sellflora. Seperti namanya, ia ditakdirkan untuk menjual bunga ke orang-orang tidak beruntung yang menjadi korbannya.

 

 

“Heh, no problem. Punya lo yang mawar biru kan? Dua buket.”

 

 

“Yep.”

 

 

“Okay. See you tomorrow, and I expect the money.”

 

 

“Whatever deh, mata duitan luh.. bye”

 

 

Richard menutup telepon dengan perasaan yang berbunga-bunga. Demikian juga Reynald yang sedang menyelesaikan PR Kimia yang menumpuk bagaikan tumpukan jerami di pertanian. Rasanya analogi ini adalah yang paling pas.

 

 

Ingin rasanya malam ini berlalu dengan cepat, karena keesokan harinya, mereka akan mengadakan long march cinta.Tepatnya dengan 2 buah mobil.

 

 

“How do you feel right now? Senang?”Reynald bertanya pada adiknya.

 

 

“Senang sekali sehingga sulit sedih” Richard menjawab enteng.

 

 

“Baguslah. Tidur duluan saja, nanti kesiangan lho.”

 

 

“Okay, good night.”

 

 

Dan Richard pun menuju kamarnya untuk tidur. Ia tidak membuang-buang waktu untuk belajar, khusus malam ini. Seakan-akan besok ia harus tampil prima. Kembali, patung Darth Vader menghiasi malam ini dengan lightsabernya yang menyala.

 

 

Sambil berbaring di ranjangnya yang sudah mulai terlalu kecil untuk dirinya yang masih dalam taraf pertumbuhan (kata orang-orang), ia menatap langit-langit. Ia melihat stiker bintang-bintang berfosfor yang ditempel di langit-langit. Stiker-stiker itu tampak indah di malam hari, menenangkan hati siapapun yang tidur.

 

 

 

Semua orang pernah mendapatkan sebuah bintang dalam hidupnya, ia berpikir dalam hati.

 

Kapan bintangku akan tiba? Aku akan terus menunggu, dan mungkin, akan kuraih bintang itu. Langit akan kulompati dan bulan akan kuinjak demi menyentuh bintangku…

 

Dan ia tertidur, penuh kegelisahan, namun ada sedikit kegembiraan dalam hatinya.

 

 

Sekarang kita beralih ke kamar sebelah, dimana Reynald sudah bersiap-siap untuk tidur.

Ia mematikan lampu dan menyalakan radio, sekedar untuk menenangkan hatinya yang juga galau. Namun tidak seperti adiknya, ia lebih ke arah gembira daripada galau. Dan ia sulit tidur saking gembiranya.

 

Apa kabar bintangku? Ia bertanya dalam hatinya. Besok aku akan mengunjungimu, ke tempatmu berada, yaitu di langit. Aku akan melompatinya untuk mengantarkan sebuah tanda cinta. Dan yakinlah, aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Sampai kapanpun aku akan terus menunggu…

 

 

14 FEBRUARI

“Ini kan hari spesial nih? Bawa mobil masing-masing aja kan?” Richard bertanya pada kakaknya yang masih membereskan kemeja.

 

 

“Maksud lu..”

 

 

“Yep. Percuma dibeli kalau gak dipakai. Mendingan dijual lagi untuk beli SUV.”

 

Reynald yang sedang menghabiskan roti panggangnya bergegas menuju garasi. Di situ ada sebuah mobil yang sampai sekarang masih ditutup dengan covernya. Langsung saja ia buka penutup mobil itu.

 

Tampaklah sebuah mobil berwarna hitam, Jaguar S-Type yang masih mulus dan hanya sedikit berdebu.

 

“Agak sayang sih kalau pakai ini.”Reynald berkata pada adiknya.

 

“Terserah.”Richard menjawab.”Mau naik Jazz juga tidak masalah, mau naik skateboard pun, gua berani.”

 

“Tapi memang jarang dipakai sih, okelah. Daripada rusak dimakan debu. Bisa-bisa dicuri genderuwo”

 

“Reynald, genderuwo apa sih yang nyolong mobil? Dasar gila luh.”

 

“Jelmaan siapa kali, ga tau, mungkin genderuwonya udah adaptasi, udah cukuran kali.”

 

Akhirnya ia memutuskan untuk memakai mobil mewah itu. Ke sekolah.

 

Ketika ia menstarter mobil itu, ternyata tidak bisa jalan.

 

“Bad sign.” Reynald berkata dengan penuh makna kepada Richard. “Jumper.”

 

“Ya ampun..”Richard mengeluh. Ia lalu mengambil kabel jumper dari Land Crusiernya, lalu memasangnya pada aki Jaguar dan menyalakan SUVnya. Dengan segera, mesin mobil hitam itu menyala. Halus sekali bunyinya.

 

“Nanti jangan mogok lagi, bisa ditertawakan. Jaguar kok mogok.” Richard meledek kakaknya. “Ganti aja namanya jadi meong”

 

“Bacot. Sudah, ayo kita pergi.” Reynald menjawab dengan terburu-buru. “Tapi kok perasaan gua gak enak..”

 

“Bacot. Sudah, ayo kita pergi.” Richard membalas omongan kakaknya.

 

Kemudian mereka berangkat bersamaan, melewati jalan-jalan yang belum ramai dengan kecepatan normal, tidak ugal-ugalan seperti biasanya. Dan setelah sampai di sekolah, mereka dengan terburu-buru masuk ke kelas masing-masing.

 

“Kevin, Samuel ada?”Richard bertanya pada seseorang di dalam kelasnya yang sedang tidur.

 

“Si…atlit gagal itu..mana mungkin datang jam segini..hoahm. Udah mendingan lu tidur aja. Gua juga pesan bunga sama dia.” Kevin sang atlit voli itu menjawab dengan malas.

 

“Oh ya, good idea.” Richard merespon dengan sedikit perasaan galau. Ia khawatir, kalau-kalau Samuel tidak datang.

 

“Nanti ada pelajaran tambahan akuntansi.” Kevin mendadak nyeletuk sambil setengah mimpi. “Si brengsek itu mau merusak Valentine kita semua. Kalau tidak punya istri ya pelampiasannya jangan ke kita.”


”Memang sih, agak repot juga, soalnya jam pulang setiap sekolah kan hampir sama, sekitar setengah dua.”Richard menjawab celetukan Kevin dengan bete mampus.

 

Kenapa akuntansi demikian susah

 

“Itu dia. Ya sudah lah, apa mau dikata.” Kevin melanjutkan tidurnya.

Menit demi menit berlalu.

 

“Samuel! Dimana lo?!” Sebuah teriakan membangunkan Richard yang ikut tertidur di dalam kelas, menunggu bel masuk. Rupa-rupanya ia sudah tertidur 25 menit, dan isi kelas yang hanya 18 orang itu ternyata sudah ramai, hanya tinggal 4 orang yang belum datang, dan Samuel adalah salah satu dari mereka.


”David…”Richard berbicara lirih. “Dia belum datang juga..?”

 

“Lihat sendiri, apa dia sudah datang? Aduh, bisa rusak acara gua.”David menjawab dengan panik. “Lihat ini, boneka sapi akan lebih bagus kalau ada bunga nya, bukan begitu?”

 

Richard melihat boneka sapi yang dibawa David(hacker gila perusak database sekolah dan komputer kepsek). Boneka itu sangat, sangat lucu, namun Richard tahu bahwa Cynthia tidak suka boneka, karena itulah ia tidak mencari boneka apapun. Sapi itu berpita pink, sama seperti coklatnya yang disimpan dalam cooler box mini yang ia bawa ke dalam kelas.

 

Sementara itu di kelas Reynald, yaitu 3 IPA 3, suasana sudah sangat ramai, namun tidak ada yang membicarakan Valentine. Semuanya membahas PR, ulangan, dan rumus.

“Gak ngapa-ngapain hari ini?” Reynald bertanya pada seorang temannya yang bernama Mattheus.

 

“Gak, besok kita banyak ulangan, gak sempat kemana-mana nih. Tapi ya sudah lah, tuntutan hidup. Toh pacaran itu tidak penting” Mattheus menjawab dengan polos.

 

“Ow..”Reynald hanya bisa bergumam kecil. “Perasaan gua jadi orang tolol sendiri yang bawa cooler box berisi coklat.”

 

“Memang tolol sih.”Mattheus menjawab sedikit sinis.”Tapi tololnya kolektif kok, den

gan 5 orang lain di kelas ini, jadi lu gak sendiri. Ambil positifnya saja. Udah bikin PR Fisika? Nanti diperiksa lho.”

 

“Udah….”Reynald menjawab dengan sedih.

 

Kembali di kelas 3 IPS 1, suasana cinta sangat terasa di antara anak-anak yang dianggap buangan oleh beberapa guru matematika, namun mereka adalah batu penjuru masyarakat.

 

“Memang lebih bagus kalau sapi itu diberi bersama-sama bunga.” Richard menjawab omongan David mengenai boneka sapinya. “Kalau cuma itu, rasanya kurang.”

 

“Yeah.”jawab David. “Moga-moga orang itu cepat datang. Apa dia gak kasihan sama Handy yang sudah bawa kue sebesar bagong itu?”

 

Richard segera menengok ke meja Handy, dan ia melihat sebuah kotak BESAR dari sebuah toko ternama. Isinya ia tidak tahu, namun yang pasti, harganya mahal dan pasti pesanan khusus.

 

Lalu ia menoleh ke meja Brahma, teman sebangkunya, dan ia melihat boneka beruang yang bertuliskan : ‘ To my Valentine : I Love You’.

 

Kelas gua isinya orang gila semua. Sayangnya, gua secara resmi mengaku kalau gua juga gila..

 

Ia lalu menoleh ke meja Kevin yang tepat di belakangnya, dan ia melihat sebuah kantong plasik berisikan sesuatu, seperti patung.

 

“Apa isinya, Kevin?” Richard bertanya pada sang atlit voli.

 

“Ribuan figurin anime. Dari Pokemon, Bleach, Naruto, Kenshin, alah, kaga bisa dihitung deh. Cewek gua suka anime banget sih, jadi ya udah, gua kasih nih ribuan figurin anime biar dia speechless”

 

Richard cuma bisa bengong.

 

“Heran? Elu sih tidur kelamaan.”Kevin melanjutkan omongannya. “Hampir semua di kelas ini membawa sesuatu untuk Valentine, paling-paling yang enggak cuma si Harold Mubay di pojok dan Arnold si jomblo dari Puri Indah. Come on, feel the love. Liat di belakang kelas kita yang luas ini, apa aja yang ada disana? Pernak-pernik Valentine.”


Richard melihat ke bagian belakang kelas yang kosong (bangku-bangku hanya mengisi setengah kelas). Di sana sudah banyak sekali pernak-pernik yang ditaruh di sebuah meja yang tidak terpakai, mulai dari boneka lumba-lumba, coklat raksasa, hingga karangan bunga berbentuk hati yang berdiameter 50 centimeter. Tentu saja cincin dan perhiasan disimpan dalam tas masing-masing.

 

 

“Tapi yang penting,” Kevin melanjutkan kuliah cintanya. “Lu memberikan sesuatu hari ini dengan penuh cinta. Apa artinya barang mahal kalau tidak ada cinta? Tell me, lu ngasih apa?”

 

 

Dengan minder, Richard menjawab pelan.”Coklat, gak besar, ada namanya. Sama kayak punya kakak gua. Yah, emang rada bego sih, mungkin nanti juga plus bunga nya.”

 

 

“Nah yang seperti itu kan bagus.”jawab Kevin. “Gak usah beli raksasa, cukup sesuatu yang sedang-sedang aja. Omong-omong hadiah, mana Samuel?”

 

Kriiiing. Bel berbunyi.

 

“SETAN!! Kemana dia?!” Kevin mengamuk.

 

“Telat mungkin?” Richard mencoba menenangkan temannya.

 

“Dia datang mepet, tapi tidak pernah telat. Apa-apaan ini?”

 

“Sabar kali….”

 

 

Pelajaran pertama selesai, namun tidak ada tanda-tanda kemunculan Samuel. Bagaikan detektif kesiangan,Richard yang curiga langsung mengecek ke ruangan dimana anak-anak telat biasa dikumpulkan dan dihukum, dan benar saja, tidak ada seorang pun yang telat hari ini.

 

Ketakutan terbesarnya benar-benar terjadi.

 

oh tidak..

 

 

Richard berlari seperti dikejar singa ke kelasnya.

 

“Samuel nggak masuk!” Ia berteriak ke teman-teman sekelasnya. “Now what?!”

 

Tentu saja, sumpah serapah keluar dari mulut mereka, anak-anak 3 IPS 1, yang notabene adalah pangeran-pangeran cinta yang hari ini akan mengunjungi sang luna masing-masing.

 

“Mampus lu semua.”ejek Arnold. Seorang yang emosi langsung menghantamnya dengan botol minum, sementara yang lainnya mendorongnya dari kursi sampai terjatuh.

 

“Setan alas!”teriak Kevin. “Kenapa dia?! Berani-beraninya!”

 

Lalu seorang guru masuk dan memberikan kabar kurang enak.

 

“Teman-teman sekalian,”kata si guru.”Apa betul ini kelasnya Samuel Chen ?”

 

“Betul banget tuh pak, bajingan itu!”tukas seorang anak yang emosi.

 

“Jaga omongan kamu! Kamu tidak tahu, dia tadi pagi mengalami kecelakaan, ia dihantam bis yang sedang lewat ketika menyebrang jalan!” Guru itu berteriak keras. “Dan ia luka parah! Lalu kalian masih menghina dia. Bagus! Saya minta kalian menjenguk dia sesegera mungkin.”

 

 

3 IPS 1 menjadi sesunyi kuburan.

 

Someone explain this thing… Richard pun ikut diam dan lesu

 

 

** Waktu istirahat**

 

“Mana bunganya?” Reynald menghampiri adiknya yang sedang membeli minuman.

 

“Gak ada?” Richard menjawab dengan datar.

 

“Hahaha, jangan bercanda lu.” Reynald tertawa. “Nanti pulang sekolah gua ambil ya.”

 

“Serius, beneran gak ada.” Jawab Richard.

 

“Maksud lu…?”senyum Reynald langsung lenyap.

 

Richard mengajak kakaknya ke tempat yang sepi, dan menceritakan apa yang terjadi dengan Samuel. Reynald seakan tak percaya akan apa yang terjadi.

 

“Oh God….”Reynald langsung lemas. “That is a bad news.”

 

“Ember..”jawab Richard.

“Okay..so?”

“Masih ada kesempatan, di dekat sini kayaknya ada yang jual bunga bagus-bagus. Tapi tetap saja lu berangkat duluan kan? Yah kalau ketemu, kasih tahu gua, toh tambahan Akuntansi hari ini hanya setengah jam.”

“Beres” kata Reynald.

“Okay, good luck my brother.”Richard lalu melangkah pergi ke kelasnya.

 

**** BEL PULANG****

 

“Richard, gua duluan yah.” Reynald berkata pada adiknya sambil berlari ke halaman parkir sekolah mereka yang cukup sempit itu. Kolese Peter van Honn memang tidak pernah memikirkan untuk memperbesar lapangan parkir mereka.

“Oke dadah. Kasih kabar soal bunga yah. Good luck.” Richard berkata sambil melambaikan tangan.

Richard lalu masuk kelas 2 IPS 1 (yang memang hanya satu) untuk memulai pelajaran tambahan Akuntansi. Terlihat raut muka kurang senang dari teman-teman IPSnya, baik dari 3 IPS 1 maupun 3 IPS 2, karena acara Valentine mereka menjadi sedikit kacau.

“Baik anak-anak” kata sang guru Akuntansi. “Hari ini kita belajar mengenai piutang tak tertagih.”

Mimpi buruk IPS berlangsung selama 30 menit.

* * *

Reynald menyetir Jaguarnya dengan kencang namun hati-hati. Ia tidak ingin merusak mobilnya itu. Dengan keringat dingin namun penuh semangat, ia mengambil semua tikungan dengan penuh perhitungan, antara kecepatan dan mata. Sambil menjaga jarak antar kendaraan, ia pun melihat-lihat kalau-kalau ada yang menjual bunga.

Ketika ia sudah mendekati sekolah yang ditujunya –St. Lisieux-, ia melihat seorang penjual bunga di trotoar. Dagangannya sudah hampir habis, namun masih tersisa beberapa buah buket yang terlihat cantik.

Ini dia, pikir Reynald. Ia menepi dan memarkir mobilnya untuk melihat-lihat bunga yang dijual.

“Silakan bunganya.”kata si penjual. “Masih segar, lihat saja sendiri. Baru tadi pagi diambilnya.”

Reynald memeriksa bunga yang dijual itu. Asli, bukan sintetis.

“Ada mawar biru pak?” tanya Reynald.

“Oh ada, tapi agak mahal, soalnya langka” kata si penjual.”Rp. 100.000 satu buket.”

Untung mama memberi modal cukup untuk Valentine kali ini. “Beli 2 buket pak, tapi yang satu lagi tolong disimpan dulu, nanti adik saya datang pakai mobil Land Cruiser, platnya B 2212 CA, jangan lupa ya.”kata Reynald sembari mengeluarkan uang pas.

Setelah mengambil bunganya, Reynald mengirim sms kepada Richard tentang lokasi penjual bunga, lalu melanjutkan perjalanan menuju St. Lisieux.

Macet. St Lisieux dipenuhi mobil-mobil yang akan masuk ke dalam. Terlihat pula beberapa anak dari sekolah lain berdatangan ke sekolah elit itu, ada yang membawa bunga, coklat, maupun keduanya. Hanya saja, mereka tidak memakai cooler box.

Reynald ,dengan sangat sabar namun senewen, menunggu antrian masuk , namun karena menyadari bahwa tidak mungkin ada tempat di dalam, ia menepi ke kiri di samping trotoar dan memarkirkan mobilnya. Ia lalu menyeberang jalan dengan mudah (karena jalanan macet, tidak ada mobil yang bisa jalan.)

Langkah demi langkah dilewati olehnya, dan ketika itu juga, ia melihat sebuah mobil yang ia kenal di kejauhan.

Mercy S-Class berplat B 4444 XX.

Pikiran-pikiran yang merusak mood mulai berkecamuk di otaknya, namun segera ia singkirkan.

Ia berjalan dengan hati-hati, sangat hati-hati, sambil membawa coklat yang sudah dikeluarkan dari cooler box dan sebuket mawar biru yang indah.

Lalu, ia berhenti berjalan.

Di gerbang masuk gedung sekolah, di dekat penjual majalah, di bawah kanopi yang teduh, Erwin sedang memberikan bunga dan coklat kepada Michelle.

Bunga dan coklat kepada Michelle.

Kepada Michelle.

Michelle.

Reynald memperhatikan dari jauh, nafasnya sudah panas dan tenggorokannya mulai kering, namun ia tetap memperhatikan dari jauh, kalau-kalau Erwin menyudahi pemandangan yang membuat mata Reynald gatal.

Namun Erwin tidak kunjung pergi, ia tetap berada di situ. Sementara itu, ekspresi wajah Michelle terlihat sangat gembira.

Lalu Michelle memeluk Erwin.

Dan mencium pipi kirinya.

Erwin lalu mencium dahi Michelle dengan lembut, lalu menggandeng tangannya dan berjalan menuju Mercy S-Class miliknya. Michelle masuk ke dalam mobil mewah itu, setelah itu ia lenyap dari pandangan bersama dengan hilangnya mobil milik Erwin.

Tinggallah Reynald berdiri diam. Di lapangan parkir St. Lisieux yang penuh. Sambil memegang bunga dan coklat.

Ia tidak sanggup berkata-kata. Ia tidak mau berkata-kata. Ia benci berkata-kata. Matanya berkunang-kunang seperti kehabisan darah.Tenggorokannya sekarang benar benar kering, seret, dan sakit, seperti hatinya.

Perasaannya ditusuk dan diburai oleh pemandangan romantis tadi. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk meraih bintangnya.

Hari ini bintangku diambil daripadaku. Itulah yang ia pikirkan.

Reynald berlari keluar dari lapangan parkir, penuh dengan rasa malu, sakit, dan kematian. Ia membanting bunga dan coklatnya ke tanah, dan menginjaknya. Ia masuk ke mobil dan membanting pintu.

Ia menghantamkan kepalanya ke stir hingga lecet dan sedikit meneteskan darah. Nafasnya sudah sesak, ia ingin menangis, tetapi ia tidak punya kekuatan untuk menangis. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar lagi. Ia lalu menyetel radio, dan tancap gas. Ia tidak peduli mau kemana. Ia ingin lari, lari dari kenyataan ini. Dengan kecepatan tinggi dan darah menetes, ia mengambil tikungan tanpa mengerem dan terus melaju.

Bunga dan coklatnya terlindas.

20 menit kemudian, sebuah Land Cruiser mengambil tempat parkir kosong itu, yang anehnya, tidak ditempati siapa-siapa dalam waktu 20 menit. Pintu dibuka, dan keluarlah Richard dengan mawar biru dan coklat. Ia lalu menyebrang jalan dan masuk ke dalam gedung sekolah St. Lisieux.

“Kenapa tidak ada seorang pun yang aku kenal disini?” Richard berpikir keras. “Apa mereka sudah pulang semua?”

Ketika Richard masuk , seluruh teman-teman orkestranya yang bersekolah di St. Lisieux sudah berdiri dalam 2 baris di sisi kiri dan kanan lorong sekolah layaknya penyambut tamu di pernikahan. Mereka semua diam dan tidak bicara sepatah kata pun walaupun ditanya.

Dengan keheranan, Richard berjalan diantara 2 barisan itu.

Mendadak, dari salah satu ruang kelas, Cynthia keluar sambil setengah didorong-dorong oleh beberapa temannya, namun ia tidak menunjukkan raut muka cemberut atau ketidaksukaan. Ia berdiri tepat di tengah-tengah barisan.

Rupa-rupanya sudah ada panitia penyambutan di sini, entah siapa yang merencanakan, tetapi Richard sangat berhutang budi padanya.

Richard pun terdiam, entah malu, entah senang, entah kaget, tapi ia kembali berjalan. Langkah-langkah penuh makna diambilnya, sentimeter demi sentimeter dilalui, ia berjalan menghampiri Cynthia.

Lalu jarak aman sudah habis. Sekarang mereka saling bertatapan, saling berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat untuk membuat suasana menjadi sedikit romantis.

Richard merasakan ada sesuatu yang menghalangi suaranya, namun ia dengan segenap kekuatannya, bisa mengeluarkan sedikit suara untuk mengucapkan sesuatu, sesuatu yang sekiranya bisa membuka perasaannya walaupun hanya sedikit.

“Cynthia..” Richard membuka pembicaraan. Ingin sekali ia menumpahkan seluruh isi hatinya, namun sekarang belum saatnya. Belum saatnya hal ini dibicarakan. Belum ada momen yang tepat untuk ini, namun sekarang, ia mempunyai hal lain yang ingin dibicarakan.

“..Happy Valentine.” Richard mengakhiri kalimatnya, dan menyerahkan bunga dan coklatnya kepada Cynthia. Keringat dingin mengucur. Layaknya seseorang yang akan dihukum mati, ia merasa sedikit ketakutan, gemetar, dan seperti drug addict yang sakaw.

Tapi semua itu sirna ketika Cynthia mengambil pemberian Richard.

“Thanks yah. You’re so kind.” Cynthia membalas dengan sebuah senyum yang manis, yang meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Senyum seseorang memang bisa memiliki banyak arti, senyum seseorang bisa memiliki tujuan tertentu. Namun kali ini, senyum yang diberikan Cynthia adalah senyum yang tulus dari hati.Tidak pernah Richard melihat sebuah senyuman tulus diberikan pada dirinya. Baru kali ini, untuk seumur hidupnya, seseorang tersenyum dengan tulus padanya.

Tepuk tangan menggemuruh dan siulan genit dilemparkan pada kedua orang itu. Dengan tampang malu-malu, mereka tersenyum pada orang-orang yang menyambut mereka.

“So Cynthia…”Richard melanjutkan pembicaraannya. “How about if we go somewhere? Just to hang out for today..?”

“Sure”jawab Cynthia. “Tapi tunggu sebentar yah, gua mau beresin kerjaan dulu. Ganti baju dulu saja, masa pakai seragam sekolah.”

“Oke, no problem.”jawab Richard.

* * *

Reynald menyetir mobilnya dengan kencang, dan ia sekarang berada di jalan HOS Cokroaminoto.

“Selamat siang kawula muda. Request lagu dari saudara Arman akan kita mainkan. Ini dia Kerispatih dengan Kejujuran Hati!”

Reynald naik darah mendengar lagu itu.

Sesungguhnya, ku tak rela, jika kau tetap bersama dirinya…” demikian lirik lagu itu.

 

Terkutuk buat siapa pun yang request lagu ini di saat gua lagi gila!

 

 

Reynald segera mematikan radionya dan melaju terus menuju H.R. Rasuna Said. Dan pada saat itu juga, handphonenya berbunyi.Dari Richard. Ia langsung mematikan HP nya dan terus melaju.

Richard menelepon lagi. Kali ini Reynald benar-benar sebal dan ia merejectnya sekali lagi, lalu melempar handphonenya ke jok belakang.

* * *

“Berangkat sekarang yuk. Tugas gua udah selesai. Richard?” Cynthia berkata pada Richard yang masih bingung melihat layar handphonenya.

“Telepon gua di-reject sama Reynald dua kali. Lu liat Reynald gak?” Richard bertanya pada Cynthia.

“Nggak tuh. Memang dia datang?.”

“Hah? Serius?”

“Aduh, beneran. Ngapain juga gua bohong?”

“Oh oke. Ya udah, yuk berangkat.”

Richard dalam hatinya khawatir akan Reynald. Instingnya mulai bekerja, dan perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Richard dan Cynthia masuk ke dalam Land Cruiser, dan berangkat menuju suatu tempat yang hanya Richard yang tahu.

30 menit kemudian..

Richard masih menyetir dan bercanda dengan Cynthia. Mendadak sebuah telepon masuk ke handphone Richard.

“Sini, biar gua nyalakan loudspeaker.”kata Cynthia sambil menyalakan loudspeaker Nokia 6600 milik Richard.

“Thanks. Halo?”

“Halo.”suara itu menjawab.

“Papa ya? Kenapa?” tanya Richard.

“Reynald kecelakaan di Kuningan.”

The Untitled Love Story Part XV

•December 11, 2007 • Leave a Comment

Malam semakin larut, namun Erwin dan Michelle tidak tampak semakin mengantuk. Obrolan yang diselingi dengan jurus-jurus memikat membuat keduanya semakin asyik berbicara.

 

“Ah Michelle jahat nih. Kasih tahu donk siapa yang Michelle suka.” Erwin menggoda Michelle.

 

“Mau tauuu aja, hehehe. Udah lah gak usah dipikirin siapa yang gua suka. Emangnya penting banget yah?” Michelle menggoda Erwin.

 

“Penting dong”. Senyum Erwin semakin lebar dan memikat, sekarang ia bisa menyaingi Ferdie dalam tersenyum. ‘Kan ada seseorang yang mikirin Michelle juga.”

 

“Oh ya, maksud Erwin, selain Reynald?”

 

“Iya, masa yang suka sama Michelle cuma Reynald? Pasti banyak lah!”

 

Pipi Michelle memerah mendengar gombalan itu, tapi bagaimanapun juga ia termakan oleh kata-kata manis dari Erwin.

 

“Siapa? Kasih tau donk! Please!” Michelle memohon-mohon pada Erwin.

 

“Eh gak bisa, kasih tau dulu siapa yang Michelle suka” Erwin mengejek Michelle.

 

“Yah kok jadi barter sih, cuma pengen tahu aja.”

 

“Nanti juga tahu sendiri.” Erwin berkata dengan intonasi yang berbeda, kali ini dengan intonasi penuh cinta.

***

20 menit berlalu sudah sejak aksi perampokan itu berlangsung. Tidak ada perampok yang selamat dari tangan korbannya. Kalimat ini memang membingungkan, namun itulah kenyataannya.

Richard dan Reynald, dibekali dengan kemampuan bela diri mereka, berhasil menghabisi orang-orang yang telah mendobrak rumah mereka itu. Walaupun demikian, Richard dan Reynald sedikit terluka di sana-sini dan memar di wajah.

“Richard, telpon polisi di deket sini… malas gua ngurusinnya.” Reynald memerintahkan Richard dengan santai dan tanpa intonasi.

“Yang bener aja kali!” Richard spontan berteriak. “Kita baru bunuh orang, tahu? Oke, ini bukan perampok pertama, tapi masa elo mau lepas tangan begini?”

“Gua bunuh orang, elo bunuh orang, dua-duanya mati. Ga ada bedanya kalau gua yang ngurus. Gua capek, mau tidur…lagipula kayaknya emosi gua mendapatkan pelampiasan yang tepat..”

Reynald melangkah dengan lemas ke kamarnya sebelum Richard menarik bahunya.

“Ayolah…”

Dengan enggan, Reynald membersihkan kerusakan yang ada sementara Richard menelepon polisi terdekat. Polisi yang ditelepon tidak menyangka bahwa mereka betul-betul membunuh perampok yang masuk sampai mereka tiba di rumah itu 20 menit kemudian.

Dengan dua mobil patroli yang masih baru, empat orang polisi dan satu komandan tiba di rumah yang mewah itu. Komandan itu mengetuk pintu dan Richard membukanya.

“Bapak Richard ya? Saya John Tembak, panggil saya John, komandan polisi di daerah ini. Jadi katanya bapak menangkap perampok yang masuk ke rumah bapak? “

Richard masih terpana dengan nama itu sebelum menceritakan apa yang terjadi.

“Jadi pak Tembak,eh maaf, pak John , urusannya bagaimana? Saya membela diri lho.”

Komandan John Tembak berpikir sejenak.

“Ya sudah, mereka tampaknya memang perampok ahli yang beraksi di perumahan ini. Kami akan membawa mereka ke rumah sakit untuk diperiksa. Kalau ada waktu, besok bisa beri keterangan di kantor?”

“Waktu sih ada pak, tenang saja.” Yang ga ada tuh niat, monyong…

“Bagus-bagus. Ya sudah, kami akan lakukan tugas kami”.

Komandan John Tembak memerintahkan anak buahnya membereskan mayat-mayat itu dan membungkus mereka dengan body bag beserta senjata yang mereka bawa.

Reynald membuatkan kopi kental bagi si Komandan polisi sambil mempersilakannya untuk duduk. Ia menceritakan kembali apa yang terjadi sebenarnya di rumah itu.

30 menit, dan semua urusan selesai. Uang sedikit berperan, namun bagi Reynald, yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan untuk tidur. Mereka mandi lagi, dan Richard menemani Reynald tidur di kamarnya karena ia tahu kakaknya masih kesal terhadap Erwin.

Sudah saatnya gua mencoba kasur empuk si Reynald yang diumpetin di kolong ranjang…

Mereka berusaha tidur ketika ada bunyi lagi di bawah.

“Duh, apa lagi sih…”Reynald menggerutu.

“Anak-anak!” suara terdengar dari bawah.

“Itu papa sama mama! Reynald, turun bentar yuk” Richard mengajak kakaknya turun.

Mereka berdua turun bersamaan ke lantai bawah untuk menyambut orang tuanya yang sudah pergi untuk beberapa waktu lamanya. Dengan mata setengah tertutup, Reynald menyambut orangtuanya.

“Sori kami pulang kemalaman hari ini, jadi ganggu kalian. ” sang Ibu berkata kepada anak-anaknya. “Habis ada kejadian lagi ya? Makanya, mama udah pesan kalian supaya pasang teralis besi yang kuat di tiap jendela. Gak pernah nurut sih. Tapi udah selesai kan?”

“Udah ma. Iya deh, besok kita urus..” Richard menjawab dengan lemas. “Papa mana?”

“Lagi ke tetangga, ngasih oleh-oleh. Udah, kalian tidur aja”.

Kakak beradik itu naik kembali ke kamar Reynald, lalu mengunci pintu dan mematikan lampu. Sambil menerawang jauh ke langit-langit, dan ditemani sebuah senyum kecil, Reynald berkata pelan pada adiknya.

“Richard… kayaknya gua punya ide yang sekiranya bagus buat kita. Atau setidaknya, buat kita dan yang kita cintai.” Reynald menjawab. “Sebenarnya, gua lagi murung karena mikirin mau ngasih apa, dan gimana buktiin ke Michelle kalau gua lah yang mencintai dia secara tulus, bukan pelarian kayak si Erwin.”

Richard melonjak kegirangan melihat kakaknya yang mulai berubah pikiran. “Nah gitu dong! Gimana ide elo?”

“Bulan depan kan Februari.”

“Terus?”

“Itu lho! 14 Februari!”

“Oh… hari jual coklat dan mawar palsu sedunia? Kenapa memangnya?”

Reynald seakan tidak percaya dengan kebodohan adiknya.

“Goblok. Itu Valentine’s Day,setidaknya kita memberikan sesuatu bagi orang yang kita sayang. Gak heran orang-orang bilang elo ga romantis!”

“Iya…terus?”

“Why don’t we give something to them? I mean, sesuatu yang bisa..yah…meramaikan Valentine ini.” Reynald mencoba meyakinkan adiknya.

Richard yang tadi berseri-seri mendadak menjadi murung, lalu kembali merebahkan dirinya di kasur tambahan.

“Bahkan gua sendiri pun enggak tahu mau ngasih apa buat Cynthia…” Richard menjawab sedih. “Yang pasti bukan coklat, kan? Katanya itu cowok yang dapat.”

“Tepatnya : bunga dan coklat!”

“Haha, elo berharap psikopat kaya gua bawa-bawa bunga? Gimana reaksi Cynthia nanti? Bisa diketawain gua!”

Reynald malah mentertawakan adiknya. “Heh, sekarang gua mau nanya. Lu sendiri mau nggak sih memberi sesuatu di Valentine ini? I mean, 17 years of your life and you have spared none of them for love. Gua tahu, lu pasti bingung harus gimana, beli bunga apa yang romantis, dan sebagainya. Tapi semua itu bisa diatur kalau tahu caranya. Nih, denger yah, menurut 2 buku yang baru gua beli..”

Reynald mengeluarkan 2 buah buku kecil tentang bagaimana memikat hati wanita. Ia membalik salah satu buku dan membuka halaman 139

“Nah! Menurut yang ini, sebaiknya kita ngasih bunga nggak sembunyi-sembunyi, tapi langsung secara jantan. Mungkin sedikit malu-maluin, mengingat sifat lu yang jaim itu, tapi ini perlu, Richard. Demi elo juga.” Reynald bicara panjang lebar atas bawah kiri kanan.

“Gua gak bilang kalau gua gak mau ngasih sesuatu.” Richard menegaskan pikirannya pada kakaknya. “ Yang gua bingung, keadaan pada saat kita ngasihnya.”

 

“Habis mau bagaimana? Ya hajar aja lah, disitu letak serunya!”

 

“O..kay.”

* * *

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.59 PM.

“Dadah Michelle.”sahut Erwin sambil melaju dengan mobilnya

 

“Dadah, hati-hati di jalan ya.” Michelle melambai kepada Erwin, lalu ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.

 

“Siapa sih sampai malam begini? Teman kamu yang biasa nelpon itu?”ibunya Michelle mendadak muncul dari dalam kamar.

 

“Bukan, lain lagi. Dari orkestra juga sih.” Jawab Michelle dengan acuh.

 

“Ah, dasar keseringan cari cowok. Udah sana, tidur. Besok harus ke gereja. Jam enam bangun ya.”

 

“Yaaaa…” Michelle menjawab dengan sangat, sangat malas. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi, menggosok gigi, lalu ke kamarnya dan langsung berbaring seperti karung beras yang dilempar.

 

Sambil memeluk guling kesayangannya, Michelle terdiam, memikirkan sesuatu, tentang cinta, realita, dan kebohongan.

 

Kenapa sih aku ini, dan mengapa semua ini terjadi?

 

 

 

 

 

 

I Ask

•November 10, 2007 • Leave a Comment

Do you think I am talented? Honest =p

The Untitled Love Story Part XIV

•November 10, 2007 • Leave a Comment

 

Tiga minggu sejak tahun baru yang meriah itu.

Richard dan Reynald mendapat kabar bahwa kedua orang tua mereka akan pulang bulan depan. Ini berarti kebebasan akan hilang 70% dibandingkan sekarang.

 Sambil menikmati makan malam yang ringkas dan sedikit di dalam sebuah rumah besar yang seluruh lampunya sudah dimatikan kecuali lampu ruang makan itu, Reynald memasang tatapan sinis pada adiknya.

“Huh”. Reynald mengeluh. “Kenapa sih?” Richard bertanya pada kakaknya. “Sudah 3 minggu terakhir ini sikap elo gak jelas banget, apalagi sama gua. Kadang sinis kadang senyum-senyum sendiri?”

“Hahaha, gak kenapa-napa Richard. Gua jadi senang aja melihat elo akhir-akhir ini. Kayaknya tahun baru ini bener-bener berkesan buat lu”

 Richard terdiam sebentar mendengar perkataan kakaknya itu. Tersirat di benaknya apa yang terjadi di malam tahun baru kemarin, sebuah kisah baru dalam hidupnya, api cinta yang redup dalam dirinya disulut kembali. Bahasa mudahnya, ia kembali bersemangat untuk kembali ke semangatnya yang dulu. Ia lalu menenggak air putih untuk menghilangkan kegugupan yang mendadak terjadi.

“Yah,”Richard menjawab kakaknya. “Memang bener sih. Gua juga..jujur aja, kaget”.

“Hey, cuma itu respon lu?”

“Abis lu berharap gw merespon apaan? Tahu sendiri gua waktu itu juga…yah…antara senang, tapi takut juga.”

Reynald lalu memasang muka kecut. “Ampun Richard!” Ia menegur adiknya.”Lu sampai takut? Listen up, when a woman trusts herself  to a man, it is a sign of a good thing. Bersyukurlah elo!”

Mungkin aja. Gua gak berani ambil kesimpulan apa-apa.”Richard menjawab dengan hati-hati.

“Boleh tau kenapa?”

“Lu pasti udah tau, kalau seseorang berharap terlalu banyak, ia akan jatuh dengan sendirinya.”Richard menjawab dengan datar.

 “Terserah apa kata lu deh.” Reynald berkata dengan malas-malasan.”Tapi gak ada salahnya bermimpi. Kita berdua itu sama, Richie. Dari dulu sampai sekarang, kita cuma bisa bahagia dalam mimpi.”

 Richard terdiam, kata-kata kakaknya memang benar. Dari dulu hingga sekarang, kebahagiaan sesungguhnya ada pada mimpi mereka, sesuatu yang tidak pernah nyata.

“Tapi,”Reynald melanjutkan.”suatu saat nanti, pasti, salah satu dari kita akan bahagia. Entah kenapa, tapi firasat gua mengatakan, cuma ada satu.” “Firasat lu gak pernah salah.”Richard menyela.”Walaupun sebenarnya gua berharap, kita berdua bisa bahagia sama-sama.” *             *             *

“Eh Erwin, ayo masuk.”Michelle berkata Erwin yang sedang berada di depan pintu rumahnya.

Rumah Michelle yang terletak di Pluit memang agak sulit dijangkau oleh Erwin. Namun, hari ini tampaknya cukup spesial baginya sehingga ia rela boros bensin dan tenaga.

“Thanks yah. Gak usah repot-repot, cuma mau mampir aja kok.” jawab Erwin dengan ramah.

Mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu. Rumah Michelle yang lumayan besar dan furnitur yang tersusun rapi membuat siapapun yang berkunjung ke rumahnya merasa sangat rileks.

Ada apa nih.”Michelle memulai pembicaraan.”Kok tumben datang ke rumah gua? Sore-sore lagi”

“Oh gak ada apa-apa, cuma mau ngobrol aja, gua lagi bener-bener bosen di rumah. Adik gua juga lagi sibuk, banyak tugas.”

“Tetangga? Tuh kakak adik aneh di seberang rumah lu…kan bisa diajak gila bareng. Lu berdua biasa kebut-kebutan kan di jalan gede di luar kompleks?”

“Iya sih,”Erwin menjawab dengan kecut.”Tapi mobil gua lagi dipake sama keluarga semua.”  

“Komputer?”

“Rusak.”

“Wah, kasian juga yah lu. Mau gua temenin bentar? Hahaha! Bentar yah, gua ambil minum dulu”

Michelle mengeluarkan jurus godaan nomor #5 : Buat laki-laki merasa dihargai oleh si cewek untung memicu rasa GR

“Oke, thanks yah.”

Erwin mengeluarkan senyum memikat nomor #2 : Tersenyumlah dengan manis biar si cewek merasa dihargai Dan, untuk sekedar informasi, hari ini ada seseorang yang sedang menebar cinta.

 *            *           *

“…dan mungkin progressnya akan makan waktu beberapa bulan, tapi setiap perjuangan pasti ada hasilnya.”Reynald masih meneruskan kuliah cintanya.

“Ya, iya, whatever.”Richard mulai terlihat bosan dan mengantuk dengan perkataan kakaknya.

“Heh, dengerin dong. Mau ngebujang seumur hidup?”Reynald berusaha membangunkan adiknya.

 “Ya enggak lah!”Richard menjadi segar kembali setelah mendengar perkataan kakaknya.” “Kalau enggak mau, dengerin!”

Iya, iya, tapi elo udah ngomong berjam-jam. Gak kasihan sama kuping gua ya?”

“Gak lah. Karena cinta itu lebih berharga dari kuping lu.”Reynald melantunkan satu lagi lelucon  garing.

“Yah, mulai kan. Udah deh, mendingan sekarang lu dengerin gua. Gantian kuping lu yang gua bunuh.”

“Go ahead, hehehe.”

 “Oke.”Richard menarik nafas panjang sebelum memulai perkataannya.”Semua yang lu bicarakan itu benar adanya, tapi gua selalu punya sesuatu hal yang mengganjal dalam diri gua.”

 “Apa itu?”

“Terkadang, seseorang yang kita cintai adalah seseorang yang justru paling tidak ingin bertemu kita.”

Richard membawakan pendapatnya dengan sedih.”

Udah dua minggu, tapi dia jarang ngasih kabar yang begitu berarti. Kita juga belum tahu kapan latihan orkes lagi. Selalu begitu, kalau sudah agak mepet baru latihan. Padahal, momen latihan itu sendiri bener-bener berharga, either for you or for me.”

“Well,”Reynald menjawab adiknya.”lu bisa sms kek, telepon kek, telepati kek….all roads lead to Rome.”

“But you can get lost on your way to Jerusalem.”Richard membalas sinis.

“Oh…”Reynald terlihat mengerti dengan perkataan adiknya.”Gak dibalas?”

“Enggak. Mungkin lupa, atau lagi nerima banyak.” Mereka sedang berbicara mengenai SMS. Apa korelasinya dengan cinta, silakan dipikirkan sendiri.

“Gak mungkin begitu lah, kalau begitu buat apa dia ngajak pergi tahun baru kemarin. Elo sendiri memang kadang-kadang gak logis juga yah…

Reynald semakin heran dengan otak adiknya. “Gak usah pakai logika dulu kalau bicara cinta.”

Richard menjawab.”Apa aja bisa terjadi, bahkan mungkin sesuatu yang tidak kita sangka sekalipun.”

“Yeah, well, whatever.”Giliran Reynald yang bosan.

”Elo memang rendah hati, tapi kalau kerendahan hati malah bikin elo keracunan, mendingan gak usah”

Mendadak terdengar suara ‘krak’ dari lantai 2.

 “Tuh kan”Reynald mendadak berbicara.”Rendah hati bisa bikin patah hati.”

“Bukan..” kata Richard dengan ekspresi yang mendadak berubah. ”Itu dari atas”

Dengan sigap kedua saudara itu naik ke lantai 2 dengan diam-diam dan dengan sangat hati-hati. Richard melihat sebuah belati yang digunakan untuk hiasan dinding yang baru dibeli bulan lalu. Masih tajam. Ia mengambilnya dan memegangnya erat-erat, untuk jaga-jaga. Dengan sangat hati-hati, Reynald memimpin barisan sambil merangkak di tangga, agar langkahnya tidak terdengar oleh siapapun, atau apapun yang sekiranya mendobrak masuk. Dan seperti yang ia sangka, ia melihat 4 orang berbaju hitam sedang mencari sesuatu di pojok lantai dua rumahnya yang luas. Pakaian mereka hitam-hitam, muka ditutup kain seperti ninja, seorang membawa linggis dan celurit. 3 orang dari mereka terlihat membawa  samurai.

“Duh, pake senjata pula lagi. Yakin nih?” Reynald berbisik sangat perlahan kepada adiknya.

 “Gak lah! Elo kira belati bisa apa?” Richard menjawab dengan setengah panik. “Berarti harus ke kamar elo dong, kita harus buru-buru. Reynald memberi solusi yang paling masuk akal.

“Asalkan kita sampai kamar, mereka tamat.”Richard tersenyum, sekarang dengan senyum dan tatapan yang lain dari biasanya. Sekarang ia terlihat seperti orang lain.

“Eh, beneran nih?”Reynald bertanya.

Ayolah, kapan lagi sih? Udah lama kita ga senang-senang kaya gini!”

Dengan gerakan secepat kilat, mereka menerobos masuk ke dalam kamar mereka dan menutup pintu.Tentunya keempat maling itu langsung sadar akan apa yang terjadi barusan.

Bukannya kabur, mereka malah mendekati kamar yang baru terbuka itu. Tentunya mereka tidak akan membiarkan ada gangguan dalam merampok rumah mewah itu, dengan segala hiasan indah nan memikat yang benar-benar menunjukkan bahwa kedua remaja itu berasal dari keluarga kaya. Belum sempat mereka menuju kamar itu, Richard dan Reynald menerobos keluar dengan menendang pintu kamar itu hingga keempat perampok itu tersungkur. Di tangan mereka adalah 2 bilah samurai..

 *        *        *

“…terus ya gitu deh, kacau banget pokoknya kalau si Reynald udah SMS, kayaknya dia memang kebanyakan baca novel-novel romantis, ketauan banget, soalnya gua kan suka baca juga. Baru tahu lho kalau dia suka baca kaya begitu.”

“Haha, dasar Reynald.”Erwin tertawa kecil.”Tapi Reynald memang kayak gitu. Banyak sekali hal yang bisa mempengaruhi dia, dari yang kecil sampai yang besar.”

 “Yah, memang enak sih ada seseorang yang memperhatikan gue, tapi yah, gimana yah..”Michelle tampak tidak enak membicarakannya.

Banyak hal yang lu gak suka dari dia?”Erwin bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

 “Gak juga, dia baik banget. Dia tipe orang yang gua suka dan cocok buat jadi cowok gua, tapi gua gak boleh bohong sama diri gua sendiri, kalau ada orang lain yang  gua juga suka. Yah, setidaknya baru-baru ini sih.”

 “Oh, siapa tuh?”Erwin semakin penasaran.”Anak orkes kah? Atau seseorang di sekolah lu? Setau gua, lu itu termasuk orang yang lumayan selektif.”

“Gak jauh-jauh dari gua kok”. Michelle menjawab dengan senyum manis. …..Jurus memancing nomor #10… Berikanlah tanda-tanda yang absurd pada seorang cowok

*        *        *

“Selamat malam,..”Richard membuka pembicaraan. “Tiga kesalahan yang telah kalian lakukan di sini.” Richard mengacungkan jempolnya. “Pertama, kalian mau mengambil barang-barang yang bukan milik kalian.”Ia melipat jempolnya dan mengangkat telunjuk. “Kedua, kalian sudah mengganggu kita berdua yang sedang membicarakan cinta. Saya, selaku pemilik rumah, merasa terganggu. Apalagi saya sedang ada masalah cinta..” Ia melipat telunjuknya, dan mengacungkan jari berikutnya.”Ketiga, kalian pikir kami ini lemah ya?”

Salah seorang dari mereka, yang membawa celurit, tanpa dikomando lagi langsung menyerbu ke arah kedua saudara itu sambil mengayunkan senjatanya. Richard menendang orang itu hingga terpental ke tangga dan terguling hingga ke bawah.

Richard lalu mengayunkan senjatanya dengan cepat ke perampok yang satu lagi dan menebas tepat di lehernya. Dalam sepersekian detik, darah menyembur ke arah muka Richard dan orang itu jatuh tak bernyawa. Mendadak, orang yang terguling di tangga kembali bangkit dan menyerbu Richard, sementara dua orang yang lainnya menyerbu Reynald yang belum siap dan bertahan sebisanya.

“Reynald! Elo ngapain!” Richard berteriak panik melihat kakaknya menghadapi dua orang sekaligus.

“Gak bisa….dicabut…” jawab Reynald dengan terengah-engah ketika dua orang perampok yang mengincarnya mengayunkan senjata mereka dari arah yang berlawanan.

The Untitled Love Story Part XIII

•November 5, 2007 • Leave a Comment

31 Desember telah tiba. Sesuai rencana, mereka memang akan menonton sebuah film silat, dengan lokasi : MKG.

Richard pergi bersama kakaknya, Helena dan Michelle, sedangkan Cynthia sudah pergi duluan ke sana karena kakaknya juga perlu pergi ke situ. Tidak seperti biasanya, Richard yang matanya agak kacau jika hari sudah malam itu(alias rabun ayam) nekat menyetir sendiri Jazz hitamnya yang sering dipakai kakaknya balapan di dekat Plaza Senayan itu.

“Heh, orang aneh, udah siap belom lo? Hahahaha!” Michelle mengejek Richard.

“Pertanyaan bagus, non.” Richard menjawab. “Hari ini gak ada persiapan mental apapun. Pokoknya gua hari ini modal nekat aja. Lagipula, gua mau coba sedikit lebih waras. Sekali ini saja.”

“Wah, kayak lagunya Glenn Fredly.” Jawab Reynald. “Tenang aja, kita berdua nggak bakal ganggu lu berdua kok. Beneran deh, sumpah dua jari. Tiga deh”

“Sekarang bukan masalah diganggu atau enggak. Masalahnya cuma bagaimana kita melewati malam tahun baru ini. Biasa saja atau menyenangkan, cuma itu kan pilihannya?”

“Oh, pertanyaan retoris lagi dari Profesor Richard!”ejek Reynald. “Tentu saja malam ini menyenangkan. Who doesn’t want to spend the New Year’s Eve with someone special?”

“Udah ah, lu berdua jangan ribut melulu. Iiih, pusing dengernya. Nanti si Richard tabrakan lho.” pinta Michelle kepada kakak-beradik yang ribut melulu itu. “Tuh. Helena saja sampai ketiduran.”

“Oi, bangun, baru jam 6 sore nih.”kata Reynald pada Helena sambil membangunkannya.

“Udah, biarin aja. Toh macet begini. Bangunkan kalau kita udah dapat parkir di dalam.”kata Richard.

Jazz Hitam itu melaju dengan hati-hati di antara kerumunan mobil-mobil yang akan masuk ke dalam tempat parkir mengikuti sebuah mobil Jazz warna Pink yang catnya membuat silau mata orang-orang.

Kenapa sih ada yang milih mobil dengan warna begini…Richard bergumam

Ketika Jazz Hitam itu melaju kedepan, mengikuti mobil sejenis yang berwarna pink di depannya, tiba-tiba mobil pink itu seperti kehilangan remnya dan meluncur ke belakang dengan kecepatan yang lumayan.

Brakkkk…

Richard segera menarik rem tangan untuk menstabilkan posisi mobilnya agar tidak terseret ke bawah. Sementara itu, Jazz Pink di depannya sudah berhenti, namun bagian belakangnya penyok, demikian juga dengan Jazz Hitam milik Richard.

“What a good way to spend this evening..” Richard bergumam dalam hati sambil keluar dari mobil. Dan yang tak ia sangka adalah, ia mengenali siapa pengemudi Jazz itu.

“Ferdie?” Richard melongo keheranan.

“Richard?! Aduh sori banget sori-sori-sori banget!”ujar Ferdie dengan nada suara yang ketakutan.

“Ferdie, mobilnya kita bawa masuk dulu aja, disini bikin macet.” kata Reynald pada Ferdie. “Sekalian periksa kerusakan.”

Kedua mobil itu dengan segera mencari tempat parkir yang terdekat. Beruntung, ada dua mobil yang keluar bersamaan. Mereka segera menempati tempat parkir yang baru ditinggalkan itu. Setelah parkir, masing-masing pemilik mobil memeriksa kerusakan yang terjadi.

“Lihat? Warna pink di Jazz Hitam ditambah penyok. Untung gua gak pake Land Cruiser.” Kata Richard pada Reynald.

“Ya, kalau Land Cruiser yang lu pakai, kasian Jazz nya si Ferdie, tau nggak! Bemper Land Cruiser lu itu udah kaya benteng Pamplona; yang nabrak siapa, yang rusak siapa.”jawab Reynald. “Faktanya, adikku sayang, sekarang kita menggunakan Jazz Hitam dan Jazz ini tidak didesain untuk menghadang tank.”

“Kalau Jazz saja didesain untuk menghadang tank, tank buat apa dong? Udah lah nggak usah ngelantur terus. Mendingan sekarang pikirin deh, bagian depan mobil ini bentuknya sudah kacau. Sudah gak mungkin lagi dibawa jalan-jalan, remuk begini.” Michelle memotong pembicaraan mereka. “Haha, jadi ingat puding gua yang gak sengaja jatuh terus terinjak kaki gw sendiri.”

“Please, jangan bikin gua tambah ngeri.” Richard menjawab dengan gugup.
”Sekarang mau diapain ya? Dibawa ke bengkel? Gua gak tahu bengkel terdekat di mana. Lagian udah mulai macet.”

“Oh gampang. Tanya saja sama mobil pink yang menabrak kita” jawab Helena dengan senyum sinis sambil menunjuk Ferdie yang sedang berjalan menghampiri mereka.

Wajah Ferdie tampak sedikit cemas, namun di wajahnya masih tersirat senyumnya, yang seperti kita telah ketahui, amat memikat.

“Ferdie.”kata Richard. “Monster apa yang bisa bikin lu hilang konsentrasi kaya tadi?”

“Monster cinta kali, hehehe”Ferdie menjawab dengan culun.

“Ya udah lah, bisa tolong bantuin mikir mobil gua enaknya diapain? Rusaknya lumayan nih. Mobil lu sendiri gimana?”

“Rusak juga lah.” Ferdie menjawab dengan santai.”Tapi memang gak separah ini sih,cuma penyok sedikit banget, soalnya kan mobil lu yang ada di bawah. Untung nggak ada lampu yang pecah. Kalau soal mobil lu diapain, gua juga gak tahu. Mungkin minta tolong supir lu untuk antarkan mobil yang lain, terus yang ini dibawa ke bengkel atau dibawa pulang dulu.”

“Kalau supir gua masih ada sih gua gak usah nanya lu.”jawab Richard. “Atau..”

“Atau apa?”tanya Ferdie.

Richard memberikan senyum sinis.

“You do that thing..oh..ya gua inget. Lu punya koneksi bengkel kan?”

“Ya, trus? Lu minta gua buka paksa itu bengkel?” Ferdie bertanya keheranan.”Gila aja, tahun baruan kali.”

“Atau lu minta gua telpon keluarga lu? Bokap dan nyokap sekaligus? Richard bokap lu, gua nyokap lu. Nomor lu yang satu ditelpon bokap, yang satu lagi ditelpon nyokap. Silakan pilih.” Reynald ikut-ikutan.

“Jangan lah, gila banget sih lo.”Richard menanggapi komentar kakaknya yang sinis itu.”Udah lah Ferdie, bengkelnya kasih duit lebih aja, biar malam ini juga selesai.”

“Mana bisa selesai malam ini?”Ferdie semakin bingung dengan ide gila kakak-beradik ini.

Reynald, yang sudah mulai muak dengan semua ini, mulai melihat ke arah mata Ferdie dengan tajam. Tak sedetik pun pandangannya ia alihkan. Seketika, Ferdie mulai menggigil, ketakutan, dan kakinya seperti hampir lumpuh. Matanya pedih, mulai mengucurkan air mata, nafasnya sesak, dan seluruh tubuhnya kesemutan.

“Oke…gini…gua bakal ke rumah lu, supir gua juga gua suruh ke sini…gua minta kunci mobil lu, salah satu aja…supir gua bakal bawa mobil lu ke rumah lu untuk ditukar…nanti gua juga ikut biar orang rumah lu percaya…terus gua balik lagi ke sini…dengan mobil lu..” Ferdie berbicara dengan sedikit gemetar dan gagap.

“Land Cruiser. Gak pakai lama.” Reynald menambahkan.

Ferdie langsung melesat menuju lokasi yang agak terbuka untuk mencari sinyal handphone, sementara itu, yang lainnya masuk ke dalam mall, menuju lokasi yang telah ditentukan.

“Ferdie baik juga ya. Mau mengantar mobil lu.”kata Helena kepada Richard.

“Yah, dia memang orang baik sih.”Richard menjawab dengan menahan tawa. “Lumayan baik lah..”

Suasana di dalam gedung itu begitu ramai, banyak sekali pasangan muda yang menjalin cinta di malam hari yang romantis itu.Richard, yang melihat sedemikian banyak orang-orang yang dimabuk cinta, menarik nafas panjang dan mencoba tidak memikirkan apa-apa.

Setelah sekian menit berjalan menuju bioskop, Richard berbisik kepada kakaknya.

“Sadis lu.”kata Richard. “Tapi teknik itu masih bisa juga ya? Gua kira udah mulai ilang..”

“Justru gua mau berterimakasih sama lu. Kalau Ferdie gak dibikin pusing sama lu, belum tentu mempan.”jawab Reynald. “Lagipula, belum ilang semuanya…”

*        *          *

“Itu Cynthia tuh. Liat nggak? tanya Michelle pada Richard.

“Iya-iya, gua liat kok..”jawab Richard.

Keempat orang itu segera menghampiri Cynthia yang sedang duduk di sofa bioskop. Gading XXI penuh sekali pada malam itu, karena banyak orang yang ingin menghabiskan malam tahun baru di mall itu, 99% adalah orang berpasangan.

“Sorry, kita telat gak? Ada sedikit masalah di bawah tadi.”Richard berkata pada Cynthia.

“Sama sekali nggak kok. Yuk beli tiketnya.”jawab Cynthia dengan lembut.

Mereka membeli tiket, dan menonton..

Film itu menggambarkan kisah seorang wanita yang memiliki kecantikan luar biasa dan semua orang terpikat padanya, namun, apa yang ia miliki tidak lepas dari campur tangan Dewi Nasib yang menjanjikan kekayaan dan kecantikan yang ditukar dengan janji sang gadis, bahwa walaupun ia cantik dan memiliki segalanya, semua laki-laki yang mencintainya akan mati, dengan cara apapun. Ia tidak akan mendapatkan cinta, kecuali…

Kecuali jika sungai mengalir ke atas, waktu berputar kembali, dan orang mati hidup kembali.

Dan akhirnya, waktu memang diputar kembali…

Namun bagi Richard, waktu serasa berhenti. Terutama ketika ia melihat Cynthia berada di sampingnya, ketika itulah, waktu serasa berhenti, dan ia ingin memutarnya kembali.

Siapa yang tidak mau memutar waktu kembali, pikir Richard. Jika Richard adalah seorang ksatria yang berperang melawan cinta, maka ia sudah kalah dengan tubuh bersimbah darah.

Dan Richard hanya bisa tersenyum jika ia melihat wajah Cynthia, karena mulutnya telah terkunci rapat..

*        *          *

“Wow”

Reynald hanya bisa berkata satu kata itu saja ketika melangkah keluar dari bioskop.

“Yeah, wow.” Richard menimpali.

“Astaga, lu berdua nggak ada komentar lain apa?”keluh Michelle.”Filmnya lumayan bagus juga yah, memang agak-agak bikin bingung, tapi bagus kok. Garing deh elo berdua…”

“Yah, lumayan lah buat double date.”gumam Helena pada keempat temannya.

“Hah?!”Richard menjawab kaget.

“Oh gak ada apa-apa kok.” Helena menimpali sambil tersenyum kecil. “Nah sekarang enaknya ngapain? Kayaknya masih lama sebelum jam 12 nih. Ada usul? Nanti kan ada kembang api ya?”

“Ya, mendingan kita makan malam aja dulu di La Piazza, sekali-kali lah, kan jarang-jarang juga kita bisa kumpul begini.”jawab Cynthia.

“Umm, dinner?” Richard seperti tidak percaya.

“Iya, ayolah… kan udah gua bilang waktu itu.. kapan lagi bisa ngumpul-ngumpul bareng gini?”

Michelle mendekati Richard sambil berbisik.“Kok pucat amat sih, ayo dong deketin atau apa lah. Kan lucu melihat lu jalan berdua..hahaha..jia you”

Richard hanya bisa diam. Tanpa komentar.

Dan terjadilah, sebuah momen baru di malam tahun baru, sebuah kenangan indah di pojok kota Jakarta. Momen cinta seseorang yang membenci cinta.

Dan kali ini juga, ia ingin agar waktu berhenti dan beputar balik, kembali ke detik-detik indah dimana cinta mengalahkan ego nya. Sekarang, Richard adalah ksatria anti cinta yang kepalanya sudah dipenggal oleh cinta.

*        *           *

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 ketika mereka berlima sedang menikmati angin malam di La Piazza. Sambil melihat-lihat band yang sedang mengisi malam tahun baru dengan lagu-lagu pembawa semangat, mereka meminum kopi yang sekiranya bisa menahan mata agar tidak jatuh tertidur.

“Yakin kembang apinya terlihat dari bawah sini?” tanya Michelle.

“Wah, gak tau.” Jawab Cynthia. “Gimana kalau kita naik ke atas aja, mungkin lebih keliatan, lagipula lebih gak banyak orang. Semua kan pada ngumpul di dekat panggung.”

“Oke lah, di railing aja ya sekalian cari angin” Reynald menambahkan.

“Oke guys…Manuver Cinta Nomor 2. 15 menit lagi, oke?”Reynald berkata pada Helena dan Michelle.

..

……

.

.Mereka semua ngobrol sembari melihat-lihat pemandangan dari atas…semuanya terbawa dalam perasaan, dalam keindahan, dan dalam…

Cinta?

.

“Cynthia,”tanya Richard ”kok tumben-tumbenan banget ngajak-ngajak pergi? Tapi gua senang sih, elo ada usul begini, kita semua bisa ngumpul bareng.”

“Yah, soalnya gua ngerasa kita ga bakal ada waktu lagi untuk ngumpul begini…entah kenapa.. tapi ya, akhirnya kita ngumpul juga kan? Sekarang elo kelas dua, gua kelas satu SMA..sebentar lagi elo dan Reynald kelas tiga..dan bakal lulus, ga ketemu lagi dong?” Cynthia menjawab dengan polos. “New Year..it’s beautiful…”

“Ya… it’s..beautiful..”

“Richard..?”tanya Cynthia pada Richard yang sedang menenggak habis minumannya dan bersandar pada railing.

“Ya?”

“Lu senang sama kembang api nggak?”

“Senang banget kok. Kadang-kadang bisa bikin kita merasa tentram.”jawab Richard dengan sedikit gugup.”Kalau lu sendiri?”

“Gua juga senang banget sama kembang api.”jawab Cynthia dengan penuh senyum.”Gak cuma bikin tentram aja, tapi entah gimana gua senang banget melihat kembang api..kayak anak kecil saja ya.”

“Nggak kok.”Richard menjawab sambil tersenyum. “Setiap orang kan punya kesukaannya sendiri-sendiri.”

“Tapi gua merasa kayak anak kecil. Habis, masa kelas 1 SMA masih senang lihat kembang api?”

“Nggak masalah kok, yang penting lu punya sesuatu yang bisa lu senangi. Betul kan?”

“Iya..” Cynthia menjawab sambil tersenyum manis. Wajahnya terlihat menanti penuh harap sambil melihat ke arah langit.

Diantara mereka berdua tidak ada yang sadar bahwa Reynald, Helena, dan Michelle sudah lama meninggalkan mereka berdua, mencari tempat lain sambil memperhatikan dua orang yang tersisa itu. Kedua orang itu terdiam melihat langit malam yang sepi, tanpa angin, yang terdengar adalah suara band yang bermain di panggung dan tawa orang-orang di sekitarnya. Namun kedua orang itu tidak bergeming, tidak bersuara, hanya tersenyum.

Dan ketika itulah, sebuah kembang api meledak tepat di hadapan Richard dan Cynthia. Sebuah kembang api besar berwarna merah cerah, digabung dengan hijau. Cynthia terkagum-kagum melihat kembang api yang indah itu. Tatapan matanya berbinar-binar seperti berlian yang disinari cahaya matahari.

Richard hanya tersenyum melihat kembang api yang indah itu. Selang beberapa detik, muncullah beberapa kembang api kecil berwarna biru, oranye, dan kuning, yang menyinari malam itu. Ia melihat orang-orang di lantai bawah memberi salam, meniup terompet-terompet kertas, dan tertawa terbahak-bahak.

This is my best New Year experience, Richard bergumam dalam hati. Jamnya menunjukkan pukul 00.02.

Sebelum Richard sempat berkata-kata kepada Cynthia di tahun yang baru, Cynthia dengan perlahan-lahan merangkul tangan Richard dan menyandarkan kepalanya pada bahu Richard.

“Happy New Year…Richard.” Cynthia berkata kepada Richard sambil melihat kearahnya dengan senyuman yang indah.

Richard membisu kaku. Ia tak mampu lagi berpikir, namun pada akhirnya ia memberanikan diri mengucapkan sesuatu.

“Happy New Year too…Cynthia.”

Cynthia menyandarkan dirinya pada Richard sambil menikmati kembang api yang seakan-akan tidak pernah habis itu. Warna-warni kembang api yang berpijar melambangkan sesuatu yang baru, pengharapan yang baru, dan harapan yang baru bagi kedua orang itu.

Dan Richard, pertama kali dalam hidupnya, merasa bahagia dalam arti sesungguhnya.

The Untitled Love Story Part XII

•November 5, 2007 • Leave a Comment

PART XII

4 hari setelah kematian Victoria… ia dikuburkan di sebuah pemakaman yang cukup mewah, setidaknya cukup representatif akan strata keluarganya.

Anggota orkestra, semua tanpa kecuali, juga hadir di situ. Dari yang paling yunior sampai yang paling senior seperti Helena dan Richard. Air mata dari puluhan manusia membasahi tanah, dimana dibawahnya adalah tempat orang-orang yang sudah berakhir masanya di dunia ini untuk melanjutkan bagian kedua dari perjalanannya di suatu alam sana, entah yang penuh awan, entah yang penuh api. Dan Victoria telah ikut dalam rombongan orang-orang yang sudah ‘pindah’ itu. 

Selayaknya pemakaman seseorang yang ramah dan dikenal banyak orang, pemakaman ini diwarnai dengan acara kehilangan kesadaran, alias pingsannya Erwin setelah meraung-raung seperti kesetanan. Dan untuk pertama kalinya, Richard melihat Erwin seperti itu… hancur dan roboh bagaikan bangunan tanpa batu penjuru.

1 jam berlalu setelah doa penutup diucapkan dan rombongan pengiring jenazah pulang. Erwin masih terkapar dengan nafasnya yang masih satu-satu dan belum teratur. Sementara Richard dan yang lain berusaha menyadarkan dia dengan mengibaskan angin dan meletakkannya di bangku yang cukup lebar, Reynald hanya melihat dari jauh.

Erwin mulai sadar, namun belum sepenuhnya pulih. Richard mulai kesal dengan tingkah kakaknya.

“Mungkin lain kali gua bakal coba untuk diam aja kalau ada kebakaran. Siapa tau, apinya bisa mati sendiri.” Richard berkata kepada kakaknya dengan nada sedikit sebal.

“Gak usah sinis, toh, Erwin udah bangun juga. Ga butuh gua untuk bangunin dia, itu dia udah bangun sendiri. Yang jelas, kita ga mau sampai kemalaman disini, ga mungkin elo mau ninggalin dia dengan keadaan kaya gitu disini.”jawab Reynald. “Michelle juga ga ada yang nganter pulang.”

“Ya udahlah, mendingan sekarang elo cari minum buat Erwin. Yang di dekat sini aja, air putih botolan yang dingin” Richard berusaha mengontrol keadaan.

“Kenapa gua?”

“Kenapa enggak?!”

Akhirnya, Reynald dengan enggan mencari penjual air minum. Di kompleks kuburan. Sementara itu Richard, Helena, Cynthia, dan Michelle, menemani Erwin dan menenangkannya.

“Reynald udah beli minum” Cynthia bertanya pada Richard.

“Udah” jawab Richard.

Michelle sedang mengipas-ngipas Erwin dengan kipas plastik bergambar Sailor Moon. Erwin kelihatan kepanasan dan lemah sekali, tidak seperti biasanya. 

“Duh, mendingan dia cepetan deh, liat aja sendiri si Erwin, udah knockout kaya gini, daritadi dia ga bisa berhenti teriak, nangis, pasti capek..”kata Michelle.

“Yah, tunggu aja bentar ya. Paling enggak dia udah istirahat.” jawab Richard.  Sembari menunggu kakaknya, Richard membaca sebuah batu nisan besar, tampaknya milik orang Inggris.

Eleonor Blake”

“1915-2005”

Disamping nisan itu berdiri pula nisan yang serupa, persis sekali dengan nisan milik Eleonor Blake. Tampaknya itu adalah makam istrinya.

“Patricia Winston Blake”

1921-2005”

Dibawah kedua informasi jenazah tersebut, Richard membaca sebuah tulisan diatas sebuah batu yang menghubungkan kedua kuburan tersebut.“We, as a married couple, love each other and protect each other. Even if the time flows backwards, the dead come back to life, and rivers flow uphill, we will not be separated. We will hold together, we will stand together..”

Perhatian Richard teralihkan ketika Reynald datang membawa 2 botol air putih, masih dingin dengan 2 sedotan. Richard meminumkan air putih itu pada Erwin yang terkapar lemas di bangku kuburan. Setelah menenggak hampir sebotol penuh, Erwin mulai terlihat normal kembali, seakan-akan tenaganya kembali. Namun, tidak ada minuman apa pun yang bisa menyembuhkan cakaran di hatinya, bekas luka yang akan membekas selamanya.

Kematian telah memisahkan seseorang dari dunia, dan seseorang itu telah dipisahkan dari orang-orang yang mencintainya.“…until death takes us apart”…adalah kalimat terakhir yang tertulis di batu besar itu.Dan Richard berdiri, melangkah pergi dari lokasi itu sambil mengajak semua orang yang ada di situ untuk pergi, pulang ke rumah duniawi.

*        *          *

Malamnya, Cynthia menelepon Richard.“Kayaknya Reynald lagi ada masalah ya?”tanya Cynthia 

“Gak juga sih…emang kenapa?” 

“Keliatannya, dia ada masalah, udah beberapa hari dia jadi agak aneh. Terutama..sama Erwin?” Richard bingung harus menjawab apa.

“Umm, gua rasa sih begitu, tapi yah, secara detailnya pun gua enggak yakin.”jawab Richard dengan gugup.

“Ya moga-moga gak ada apa-apa deh. Kayaknya gua tahu kenapa Reynald jadi berubah seperti itu, tapi yah semoga aja gak bener. Mungkin ada hubungannya sama Michelle? Tapi belom tentu juga yah… biarin aja dulu, liat perkembangannya.”

“Ya, liat perkembangan dulu aja. Gua juga heran kenapa dia jadi berubah kayak gini. Dulu dia gak seperti ini, lebih kalem, lebih sabar, sekarang dia jadi agak lebih berani. Bagus sih, cuma agak nekat aja.”Richard menjelaskan dengan hati-hati.

“Hahaha, emang bener sih. Oh iya, lu udah nonton film The Promise? Katanya sih bagus loh. Lu suka film silat kan? Nah, yang ini film silat tapi romantis.”

“Oh, belum sih. Trailernya sih kelihatan bagus, cuma ya, namanya juga trailer kan?”

“Iya sih, tapi siapa tahu kan? Gimana kalau malam tahun baru nanti kita nonton? Sekalian jalan-jalan gitu, bosen gua di rumah terus. Beberapa orang aja, ajak kakak lu sama Helena kek, ajak Michelle kek. Gak seru khan kalau tahun baruan cuma di rumah. ”jawab Cynthia dengan semangat. “Kapan lagi bisa tahun baru rame-rame? Kita udah SMA, sebentar lagi kita kuliah, udah kepisah jauh-jauh semua.”

Wow, pikir Richard. Baru kali ini, dalam 17 tahun kehidupannya di dunia, seorang perempuan mengajaknya hang out, apalagi yang mengajaknya adalah seseorang yang ia cintai.

 “Oke.”jawab Richard.”Nanti gua omongin sama kakak gua ya Cyn. Tempatnya?” “Umm, nanti gua pikirin lagi deh.”jawab Cynthia. “Di deket-deket sini aja ya.” “Oh oke deh. Besok kabarin yah” “Haha sip deh, see you at New Year’s Eve yah Richard. Bye-bye” “Bye juga.” 

Telepon tertutup dan harapan terbuka. Richard melangkah masuk ke dalam kamar Reynald. Ia melihat kakaknya sedang terduduk di ranjangnya, ekspresi mukanya memang terlihat kurang senang, namun ia menunjukkan senyum yang terlihat palsu pada adiknya.

 “Ada apa?” tanya Reynald. “Oh, gak apa-apa. Cynthia ngajak kita nonton The Promise malam tahun baru nanti. Sekalian tahun baruan rame-rame.”jawab Richard. 

“Oh oke…”

 “Kalau gua boleh tanya, ada apa sih? Jelasin sesuatu, biar gua gak pusing.”tanya Richard pada kakaknya. 

“Gak ada apa-apa sih, cuma, ya gitu lah. Mungkin gua yang kurang peka. Kayaknya gua kurang bisa memahami Erwin, mungkin cuma itu.” 

“Karena akhir-akhir ini dia sering nelpon Michelle? Kan udah gua bilang kalau dia memang lagi cari seseorang yang bisa diajak ngobrol, yang bisa menghilangkan kesedihannya.” 

“Yah, mungkin aja.” “Gua tahu, lu pasti agak curiga sama Erwin, tapi percaya gua, Erwin gak ada maksud apa-apa.”

 “Ya udah, gua percaya. Tidur sana, gua juga mau tidur.” 

“Oke, dadah.”

 Richard melangkah keluar dari kamar Reynald yang penuh dengan puzzle yang tersusun rapi dan dipigura, dilengkapi dengan home theatre yang yahud. 

“Richard..” Reynald memanggil Richard sebelum ia keluar.

 “Ya?” “Jangan terlalu excited dengan semua ini. Gua gak mau melihat lu sedih lagi kayak dulu…dengan seseorang itu..” 

“Gua tahu, Reynald. Gua akan hati-hati. Thanks, gua juga berharap Michelle gak menjadi kanker dalam diri lu.”

 Dan keduanya tertawa kecil. Kedua orang itu kini kembali menuju alam mimpi dimana semua yang terjadi adalah semu, namun penuh harap.  

The Untitled Love Story Part XI

•October 28, 2007 • Leave a Comment

Part XI

“Kartu natal dari Cynthia?” tanya Reynald pada adiknya.

“Yep, and a nice one I’d say” jawab Richard. “Bagus ya…kayaknya ini yang limited edition..”

 “Menurut gua, sebaiknya rasa senang itu elo simpan dulu deh. Ngerti kan kenapa?”

“Ngerti kok. Lagian, kita memang musti cari cara supaya Erwin gak kenapa-kenapa. Soalnya, gua tahu persis arti penting Victoria buat Erwin.”

“Oh ya?”

Yep” jawab Richard dengan yakin. “Erwin sering cerita tentang Victoria ke gua. Mereka memang kadang-kadang keliatan dingin, kadang-kadang keliatan pasangan hot. Kadang-kadang keliatan seperti sedang cekcok, kadang-kadang keliatan seperti suami-istri. Memang membingungkan bagi orang lain, namun buat yang tahu apa yang sebenarnya ada dibalik hubungan mereka, semuanya itu indah.”

“Oh” Reynald menimpali dengan dingin sembari setengah melamun.

Memang menurut elo, hubungan mereka itu hubungan yang gimana?”

“Yah, katakan saja mereka saling mengerti satu sama lain. Mungkin, disitulah indahnya kalau seseorang punya orang lain yang mau mendampinginya, dan sang pendamping itu bisa mengerti perasaan yang didampinginya, dan juga sebaliknya.”

 “Jadi, intinya mereka klop, cocok, pas dan sebagainya?” “Menurut gua sih gak cuma pas. Mereka saling mencintai satu sama lain. Bukannya apa-apa, tapi sampai sekarang, pasangan paling ideal ya mereka ini. Belum pernah lihat yang lain.” Reynald bertanya keheranan.

 “Even our parents?”

“Yes” jawab Richard dengan tegas.”Ini bukan hal yang gampangan, soalnya kalau bicara tentang hati seseorang, kita gak akan pernah tahu apa isinya, bahkan sampai salju turun di musim panas dan orang mati bangkit pun kita gak bakal pernah tahu. Yang jelas keliatan ya Erwin sama Victoria itu memang cocok. Mungkin di dalam hati mereka, ada sesuatu yang lebih besar yang ada di luar bayangan kita. Jadi, sekarang mungkin elo bisa paham gimana rasanya menjadi Erwin yang kehilangan seseorang yang bener-bener berarti…setidaknya elo melihat sendiri gimana hasilnya..”

“Hh” Reynald menghela nafas panjang. “Mungkin mereka memang cocok. Gua sekarang jadi heran, kenapa lu yang bisa ngomong setinggi itu masih jomblo sampai sekarang, belum pernah pacaran lagi. Padahal, gua kakak lu sendiri yang harusnya tahu tentang adiknya. Dan juga, gua udah pernah pacaran, tapi kayaknya gua ga mikir setinggi itu..”

“Oh” Richard menjawab lesu. “Kalau soal itu, gua sendiri pun gak tahu. Ada kalanya gua merasa gua itu seseorang yang, yah katakanlah, talkatif kalau dibandingkan dengan lu. Padahal kenyataannya gak selalu begitu. Rada-rada susah bergaul dengan cewek mungkin, kalau dibandingkan dengan lu. Dan sejak kejadian yang bener-bener nusuk itu…gua semakin ga tau harus gimana dengan cewek. Dan gua gak percaya zodiak bullshit yang  bilang kalau orang Libra itu romantis lah, Cancer itu pendiam lah, atau sebagainya. Mungkin itu satu kelebihan, atau mungkin kekurangan gua.”

“Bisa dua-duanya.” jawab Reynald. “Kalau hal itu benar, itu kekurangan lu, kalau hal itu salah, itu kelebihan lu. Menurut gua, gak ada salahnya kalau elu sekarang berusaha cari tahu identitas diri lu yang sebenarnya itu siapa.”

 “Identitas diri?”

“Ya. Identitas diri. Really helpful in building your relationship, I’d say. Ya udah, thanks udah balikin otak gua ke dunia. Gua mau mandi dulu” Reynald beranjak dari teras depan menuju ke dalam rumah, sekarang giliran Richard yang ingin menikmati udara malam yang sejuk dengan hawanya yang menggigil.

“Oh ya Richard.”tanya Reynald. “Ada satu hal yang belum pernah gua tanya sama lu.” “Apa itu” tanya Richard. “Apa artinya Cynthia buat lu?”

“Yerusalem.”

Jawaban Richard itu membuat Reynald semakin heran dengan adiknya, si tukang kata-kata aneh. “Yerusalem? Memang apa hubungannya Yerusalem dengan Cynthia?” tanya Reynald.


”Baca aja sejarah Perang Salib dan lu bakal tahu arti pentingnya Yerusalem.”jawab Richard
”Oke, gua gak ada waktu untuk baca buku. Secara singkat saja deh”

 “Oke. Yerusalem adalah segalanya. Jerusalem is everything”

“That’s it?”

 “Masih ada penjelasan, tapi lebih baik lu mandi dulu. Rada panjang nih”

 *        *          *

“Erwin!” teriak seorang wanita setengah baya di dalam rumah di seberang rumah Richard.

 “Ya?” jawab Erwin yang juga sedang merenung di teras, memikirkan apa yang terjadi hari ini, sesuatu yang terjadi dengan cepat namun akan hilang dengan lambat.

“Telepon buat kamu. Namanya Michelle” Segera Erwin mengangkat telepon dengan penuh kebingungan.

Untuk apa Michelle meneleponnya? Untuk menghiburnyakah? Atau untuk menambah segala bencana? Tapi ia tak perduli. Ia angkat telepon itu. Ia sudah terlalu hancur untuk dihancurkan dan terlalu sedih untuk dibuat menangis.

*        *          *

“Udah siap menjelaskan omongan lu tadi?” tanya Reynald pada adiknya.

“Sebelum itu, gua ingin tahu pandangan lo mengenai Michelle.”jawab Richard. “Gua rasa, lebih baik kita bahas sesuatu yang lebih rasional dan bermasa depan cerah…dibandingkan kasus gua dan..yah..elo tau lah..”

Reynald mengangguk, dan mulai memberikan jawabannya tentang Michelle.

“Yang pasti gak serumit pikiran lu.  Waktu pertama kali gua deket sama Michelle, gua ngerasa ada seseorang yang jauh lebih baik, lebih terbuka, dibandingkan begitu gua jadian sama…ya si itu tuh” Reynald menjelaskan dengan hati-hati.

“I see. Jadi lu menemukan seseorang yang, katakanlah, lebih baik dari si itu?”

“Yep. Now it’s your turn.” Reynald merespon dengan tidak sabar. “Gua rasa, itu udah cukup”

“Oke, kak. Pendapat gua tentang Cynthia juga gak serumit yang lu duga. Seperti yang gua katakan tadi, dia itu Yerusalem. Terlalu berharga untuk diungkapkan. Tapi kalau mau diungkapkan juga, gua sendiri susah.  Mungkin lu harus bongkar badan gua terus periksa isi hati gua. Itu pun kayaknya belum cukup.”

Reynald menjawab dengan santai sambil mengetik SMS.“Terus kalau yang itu? Yang dulu ada sekarang tidak ada?” Richard mulai terpancing emosinya.

“Yang itu…menurut gua..sebaiknya gak usah dibahas. Gua merasa bego banget waktu itu, sekarang gua gak mau mengulanginya lagi.” “Oh” Reynald merespon dengan santai. Lagi. “Gimana kalau hal yang sama terjadi dengan Cynthia. Apakah lu akan separah dulu lagi? Apakah lu akan…yah..kembali merasa orang paling gak beruntung di dunia?” Reynald lalu mengirim SMS yang dia ketik.

*        *          *

“Jadi gitu ya masalahnya, ya udah Erwin, gua rasa itu memang udah rencana Tuhan. Kita gak tau kapan seseorang pergi, kapan seseorang datang.

“ Emang sih, tapi gimanapun juga, walaupun gua merelakan dia, gua tetep kehilangan banget, Michelle. Gua gak tau musti gimana, gua ngerasa gua udah gak punya tujuan dalam hidup gua.”

Jawab Erwin.

“Gak juga kok. Semua orang punya jalannya masing-masing. Eh sori ada SMS.”

“Oh oke? Dari siapa?”

“Reynald.”

*        *          *

 “Kalau itu terjadi lagi…kalau itu terjadi lagi..” Richard merasa seakan-akan dipukul tengkuknya. “Maka gua akan hormati keputusan dia. Secara total”

“Total?” tanya Reynald meyakinkan.

“Ya. Total….Udah ah mau tidur. Besok masih sekolah tau.”

‘Ya udah. Tidur duluan sana.” Setelah Richard pergi ke kamar, Reynald menunggu di teras dengan penuh harap. Menunggu sebuah jawaban. Dari sebuah SMS. Dan yang ditunggu tiba.

Hai Reynald. Sori nih gak bisa sms-an lama-lama, padahal udah agak lama juga gak sms-an. Gua lagi telpon sama Erwin, tau sendiri kan ada apa, ya gitu deh. Sori banget yah. Latihan berikutnya minggu depan kan? Sampai ketemu minggu depan ya. GBU.

The Untitled Love Story PART X

•October 16, 2007 • Leave a Comment

..near Christmas 

“Jauh amat, kita mau kemana sih?” tanya Richard 

“Ada yang masuk rumah sakit” jawab Reynald.

“O ya? Siapa?”

“Victoria”

Laksana tersetrum kabel listrik tegangan tinggi, Richard tersentak.

“Hah, yang bener aja?! Setahu gua, semalam dia cuma demam.”

“Lho, kak Victoria katanya cuma kena demam kok. Berarti parah banget ya?” Lizzie menambahkan.

“Bisa jadi, Liz.”jawab Reynald. “Banyak banget penyakit yang awalnya hanya dikira demam karena flu biasa. Bisa saja dia kena flu burung atau sejenisnya.”

“Aduh, gimana dong..kasian koko Erwin kalau sampai kak Victoria kenapa-kenapa”

“Yah, moga-moga sih enggak, Liz” jawab Reynald dengan setengah panik. Keringat dingin pun menyelimuti badan semua orang di dalam mobil itu.

Jazz hitam itu terus melaju dengan cepat, menyalip mobil-mobil yang bagaikan siput di jalan raya beraspal hitam panas. Dan sampailah mereka di sebuah rumah sakit. Sebuah rumah sakit berstandar internasional. Jika rumah sakit ini sebagus yang dibicarakan, tentu nasib Victoria tidaklah seburuk yang dipikirkan.

Harapan belum tentu menjadi kenyataan, dan kenyataan belum tentu sebagus yang diharapkan, baik itu keinginan untuk hidup atau untuk mati, kesembuhan atau kelumpuhan, cinta ataupun benci. Tidak ada yang mutlak diprediksi.

Orang sok simpel bilang : mati ya mati aja…

Tapi kenyataannya, mati tidak sesimpel itu..

Sesampainya di lobi rumah sakit, mengunjungi resepsionis, Erwin sudah menunggu mereka di lobi. Mukanya pucat, matanya sayu dan tidak terlihat berbinar seperti biasanya. Tidak ada semangat hidup yang terlihat di wajahnya. Bagaikan terkena AIDS dikomplikasikan dengan jantung koroner plus asma dan hepatitis, Erwin terlihat mati jiwanya. Bahkan sebuah patung pun terlihat lebih hidup.

“Erwin…” sapa Richard

“Richard…Reynald…thanks for coming but….I don’t think she still has a chance..” jawab Erwin.

“Ada apa Erwin?” tanya Reynald. “Victoria kenapa?”

“Gua..gua gak tau…kata bapaknya…tadi pagi dia makin parah…katanya sesak nafas….rahangnya kaku…terus langsung dibawa kesini” jawab Erwin. “Dia kena tetanus”

“Hah?? Terus?!” tanya Reynald keheranan.

“Gak tau, dia masih di ruangan.”

Richard, Reynald, dan Lizzie hanya bisa terdiam. Menunggu detik-detik berlalu bagaikan aliran sungai. Tidak ada kabar apa-apa dari dalam. Erwin sesekali dihibur, namun seperti membakar air, tidak ada hiburan apa pun yang dapat menyemangati Erwin. Kedua orangtua Victoria juga ada di situ, bersama dengan kedua adik kembarnya. Mereka juga terlihat sama seperti Erwin, kehilangan jiwa.

Dan waktu pun berjalan terus.

1 jam.

2 jam.

3 jam.

4 jam.

5 jam.

Tidak ada kabar. Keempat sahabat itu semakin stress. Lizzie sendiri takut kakaknya akan jatuh sakit, sementara Richard dan Reynald khawatir kalau-kalau hal yang terburuk terjadi pada Victoria.

Setelah 5 jam tepat, dokter keluar dari ruangan tempat Victoria berbaring. Layaknya seorang dokter, ia tidak berekspresi, seperti robot, dan, seperti istilah Richard : tanpa cinta. Ia memanggil semua orang yang menunggui Victoria. Ketiadaan ekspresi, baik senyum maupun tangisan, baik mata yang berbinar maupun pandangan kosong, membuat semua orang itu, terutama Erwin, tidak dapat menebak-nebak.

Cephalic Tetanus” kata sang dokter. “Penyakit ini langsung menyerang otak dan menyebabkan symptom tetanus yang lebih parah dibandingkan dengan tetanus biasa. Serumnya tidak berhasil, kami sudah mencoba sebisa kami.”

Seketika itu juga, otot-otot kaki Erwin langsung lemas, syarafnya seperti lumpuh. Ia jatuh ke lantai dengan berlutut. Air mata yang sudah menggenang sejak beberapa jam yang lalu tertumpah ke pipinya, mengalir deras, mengucapkan kata-kata kesedihan dan pilu, bagaikan menggambarkan rasa sakit yang dialami Victoria. Ia meraung-raung seperti kesetanan. Lizzie tidak mampu berkata-kata. Reynald pun terdiam. Ayah dan ibu Victoria menangis , demikian pula kedua adik kembarnya.

Dan Richard?

Richard bingung, cemas, dan sekaligus merasa sakit. Ia tahu apa yang dialami Erwin, ia tahu kepedihan yang dialaminya.

Dan ia membayangkan jika hal yang sama terjadi pada dirinya, jika seseorang yang ia cintai meninggalkan dia untuk selamanya.

Richard langsung gemetar, sembari menghibur Erwin yang nyaris pingsan, Richard menerawang ke arah lapangan parkir dengan setengah melamun. Sekilas terbayang angan-angan buruk, dan Richard langsung membuang jauh pikiran itu, berharap sesuatu tidak akan terjadi. Richard adalah seorang yang mudah dijangkiti trauma, sebuah trauma adalah proyektil peluru shotgun yang selamanya bersarang dalam tubuh.

Ia tidak menginginkan sesuatu yang sama terjadi pada Cynthia.

Richard melihat tubuh Victoria dari kejauhan, di atas sebuah ranjang putin…terbaring kaku. Walaupun sudah tak bernyawa, namun kecantikan Victoria seperti tidak pernah hilang. Lalu wajahnya yang indah itu ditutup kain putih….

 

*          *            *

“Thanks banget yah udah mau datang. Thanks udah nemenin gue sampai saat terakhirnya dia. Gimanapun juga kalau gak ada kalian, gue gak tau sekarang gue udah gimana. Thanks banget” kata Erwin kepada kakak-beradik itu dengan suara yang masih parau dan mata sembap, namun tetap berusaha untuk berdiri tegak. Terlihat di kejauhan jenazah Victoria yang sedang dibersihkan untuk disemayamkan.

“Gak apa-apa, Erwin” jawab Richard. “Kita berdua gak pernah segan untuk bantun elu”.

“Thanks again yach. Sekarang gua mau pulang, besok Victoria disemayamkan, gua gak tau sekarang gua mau bagaimana. Sekarang kalian mau kemana?” tanya Erwin.

“Kita mau pulang, besok kan hari terakhir sekolah. Kita harus hadir supaya bulan depan dapat raport.” Jawab Reynald.

“Yah, itu untung-ruginya raport dibagikan setelah libur. Berarti semua harus masuk ya? Yah, gua gak jamin si cogan se-Asia Tenggara itu mau maklumin keadaan gua. Ya udah deh, kita pulang.  Thanks banget yah.”

“Erwin, gua aja yang bawa mobil, Reynald bisa nyetir sendiri. Gua yakin, setabah apapun elu, gua gak jamin lu bisa konsentrasi bawa mobil. Nanti kenapa-napa, kasian lu berdua. Gimana Reynald?” tanya Richard, menyadari bahwa sangatlah berbahaya jika Erwin membawa mobil di hari yang sudah gelap ini dengan perasaan yang sudah galau.

“Oke, gak apa-apa. Asal lu jangan nikung gua di jalan. Bisa celaka berempat…”jawab Reynald.

“Heh, enggak lah. Ayo kita pulang.”kata Richard dengan kesal. Lalu mereka menuju mobil masing-masing, Jazz hitam dan Ford Escape. Sementara Richard menyetir dengan hati-hati, Reynald tancap gas menuju rumah.

*          *            *

“Gimana Erwin di mobil?” tanya Reynald kepada adiknya ketika ia baru saja tiba di rumah.

“Bayangkan seseorang kehilangan sesuatu yang sangat berarti buat hidupnya. Nah kira-kira seperti itu.”jawab Richard.

“Oh, yeah. Lu udah sms teman-teman kita di orkes?”

“Udah, Mr. Perfect juga udah.”

“Oke thanks. Kalau mau jujur ya, Richie, firasat gua gak enak.”

“Kenapa lagi? Tsunami? Gunung meletus?”

“Gak tahu, yang jelas, gua bener-bener mohon sama lu, pinter-pinter baca situasi dan tanda-tanda.Anything deh. Gw mohon..”

“Oke, although I don’t really understand what you mean.”

“Gak masalah kalau lu gak tahu, nanti kita liat aja”.

Richard, penuh kebingungan, meninggalkan kakaknya yang terlihat aneh malam ini dan segera menuju kamar mandi. Sementara itu, Reynald, merenung di teras, bertengger bagaikan burung betet yang baru menjalani operasi cangkok otak. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri.

Mungkin, ia sendiri pun tidak tahu apa yang ia pikirkan.

Richard, yang bosan karena  PS2nya rusak, mencoba menghibur diri dengan menghiasi pohon natal dengan pernak-pernik mengkilap. Itulah hobinya : mencari hobi. Dan ketika ia sedang mencari gunting, ia menemukan sebuah amplop.

Warnanya biru, tanpa hiasan, tanpa keterangan, tanpa nama. Hanya ada tulisan : ‘To Richard’

Ketika ia membuka amplop itu, isinya adalah kartu natal. Isi kartunya?

Ketika ia membuka kartu itu, isinya ucapan natal yang ditulis tangan :  ‘May the Blessing of the Saviour be with you’. Pengirimnya?

Ketika ia selesai membaca ucapan natal itu, ia melihat nama pengirimnya.

C….

Cynthia.