<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>From My Mind....</title>
	<atom:link href="http://jedirider777.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jedirider777.wordpress.com</link>
	<description>Processed By the Brain and the Heart</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Feb 2008 23:32:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jedirider777.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>From My Mind....</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jedirider777.wordpress.com/osd.xml" title="From My Mind...." />
	<atom:link rel='hub' href='http://jedirider777.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>THe Untitled Love Story Part XVIII</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2008/02/28/the-untitled-love-story-part-xviii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2008/02/28/the-untitled-love-story-part-xviii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 23:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Helena masuk ke dalam ruangan itu dan ia melihat Reynald yang terbaring lemah dan remuk. Ia hanya bisa hening melihat kondisinya yang begitu parah, seakan tak percaya hal ini bisa terjadi.  “Helena?” Reynald memulai pembicaraan. “Astaga..Reynald..lu baik-baik aja kan? Kenapa bisa begini?” “Ceritanya panjang.”jawab Reynald. “Tapi, thanks banget lu udah mau datang kesini, padahal gua gak nyangka bakal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=34&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><span>Helena masuk ke dalam ruangan itu dan ia melihat Reynald yang terbaring lemah dan remuk. Ia hanya bisa hening melihat kondisinya yang begitu parah, seakan tak percaya hal ini bisa terjadi.  </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Helena?” Reynald memulai pembicaraan. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Astaga..Reynald..lu baik-baik aja kan? Kenapa bisa begini?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Ceritanya panjang.”jawab Reynald. “Tapi, thanks banget lu udah mau datang kesini, padahal gua gak nyangka bakal ada yg jenguk.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gua cuma khawatir, Reynald. Emosi elo kan kadang-kadang nggak stabil. Pasti ada apa-apa. Ayo, cerita lah.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Dan dengan senang hati dan terpaksa, Reynald menceritakan ulang apa yang ia alami di siang hari yang terik beberapa jam yang lalu. Bagaimana hatinya remuk, dihantam kekecewaan dan ketidakpercayaan yang mendalam. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Begitulah.”kata Reynald.”Segalanya udah terjadi. Gua bener-bener nggak menyangka, Erwin ada maksud sama Michelle. Gua&#8230;.kecewa banget.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Menurut gua sih,&#8221; Cynthia menyambung.”pasti Erwin berpikir begini : ‘Reynald kan bukan siapa-siapanya Michelle’&#8230; sering terjadi tuh” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Mungkinkah dia orang seperti itu?”Richard yang notabene sangat mengenal Erwin memang tidak mudah percaya akan segala gosip miring. “Dia orang baik, walaupun dia kadang suka berprinsip untuk dekat dengan banyak cewek.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Tapi prinsip yang kaya gitu yang bahaya lho, Reynald.&#8221; </span></span><span><span></span></span><span><br />
<span>”Yah, benar juga sih.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Udahlah.”Cynthia berusaha mengembalikan suasana sebisanya. &#8221; Reynald yang penting harus sembuh dulu, jadi, jangan dibicarain dulu deh.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yep. Jangan ngomongin orang dulu deh, bikin aura panas aja tau. Richard mau nginap di sini?”tanya Helena, kalau-kalau Reynald harus melalui malam ini sendiri </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Iya, gua nginep. Takut dia mati kesepian” Richard menjawab. “Yang jelas, gua musti ambil buku buat besok, pakaian ganti untuk sekolah, dan iPodnya Reynald.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Ya baguslah kalau gitu. Reynald cepet sembuh ya.”kata Helena dengan tersenyum. “Eh sorry yah, gua musti pulang dulu, soalnya bisa dimarahi ortu karena nggak bilang-bilang kalau ke sini. Pokoknya, biar Reynald cepet sembuh, makanan harus dimakan semua. Kalau enggak, gua bikin diopname seumur hidup, hahaha. Oke?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oke” Reynald membalas dengan sebuah senyum yang pilu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span>Helena pun pergi dari ruangan itu, sementara Richard dan Cynthia masih menemani Reynald di dalam. Richard terlihat sedang mengatur frekuensi radio, mencari stasiun yang sekiranya bisa membantu Reynald untuk menenangkan pikirannya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Classic? Jazz?” Richard bertanya pada kakaknya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak. Radio anak muda  aja. Apa kek, lagu-lagu yang lagi ngetrend.”Reynald menjawab. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yakin ga? Nanti mampus lu dengerin curhat valentine orang-orang.” Richard mengejek kakaknya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“ Bodo, yang penting gaul.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Terserah.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Richard memutar frekuensi radio Praegus. Memang, lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang gaul. <em>Or so it seems </em>. Reynald memang sudah terlihat dapat sedikit mengontrol dirinya, namun tetap saja, ia terluka secara fisik. Tubuhnya memang benar-benar hancur, secara literal dan bukan kiasan. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Setelah beberapa saat berlalu, Cynthia ditelepon dan diminta pulang oleh ayahnya. Tentunya, Richard harus meninggalkan Reynald sendirian untuk beberapa waktu. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gua tinggal sebentar ya Reynald, Cynthia mau pulang dulu, gua mau anterin.”Richard pamit pada kakaknya. </span></span><span><span></span></span><span><br />
<span>”Oke, hati-hati ya. Bye Cynthia.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Bye Reynald. Get well soon yah” Cynthia mengucapkan salam perpisahannya pada Reynald lalu pergi dari kamar itu bersama Richard. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Thanks Cynthia.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Ketika mereka berdua keluar, radio Praegus menyiarkan sesuatu yang tidak terduga. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Selamat malam, guys and gals yang masih mendengarkan Radio Praegus dengan setia. Bagaimana Valentine malam ini? Tentunya semua punya pengalaman sendiri ya? Baiklah, kita akan membacakan sms dari kalian semua tentang bagaimana kalian merayakan Valentine ini&#8230;.pertama dari..Albert. Kamu lagi mendengarkan? Yak, Albert bilang ‘hari ini gue dapet coklat lho, padahal rencananya gue yang bikin surprise. Wah asik deh.’ Yak tampaknya hari ini ada yang senang. Berikutnya&#8230;” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Reynald mulai sebal, tapi dia berusaha untuk tetap sabar, lagipula, tangannya tidak sampai ke radio mini itu. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Baiklah, setelah lagu ini, kita akan membacakan sms<span>  </span>kalian lagi. Lagu ini direquest oleh Chris, berjudul ‘Tong Hua’. Wah setahu gue lagu ini artinya romantis banget. Baiklah, selamat menikmati!” </span></span><span><span></span></span><span><span>Reynald<span>  </span>langsung shock. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Sekarang ia tidak tahu apakah dirinya sendiri masih mencintainya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Orang itu adalah seseorang yang ia lihat pergi dari hadapannya tadi siang, di bawah kanopi sekolah St. Lisieux. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Sekarang ia hanya bisa menangis dan meratap.  </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>*<span>          </span>*<span>         </span>* </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Richard&#8230;” Cynthia memecah keheningan yang berada dalam mobil Richard. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Ya?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Thanks banget yah udah mau datang, gua beneran gak nyangka lho.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh, no problem Cynthia. Namanya juga the first time celebrating Valentine. Harus spektakuler, menurut gua. Tapi tampaknya agak aneh.” </span></span><span><span></span></span><span><br />
<span>”Gak kok Richard” Cynthia tersenyum padanya. “Gak ada yang perlu disesali soal apapun. Bunganya bagus lho, beli dimana? Pesanan khusus ya?” </span></span><span><span></span></span><span><br />
<span>”Enggak” Richard menjawab tegas. “Gak pesan, beli di tukang bunga.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh oke. Tapi hebat juga tukang bunganya ada mawar biru segala.”Cynthia menjawab keheranan. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yah, mungkin dia yang special delivery.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Keduanya tenggelam dalam keceriaan di hari yang kurang mengenakkan ini. Bagaimanapun juga, Reynald masih terbaring sakit di rumah sakit, dan Richard harus kembali untuk menemaninya. Dan bukan waktunya untuk senang-senang belaka.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Lalu hening.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> &#8221;Kok diam?&#8221; Cynthia memulai pembicaraan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>&#8220;Enggak&#8230; gua cuma masih mikirin Reynald..&#8221; Richard bicara setengah berbisik.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>&#8220;Sama sih, tapi gimanapun juga dia udah kelihatan mendingan, walaupun masih luka-luka. Kita doakan biar cepat sembuh. Besok kita jagain lagi aja, sama Helena. Katanya sih, orang sakit cepat sembuh kalau dia bisa melupakan sakitnya.&#8221;</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p><span><span>&#8220;Ya, I guess so..&#8221;</span></span><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“By the way, Richard,” Cynthia mendadak bertanya.”Lu pernah jatuh cinta?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Tampaknya..semua orang pernah. 99% tepatnya” Richard berusaha untuk tidak gugup.”Memang kenapa?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh enggak, cuma nanya.” Cynthia menjawab dengan polos. “Lalu, apa yang terjadi?” </span></span><span><span></span></span><span><br />
<span>”Yang terjadi? Gak ada apa-apa.” </span></span><span><span></span></span><span><br />
<span>”Ditolak?” Cynthia menanyakan sesuatu yang sangat tajam. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak juga sih&#8230;” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Terus?” </span></span><span><span></span></span><span><span>“Yah, katakan saja, gua<span>  </span>keduluan.” Richard akhirnya mau mengungkapkan kanker batinnya, yang selama ini pantang diungkapkan kepada siapapun kecuali kepada kakaknya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh&#8230;”Cynthia hanya dapat merespon demikian. “Dan, apakah sekarang masih contact?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Jarang banget, dia sibuk dalam paduan suara, dan gua sendiri merasa gak enak untuk masuk kembali dalan kehidupan dia.” Richard mulai blak-blakan. “Dan mungkin saja, karena hal itu, sekarang gua memang takut untuk mencintai seseorang..tapi bukan berarti tidak mau” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Cynthia terdiam sebentar, lalu kembali bertanya.”Apa yang lu takutkan dalam mencintai seseorang? Tidak pernah ada salahnya kan?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Cynthia” Richard menjawab lirih. “Jikalau sebuah cinta tidak berbalas, sakitnya tidak akan tertahankan, apalagi kalau cinta itu sudah melekat dalam diri kita. Mencintai bayangan&#8230;tidak pernah bahagia. Trust me. Mungkin lu pernah merasakan juga?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Belum sih&#8230;never really had someone who truly loved me, even my ex-boyfriends.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Kok bisa?” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“I don’t know&#8230;”Cynthia terlihat sangat sedih, apakah ia punya masa lalu yang kurang menyenangkan, tidak ada yang tahu. Mungkin Richard tidak akan tahu selamanya&#8230; </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Richard, mengetahui bahwa “Oh oke..sorry..gua gak bermaksud&#8230;” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“It’s okay..”Cynthia memotong. “Setidaknya lu udah jujur, dan gua juga udah jujur. Gak ada yang perlu disesali, Richard.” Cynthia kembali tersenyum. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Mobil itu terus meluncur di tengah lampu-lampu jalanan dan belokan-belokan yang halus. Mobil hitam itu terus berjalan di tengah-tengah kesibukan kota Jakarta di malam yang temaram, di tengah belantara modernisasi yang terkungkung oleh konservatisme, di tengah-tengah udara kebebasan yang otoriter. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Walaupun begitu, cinta tetap ada di mana-mana. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Land Cruiser itu berhenti di depan rumah Cynthia. Hari sudah mulai malam, namun lampu mobil masih saja menerangi jalan-jalan, kesibukan yang hanya terhenti bila bulan menimpa kota ini. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“You’re home.” Richard berkata pada Cynthia. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh oke Richard.” Cynthia mengambil tasnya, namun tidak beranjak turun. Sebaliknya, ia hanya menatap Richard. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“What’s wrong?” Richard mulai khawatir, kalau-kalau sebenarnya Cynthia marah kepadanya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Ga ada apa-apa kok”katanya dengan lembut, lalu turun dari mobil. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Terkesan bahwa Cynthia tidak ingin segera pergi, ia masih ingin berada di dalam mobil itu. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Ia masih ingin bersama dengan Richard, untuk beberapa saat saja. </span></span><span><span></span></span><span><span>Tapi sesuatu memang menghalanginya untuk berbuat demikian. Sesuatu di hatinya yang mencegah dirinya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Tidak bisa sekarang, waktu masih panjang, dan pertimbangan menanti. Itulah yang dipikirkan perempuan cantik ini, yang pernah merasakan cinta, namun belum menemukan cinta sejati yang sesungguhnya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><em><span><span>Mencintai bayangan tidak akan pernah bahagia. </span></span></em><em><span><span></span></span></em><em><span><span></span></span></em><em><span><span></span></span></em><span><span>Kata-kata Richard memang sedikit mengusik perasaan Cynthia. Ia tidak mau memikirkan apa-apa sekarang, ia percaya dalam proses, bukan sekedar hasil, tapi ia tahu persis, apa yang ada di dalam hati Richard. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Tetapi seseorang harus berkomitmen, dan apapun komitmennya, itu adalah hak pribadi orang itu. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Cinta pun harus berkomitmen, demi dirinya, dan demi orang lain, baik yang dicintainya maupun yang mencintainya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Cynthia berusaha tegar, dan menatap Richard kembali. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Thanks banget yah Richard. Untuk segala yang telah lu lakukan.” kata Cynthia dengan senyumnya yang lembut.”Sampai ketemu hari Jumat di hall latihan. Cepat sembuh ya untuk Reynald. Gua doain deh.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oke Cynthia, sampai ketemu hari Jumat. Thanks yah”kata Richard dari dalam mobilnya, lalu beranjak pergi sambil melambaikan tangan. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Cynthia menatap kepergian mobil itu dengan pikiran yang galau, namun, ia berusaha tidak memikirkannya. Ia berbalik, lalu berjalan menuju rumahnya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Ingin sekali ia mengucapkan sesuatu, namun tidak bisa keluar dari mulutnya. Sama seperti Richard yang sering sekali gagap jika sudah salah tingkah, maka Cynthia pun memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, namun ia ragu-ragu&#8230;ia hanya dapat mengucapkannya kepada angin.. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><em><span>Happy Valentine, Richard. I’ll miss you..</span></em><span> </span></span><span><span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=34&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2008/02/28/the-untitled-love-story-part-xviii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part XVII</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/25/part-xvii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/25/part-xvii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 14:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/25/part-xvii/</guid>
		<description><![CDATA[Land Cruiser Cygnus milik Richard dengan cepat menuju ke sebuah rumah sakit di Kuningan yang sudah disebutkan oleh ayahnya.Richard dan Cynthia berlari menuju front desk, menanyakan dimana ruangan kakaknya dirawat. &#160; “Ruangannya di situ nak, ruangan gawat darurat.” Kata suster yang menjaga front desk. “Tapi belum boleh dijenguk, dokter masih merawat dia. Nanti saja kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=33&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Land Cruiser Cygnus milik Richard dengan cepat menuju ke sebuah rumah sakit di Kuningan yang sudah disebutkan oleh ayahnya.Richard dan Cynthia berlari menuju front desk, menanyakan dimana ruangan kakaknya dirawat.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ruangannya di situ nak, ruangan gawat darurat.” Kata suster yang menjaga front desk. “Tapi belum boleh dijenguk, dokter masih merawat dia. Nanti saja kalau sudah dapat kabar&#8221;<br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Apa dia sebegitu parahnya suster?” tanya Cynthia yang ikut khawatir.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Saya tidak tahu nak,”kata suster itu “tetapi jika seseorang dilarikan ke instalasi gawat darurat, ia pasti membutuhkan pertolongan pertama. Kalian kerabatnya Reynald Tanuwijaya?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oh, saya adiknya.”sahut Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Orang tua kamu tampaknya sudah ada di situ, nak.”kata si perawat sambil menunjuk pada ruang tunggu gawat darurat.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard dan Cyntia melihat orang-orang yang dimaksud, dan mereka menghampirinya. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ah, Cynthia.”kata sang ayah. “Sudah lama kita nggak ketemu, apa kabar kamu?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Baik-baik saja om”jawab Cynthia dengan sopan. “Reynald bagaimana om? Dokter belum bilang apa-apa?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yah..”sang ayah menjawab dengan nada sedih. “Semoga dia selamat. Saya juga nggak ngerti kenapa dia bisa tabrakan. Setahu saya, dia selalu awas, kalaupun dia ngebut&#8230;Richard, kamu tahu dia kenapa?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Sama sekali nggak. Aku sih yakin dia selamat, nanti biar aku tanya. Mungkin ia sedang kesal&#8230;tapi&#8230; Reynald gak pernah seperti ini.. kayaknya ada yang gak beres dengan dia pa..”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Sebaiknya kamu tanya, Richard.” sang Ibu menyela. Matanya agak sembap dan pucat. “Mama khawatir dia kecelakaan karena banyak pikiran. Tapi tadi dokter-dokter bilang,  kondisinya kritis tapi bisa ditangani”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Tenang aja ma, nanti aku tanya”.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ya sudah, kalian berdua makan saja dulu di kantin situ. Enak-enak kok makanannya.”kata sang Ibu sambil menunjuk lokasi kantin.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard dan Cynthia, tanpa komando, langsung menyerbu kantin. Segala masalah ini membuat adrenalin tinggi dan pikiran pusing, yang berakibat pada perut yang lapar walau nafsu makan sudah agak menurun.<br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Menurut lu”,Cynthia membuka pembicaraan,”Reynald kenapa?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard yang sedang menunggu makanan langsung kehilangan nafsu makan. “Gua sebenarnya gak tahu, tapi kayaknya&#8230;.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Kayaknya apa Richard?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Michelle.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Michelle? Memang Reynald tadi ke sekolah gua?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yap.”jawab Richard dengan tegas. “Lu tahu sendiri lah kira-kira dia mau apa.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><br />
<span>”Oh&#8230;”Cynthia mengetahui maksud Richard. Reynald datang ke St. Lisieux pada hari Valentine ini bukan tanpa maksud. “Jadi&#8230;?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gua blom bisa ambil kesimpulan apa-apa..dan gua gak mau spekulasi yang aneh-aneh walaupun kira-kira gua tahu ada apa, kasihan Reynald”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oke Richard&#8230;semoga operasinya berhasil..kasihan dia.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Iya..”.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span>*<span>          </span>*<span>        </span>*</span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>3 jam adalah sebuah waktu yang cukup panjang untuk sebuah penantian. Setelah 3 jam, operasi terhadap Reynald selesai, namun ia belum sadarkan diri.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Mungkin tidak sampai 1 jam lagi dia sadar.”kata seorang dokter. Operasinya berjalan sukses, walaupun sebenarnya cederanya lumayan parah.&#8221;</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Memang dia cedera apa, dokter?”tanya ayahnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Patah tangan kanan, kaki kanan, dan beberapa rusuk di bagian kanan. Mungkin mobilnya terbentur di bagian kanan.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ya” kata ibu dari pemuda yang remuk itu. “Kata polisi yang mengabari saya, mobilnya memuntir ke kanan, menghantam pembatas pekerjaan jalan monorail, lalu tersungkur ke dalam lubang galian sebelum tertimpa alat bor.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Mobilnya tertimpa alat bor?!!”kata sang dokter tak percaya.”Untungnya dia tidak tewas.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Dia ga bakal mati semudah itu dokter. Kurang dramatis.”kata Richard dengan dingin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Sang dokter mulai bertanya-tanya, apa gerangan yang meluputkan Reynald dari kematian. Tapi yang jelas, apa yang ia dengar barusan sulit dipercaya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Baiklah, nanti akan saya check-up lagi dalam beberapa jam.”kata dokter itu sambil terburu-buru menuju ruang kerjanya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Keempat orang yang menunggui Reynald masuk ke dalam ruang perawatan tempat dimana Reynald sekarang berada. Reynald terbaring kaku dengan kaki ditumpangkan ke sebuah kain yang menggantung. Badannya dipenuhi perban, kecuali kepalanya yang hanya diplester di beberapa bagian. Tangan kanannya dibalut kencang.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gua gak berani lihat&#8230;”Cynthia merangkul tangan kiri Richard, berusaha mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang menyayat itu dan hanya memandang bahu Richard </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Tenang Cynthia, dia sudah bangun tuh.”kata Richard sambil menunjuk pada Reynald yang baru membuka matanya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald,dengan setengah sadar, berusaha bangun, namun gagal karena tubuhnya yang terluka dan diikat perban.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Reynald!”seru Richard pada kakaknya yang baru bangun. “Lu kenapa bisa begini?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Perlu jawaban?”Reynald menjawab dengan lemah.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Perlu&#8230;apa nanti aja?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Nanti saja.”kata Reynald yang langsung terkulai lemas, tampaknya ia masih belum kuat untuk bangun. Ia langsung berusaha tidur, namun ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi yang menunjukkan bahwa jiwanya telah hancur dan terinjak.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Richard, kamu tolong tunggui dia ya. Papa sama mama ada urusan sebentar.”kata sang ayah yang terlihat sedikit lega karena anaknya sudah sadar.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Eh? Tapi aku mau mengantar Cynthia pulang&#8230;”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gak apa-apa, Reynald. Rumah gua kan deket banget dari sini.” Cynthia menyela.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oke kalau gitu, papa cabut dulu ya. Sampai ketemu, Richard, Cynthia.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Tinggalah mereka bertiga. Seorang adalah siswa SMU kelas 3<span>  </span>yang hatinya bercampur aduk antara bahagia dan sengsara, seorang lagi adalah siswi SMU kelas 2 yang bersuara emas, anggun, dan memukau, dan seorang lagi adalah kakak dari orang pertama yang sedang terluka parah.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Mau cerita sekarang, Reynald?” Richard bertanya dengan halus pada kakaknya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gua cerita juga percuma” Reynald mengeluh. “Semuanya udah terjadi.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Memang ada apa, Reynald?” Cynthia sekarang yang terlihat khawatir. “ Lu kenapa sampai bisa kaya gini?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Lu tahu tujuan Richard ke sekolah lu?”Reynald bertanya tanpa basa-basi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“I&#8230;ya?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Itu pula tujuan gua. Bedanya, kali ini, gua yang harus ketiban sial.” Reynald mulai emosi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"> <span><span>“Yah, terserah deh&#8230;”ia mulai menunjukkan raut muka orang sekarat. “Michelle..”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Michelle kenapa?”Richard mulai tak sabar, ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Dan Reynald menceritakan semuanya tanpa sensor dan tanpa ditutup-tutupi, mulai dari apa yang ia lihat dari sampai apa yang ia rasakan. Sebuah kisah pendek beberapa menit yang semuanya adalah penderitaan, sakit hati, kehancuran, yang dilebur menjadi satu dan berakibat seperti apa yang dihadapi Reynald sekarang.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard dan Cynthia seakan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang sekarang terbaring dan terluka itu, namun hal apapun yang terkesan tidak mungkin, jika sudah terjadi, maka hal itu benar-benar mungkin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gua tahu&#8230;Michelle bukan apa-apanya gua, tapi..siapa yang gak sakit hati? Oke lah, Michelle juga bukan apa-apanya Erwin..tapi,yah, kalian putuskan sendiri mau mikir seperti apa.”Reynald menyambung pembicaraannya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Reynald..”Cynthia mencoba menenangkan orang yang sedang panik itu.”Kadang-kadang sesuatu gak terjadi seperti apa yang kita inginkan, tetapi lu harus percaya, segalanya bisa berubah. Lu gak bakal sadar kapan perubahan itu terjadi, tapi yang jelas, lu harus percaya.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Memang, tapi&#8230;.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p><span><span>Perkataan Reynald terpotong saat melihat seseorang yang<span>  </span>masuk ke dalam ruangannya.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=33&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/25/part-xvii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part XVI</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/17/part-xvi/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/17/part-xvi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 06:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/17/part-xvi/</guid>
		<description><![CDATA[Hari demi hari berlalu sejak Richard dan Reynald membuat sebuah rencana untuk Valentine. Setelah didesak oleh kedua orang tua mereka, akhirnya mereka mengakui bahwa mereka memang ingin memberi sesuatu untuk Valentine kali ini. Untunglah, kedua orang tua mereka dengan tanggap memberikan mereka alamat sebuah toko coklat langganan sang Ibu. &#160; &#160; “Toko coklat ini memang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=32&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Hari demi hari berlalu sejak Richard dan Reynald membuat sebuah rencana untuk Valentine. Setelah didesak oleh kedua orang tua mereka, akhirnya mereka mengakui bahwa mereka memang ingin memberi sesuatu untuk Valentine kali ini.<span>  </span>Untunglah, kedua orang tua mereka dengan tanggap memberikan mereka alamat sebuah toko coklat langganan sang Ibu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Toko coklat ini memang masih baru, tapi bikinan mereka bagus dan harganya juga rasional. Bicara langsung sama yang punya toko, bilang aja mama yang minta. Nanti pasti dikasih potongan, entah berapa. Mungkin agak banyak, soalnya tiap Valentine, toko ini laku keras. Jadi ya, penjualan naik drastis.”kata sang Ibu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Bagaimana kita tahu yang mana pemiliknya?” Richard bertanya. &#8220;Apa dia bertanduk apa berhidung jumbo gitu?&#8221;</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Menjelang Valentine, dia pasti pakai kemeja warna merah, dan terus dipakai sampai Valentie berakhir. Gampang kan? Udah sekarang kamu kesana, pesan coklat yang spesial, pilih model yang bagus. Ini uangnya.”kata sang Ibu sambil memberikan beberapa lembar uang.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Thanks mom.”kata kakak-beradik itu sambil berlari ke garasi dan tancap gas.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> Ibu dari kakak-beradik yang unik itu hanya tersenyum melihat kedua anaknya yang penuh semangat. Puluhan tahun yang lalu, semangat yang sama juga terpancar dari  suaminya. Mereka mulai pacaran kelas 3 SMA, tepatnya pada tanggal 14 Februari, dan menikah pada tanggal 14 Februari juga bertahun-tahun kemudian. Kebetulan yang aneh, kadang-kadang ia berpikir. Namun baginya, keanehan itu terasa membahagiakan. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>&#8212;-</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Kalender menunjukkan 13 Februari, dan 2 batang coklat sudah siap di kulkas. Coklat kali ini berbeda dengan coklat biasa. Keduanya berbentuk hati, dan di masing-masing coklat itu, tertulis nama Cynthia dan Michelle yang terbuat dari coklat putih. Keduanya terbungkus rapi dalam sebuah kotak plastik transparan yang diikat dengan pita pink. Dan ukurannya cukup besar, bisa dimakan berdua, atau jika lapar, dimakan sendiri.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Jangan lupa ya, Samuel. Di kelas banyak banget yang pesan bunga dari elo.”Richard berbicara di telepon pada teman sekelasnya yang memiliki usaha jual-beli bunga (tidak hanya mobil Kijang yang bisa jual-beli) terbesar di Jakarta. Namanya Samuel Sellflora. Seperti namanya, ia ditakdirkan untuk menjual bunga ke orang-orang tidak beruntung yang menjadi korbannya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Heh, no problem. Punya lo yang mawar biru kan? Dua buket.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yep.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Okay. See you tomorrow, and I expect the money.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Whatever deh, mata duitan luh.. bye”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard menutup telepon dengan perasaan yang berbunga-bunga. Demikian juga Reynald yang sedang menyelesaikan PR Kimia yang menumpuk bagaikan tumpukan jerami di pertanian. Rasanya analogi ini adalah yang paling pas.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"> <span><span>Ingin rasanya malam ini berlalu dengan cepat, karena keesokan harinya, mereka akan mengadakan long march cinta.Tepatnya dengan  2 buah  mobil.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“How do you feel right now? Senang?”Reynald bertanya pada adiknya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Senang sekali sehingga sulit sedih” Richard menjawab enteng.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Baguslah. Tidur duluan saja, nanti kesiangan lho.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Okay, good night.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Dan Richard pun menuju kamarnya untuk tidur. Ia tidak membuang-buang waktu untuk belajar, khusus malam ini. Seakan-akan besok ia harus tampil prima. Kembali, patung Darth Vader menghiasi malam ini dengan lightsabernya yang menyala.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Sambil berbaring di ranjangnya yang sudah mulai terlalu kecil untuk dirinya yang masih dalam taraf pertumbuhan (kata orang-orang), ia menatap langit-langit. Ia melihat stiker bintang-bintang berfosfor yang ditempel di langit-langit. Stiker-stiker itu tampak indah di malam hari, menenangkan hati siapapun yang tidur.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Semua orang pernah mendapatkan sebuah bintang dalam hidupnya, ia berpikir dalam hati.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span><i>Kapan bintangku akan tiba? Aku akan terus menunggu, dan mungkin, akan kuraih bintang itu. Langit akan kulompati dan bulan akan kuinjak demi menyentuh bintangku&#8230;</i></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Dan ia tertidur, penuh kegelisahan, namun ada sedikit kegembiraan dalam hatinya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Sekarang kita beralih ke kamar sebelah, dimana Reynald sudah bersiap-siap untuk tidur. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ia mematikan lampu dan menyalakan radio, sekedar untuk menenangkan hatinya yang juga galau. Namun tidak seperti adiknya, ia lebih ke arah gembira daripada galau. Dan ia sulit tidur saking gembiranya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Apa kabar bintangku? Ia bertanya dalam hatinya. Besok aku akan mengunjungimu, ke tempatmu berada, yaitu di langit. Aku akan melompatinya untuk mengantarkan sebuah tanda cinta. Dan yakinlah, aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Sampai kapanpun aku akan terus menunggu&#8230;</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span><span> </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><u><span><span>14 FEBRUARI</span></span></u></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>&#8220;Ini kan hari spesial nih? Bawa mobil masing-masing aja kan?” Richard bertanya pada kakaknya yang masih membereskan kemeja.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Maksud lu..”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yep. Percuma dibeli kalau gak dipakai. Mendingan dijual lagi untuk beli SUV.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald yang sedang menghabiskan roti panggangnya bergegas menuju garasi. Di situ ada sebuah mobil yang sampai sekarang masih ditutup dengan covernya. Langsung saja ia buka penutup mobil itu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Tampaklah sebuah mobil berwarna hitam, Jaguar S-Type yang masih mulus dan hanya sedikit berdebu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Agak sayang sih kalau pakai ini.”Reynald berkata pada adiknya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Terserah.”Richard menjawab.”Mau naik Jazz juga tidak masalah, mau naik skateboard pun, gua berani.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Tapi memang jarang dipakai sih, okelah. Daripada rusak dimakan debu. Bisa-bisa dicuri genderuwo”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&#8220;Reynald, genderuwo apa sih yang nyolong mobil? Dasar gila luh.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&#8220;Jelmaan siapa kali, ga tau, mungkin genderuwonya udah adaptasi, udah cukuran kali.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Akhirnya ia memutuskan untuk memakai mobil mewah itu. Ke sekolah.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ketika ia menstarter mobil itu, ternyata tidak bisa jalan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Bad sign.” Reynald berkata dengan penuh makna kepada Richard. “Jumper.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ya ampun..”Richard mengeluh. Ia lalu mengambil kabel jumper dari Land Crusiernya, lalu memasangnya pada aki Jaguar dan menyalakan SUVnya. Dengan segera, mesin mobil hitam itu menyala. Halus sekali bunyinya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Nanti jangan mogok lagi, bisa ditertawakan. Jaguar kok mogok.” Richard meledek kakaknya. &#8220;Ganti aja namanya jadi meong&#8221;<br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Bacot. Sudah, ayo kita pergi.” Reynald menjawab dengan terburu-buru. “Tapi kok perasaan gua gak enak..”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Bacot. Sudah, ayo kita pergi.” Richard membalas omongan kakaknya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Kemudian mereka berangkat bersamaan, melewati jalan-jalan yang belum ramai dengan kecepatan normal, tidak ugal-ugalan seperti biasanya. Dan setelah sampai di sekolah, mereka dengan terburu-buru masuk ke kelas masing-masing.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Kevin, Samuel ada?”Richard bertanya pada seseorang di dalam kelasnya yang sedang tidur.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Si&#8230;atlit gagal itu..mana mungkin datang jam segini..hoahm. Udah mendingan lu tidur aja. Gua juga pesan bunga sama dia.” Kevin sang atlit voli itu menjawab dengan malas.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oh ya, good idea.” Richard merespon dengan sedikit perasaan galau. Ia khawatir, kalau-kalau Samuel tidak datang.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Nanti ada pelajaran tambahan akuntansi.” Kevin mendadak nyeletuk sambil setengah mimpi. “Si brengsek itu mau merusak Valentine kita semua. Kalau tidak punya istri ya pelampiasannya jangan ke kita.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><br />
<span>”Memang sih, agak repot juga, soalnya jam pulang setiap sekolah kan hampir sama, sekitar setengah dua.”Richard menjawab celetukan Kevin dengan bete mampus.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><i>Kenapa akuntansi demikian susah</i>&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Itu dia. Ya sudah lah, apa mau dikata.” Kevin melanjutkan tidurnya. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Menit demi menit berlalu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Samuel! Dimana lo?!” Sebuah teriakan membangunkan Richard yang ikut tertidur di dalam kelas, menunggu bel masuk. Rupa-rupanya ia sudah tertidur 25 menit, dan isi kelas yang hanya 18 orang itu ternyata sudah ramai, hanya tinggal 4 orang yang belum datang, dan Samuel adalah salah satu dari mereka.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><br />
<span>”David&#8230;”Richard berbicara lirih. “Dia belum datang juga..?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Lihat sendiri, apa dia sudah datang? Aduh, bisa rusak acara gua.”David menjawab dengan panik. “Lihat ini, boneka sapi akan lebih bagus kalau ada bunga nya, bukan begitu?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard melihat boneka sapi yang dibawa David(hacker gila perusak database sekolah dan komputer kepsek). Boneka itu sangat, sangat lucu, namun Richard tahu bahwa Cynthia tidak suka boneka, karena itulah ia tidak mencari boneka apapun. Sapi itu berpita pink, sama seperti coklatnya yang disimpan dalam cooler box mini yang ia bawa ke dalam kelas.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Sementara itu di kelas Reynald, yaitu 3 IPA 3, suasana sudah sangat ramai, namun tidak ada yang membicarakan Valentine. Semuanya membahas PR, ulangan, dan rumus.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gak ngapa-ngapain hari ini?” Reynald bertanya pada seorang temannya yang bernama Mattheus.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gak, besok kita banyak ulangan, gak sempat kemana-mana nih. Tapi ya sudah lah, tuntutan hidup. Toh pacaran itu tidak penting” Mattheus menjawab dengan polos.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ow..”Reynald hanya bisa bergumam kecil. “Perasaan gua jadi orang tolol sendiri yang bawa cooler box berisi coklat.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Memang tolol sih.”Mattheus menjawab sedikit sinis.”Tapi tololnya kolektif kok, den</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>gan 5 orang lain di kelas ini, jadi lu gak sendiri. Ambil positifnya saja. Udah bikin PR Fisika? Nanti diperiksa lho.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Udah&#8230;.”Reynald menjawab dengan sedih.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Kembali di kelas 3 IPS 1, suasana cinta sangat terasa di antara anak-anak yang dianggap buangan oleh beberapa guru matematika, namun mereka adalah batu penjuru masyarakat.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Memang lebih bagus kalau sapi itu diberi bersama-sama bunga.” Richard menjawab omongan David mengenai boneka sapinya. “Kalau cuma itu, rasanya kurang.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yeah.”jawab David. “Moga-moga orang itu cepat datang. Apa dia gak kasihan sama Handy yang sudah bawa kue sebesar bagong itu?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard segera menengok ke meja Handy, dan ia melihat sebuah kotak BESAR dari sebuah toko ternama. Isinya ia tidak tahu, namun yang pasti, harganya mahal dan pasti pesanan khusus.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Lalu ia menoleh ke meja Brahma, teman sebangkunya, dan ia melihat boneka beruang yang bertuliskan : ‘ To my Valentine : I Love You’.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><i>Kelas gua isinya orang gila semua. Sayangnya, gua secara resmi mengaku kalau gua juga gila..</i></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ia lalu menoleh ke meja Kevin yang tepat di belakangnya, dan ia melihat sebuah kantong plasik berisikan sesuatu, seperti patung.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Apa isinya, Kevin?” Richard bertanya pada sang atlit voli.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>&#8220;Ribuan figurin anime. Dari Pokemon, Bleach, Naruto, Kenshin, alah, kaga bisa dihitung deh. Cewek gua suka anime banget sih, jadi ya udah, gua kasih nih ribuan figurin anime biar dia speechless&#8221; </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard cuma bisa bengong.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Heran? Elu sih tidur kelamaan.”Kevin melanjutkan omongannya. “Hampir semua di kelas ini membawa sesuatu untuk Valentine, paling-paling yang enggak cuma si Harold Mubay di pojok dan Arnold si jomblo dari Puri Indah. Come on, feel the love. Liat di belakang kelas kita yang luas ini, apa aja yang ada disana? Pernak-pernik Valentine.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><br />
<span>Richard melihat ke bagian belakang kelas yang kosong (bangku-bangku hanya mengisi setengah kelas). Di sana sudah banyak sekali pernak-pernik yang ditaruh di sebuah meja yang tidak terpakai,<span>  </span>mulai dari boneka lumba-lumba, coklat raksasa, hingga karangan bunga berbentuk hati yang berdiameter 50 centimeter. Tentu saja cincin dan perhiasan disimpan dalam tas masing-masing.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Tapi yang penting,” Kevin melanjutkan kuliah cintanya. “Lu memberikan sesuatu hari ini dengan penuh cinta. Apa artinya barang mahal kalau tidak ada cinta? Tell me, lu ngasih apa?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Dengan minder, Richard menjawab pelan.”Coklat, gak besar, ada namanya. Sama kayak punya kakak gua. Yah, emang rada bego sih, mungkin nanti juga plus bunga nya.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Nah yang seperti itu kan bagus.”jawab Kevin. “Gak usah beli raksasa, cukup sesuatu yang sedang-sedang aja. Omong-omong hadiah, mana<span>  </span>Samuel?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Kriiiing. Bel berbunyi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“SETAN!! Kemana dia?!” Kevin mengamuk.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Telat mungkin?” Richard mencoba menenangkan temannya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Dia datang mepet, tapi tidak pernah telat. Apa-apaan ini?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Sabar kali&#8230;</span></span><span><span>.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Pelajaran pertama selesai, namun tidak ada tanda-tanda kemunculan Samuel. Bagaikan detektif kesiangan,Richard yang curiga langsung mengecek ke ruangan dimana anak-anak telat biasa dikumpulkan dan dihukum, dan benar saja, tidak ada seorang pun yang telat hari ini.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ketakutan terbesarnya benar-benar terjadi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><i>oh tidak..</i></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard berlari seperti dikejar singa ke kelasnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Samuel nggak masuk!” Ia berteriak ke teman-teman sekelasnya. “Now what?!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Tentu saja, sumpah serapah keluar dari mulut mereka, anak-anak 3 IPS 1, yang notabene adalah pangeran-pangeran cinta yang hari ini akan mengunjungi sang luna masing-masing.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Mampus lu semua.”ejek Arnold. Seorang yang emosi langsung menghantamnya dengan botol minum, sementara yang lainnya mendorongnya dari kursi sampai terjatuh.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Setan alas!”teriak Kevin. “Kenapa dia?! Berani-beraninya!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Lalu seorang guru masuk dan memberikan kabar kurang enak.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Teman-teman sekalian,”kata si guru.”Apa betul ini kelasnya Samuel Chen ?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Betul banget tuh pak, bajingan itu!”tukas seorang anak yang emosi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Jaga omongan kamu! Kamu tidak tahu, dia tadi pagi mengalami kecelakaan, ia dihantam bis yang sedang lewat ketika menyebrang jalan!” Guru itu berteriak keras. “Dan ia luka parah! Lalu kalian masih menghina dia. Bagus! Saya minta kalian menjenguk dia sesegera mungkin.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>3 IPS 1 menjadi sesunyi kuburan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><i>Someone explain this thing&#8230;</i> Richard pun ikut diam dan lesu</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>** Waktu istirahat**</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Mana bunganya?” Reynald menghampiri adiknya yang sedang membeli minuman.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gak ada?” Richard menjawab dengan datar.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Hahaha, jangan bercanda lu.” Reynald tertawa. “Nanti pulang sekolah gua ambil ya.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Serius, beneran gak ada.” Jawab Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Maksud lu&#8230;?”senyum Reynald langsung lenyap.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard mengajak kakaknya ke tempat yang sepi, dan menceritakan apa yang terjadi dengan Samuel. Reynald seakan tak percaya akan apa yang terjadi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oh God&#8230;.”Reynald langsung lemas. “That is a bad news.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ember..”jawab Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Okay..so?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Masih ada kesempatan,<span>  </span>di dekat sini kayaknya ada yang jual bunga bagus-bagus. Tapi tetap saja lu berangkat duluan kan? Yah kalau ketemu, kasih tahu gua, toh tambahan Akuntansi hari ini hanya setengah jam.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Beres” kata Reynald. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Okay, good luck my brother.”Richard lalu melangkah pergi ke kelasnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>**** BEL PULANG****</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Richard, gua duluan yah.” Reynald berkata pada adiknya sambil berlari ke halaman parkir sekolah mereka yang cukup sempit itu. Kolese Peter van Honn memang tidak pernah memikirkan untuk memperbesar lapangan parkir mereka.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oke dadah. Kasih kabar soal bunga yah. Good luck.” Richard berkata sambil melambaikan tangan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard lalu masuk kelas 2 IPS 1 (yang memang hanya satu) untuk memulai pelajaran tambahan Akuntansi. Terlihat raut muka kurang senang dari teman-teman IPSnya, baik dari 3 IPS 1 maupun 3 IPS 2, karena acara Valentine mereka menjadi sedikit kacau.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Baik anak-anak” kata sang guru Akuntansi. “Hari ini kita belajar mengenai piutang tak tertagih.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Mimpi buruk IPS berlangsung selama 30 menit.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span>*<span>       </span>*<span>     </span>*</span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald menyetir Jaguarnya dengan kencang namun hati-hati. Ia tidak ingin merusak mobilnya itu. Dengan keringat dingin namun penuh semangat, ia mengambil semua tikungan dengan penuh perhitungan, antara kecepatan dan mata. Sambil menjaga jarak antar kendaraan, ia pun melihat-lihat kalau-kalau ada yang menjual bunga.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ketika ia sudah mendekati sekolah yang ditujunya –St. Lisieux-, ia melihat seorang penjual bunga di trotoar. Dagangannya sudah hampir habis, namun masih tersisa beberapa buah buket yang terlihat cantik. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ini dia, pikir Reynald. Ia menepi dan memarkir mobilnya untuk melihat-lihat bunga yang dijual. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Silakan bunganya.”kata si penjual. “Masih segar, lihat saja sendiri. Baru tadi pagi diambilnya.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald memeriksa bunga yang dijual itu. Asli, bukan sintetis.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ada mawar biru pak?” tanya Reynald.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oh ada, tapi agak mahal, soalnya langka” kata si penjual.”Rp. 100.000 satu buket.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Untung mama memberi modal cukup untuk Valentine kali ini. “Beli 2 buket pak, tapi yang satu lagi tolong disimpan dulu, nanti adik saya datang pakai mobil Land Cruiser, platnya B 2212 CA, jangan lupa ya.”kata Reynald sembari mengeluarkan uang pas.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Setelah mengambil bunganya, Reynald mengirim sms kepada Richard tentang lokasi penjual bunga, lalu melanjutkan perjalanan menuju St. Lisieux. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Macet. St Lisieux dipenuhi mobil-mobil yang akan masuk ke dalam. Terlihat pula beberapa anak dari sekolah lain berdatangan ke sekolah elit itu, ada yang membawa bunga, coklat, maupun keduanya. Hanya saja, mereka tidak memakai cooler box.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald ,dengan sangat sabar namun senewen, menunggu antrian masuk , namun karena menyadari bahwa tidak mungkin ada tempat di dalam, ia menepi ke kiri di samping trotoar dan memarkirkan mobilnya. Ia lalu menyeberang jalan dengan mudah (karena jalanan macet, tidak ada mobil yang bisa jalan.)</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Langkah demi langkah dilewati olehnya, dan ketika itu juga, ia melihat sebuah mobil yang ia kenal di kejauhan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Mercy S-Class berplat B 4444 XX. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Pikiran-pikiran yang merusak mood mulai berkecamuk di otaknya, namun segera ia singkirkan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ia berjalan dengan hati-hati, sangat hati-hati, sambil membawa coklat yang sudah dikeluarkan dari cooler box dan sebuket mawar biru yang indah. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Lalu, ia berhenti berjalan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Di gerbang masuk gedung sekolah, di dekat penjual majalah, di bawah kanopi yang teduh, Erwin sedang memberikan bunga dan coklat kepada Michelle.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Bunga dan coklat kepada Michelle.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Kepada Michelle.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Michelle.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald memperhatikan dari jauh, nafasnya sudah panas dan tenggorokannya mulai kering, namun ia tetap memperhatikan dari jauh, kalau-kalau Erwin menyudahi pemandangan yang membuat mata Reynald gatal.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Namun Erwin tidak kunjung pergi, ia tetap berada di situ. Sementara itu, ekspresi wajah Michelle terlihat sangat gembira. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Lalu Michelle memeluk Erwin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Dan mencium pipi kirinya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Erwin lalu mencium dahi Michelle dengan lembut, lalu menggandeng tangannya dan berjalan menuju Mercy S-Class miliknya. Michelle masuk ke dalam mobil mewah itu, setelah itu ia lenyap dari pandangan bersama dengan hilangnya mobil milik Erwin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Tinggallah Reynald berdiri diam. Di lapangan parkir St. Lisieux yang penuh. Sambil memegang bunga dan coklat. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ia tidak sanggup berkata-kata. Ia tidak mau berkata-kata. Ia benci berkata-kata. Matanya berkunang-kunang seperti kehabisan darah.Tenggorokannya sekarang benar benar kering, seret, dan sakit, seperti hatinya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Perasaannya ditusuk dan diburai oleh pemandangan romantis tadi. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk meraih bintangnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Hari ini bintangku diambil daripadaku. Itulah yang ia pikirkan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald berlari keluar dari lapangan parkir, penuh dengan rasa malu, sakit, dan kematian. Ia membanting bunga dan coklatnya ke tanah, dan menginjaknya. Ia masuk ke mobil dan membanting pintu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ia menghantamkan kepalanya ke stir hingga lecet dan sedikit meneteskan darah. Nafasnya sudah sesak, ia ingin menangis, tetapi ia tidak punya kekuatan untuk menangis. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar lagi. Ia lalu menyetel radio, dan tancap gas. Ia tidak peduli mau kemana. Ia ingin lari, lari dari kenyataan ini. Dengan kecepatan tinggi dan darah menetes, ia mengambil tikungan tanpa mengerem dan terus melaju.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Bunga dan coklatnya terlindas.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>20 menit kemudian, sebuah Land Cruiser mengambil tempat parkir kosong itu, yang anehnya, tidak ditempati siapa-siapa dalam waktu 20 menit. Pintu dibuka, dan keluarlah Richard dengan mawar biru dan coklat. Ia lalu menyebrang jalan dan masuk ke dalam gedung sekolah St. Lisieux.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Kenapa tidak ada seorang pun yang aku kenal disini?” Richard berpikir keras. “Apa mereka sudah pulang semua?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Ketika Richard masuk , seluruh teman-teman orkestranya yang bersekolah di St. Lisieux sudah berdiri dalam 2 baris di sisi kiri dan kanan lorong sekolah layaknya penyambut tamu di pernikahan. Mereka semua diam dan tidak bicara sepatah kata pun walaupun ditanya. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Dengan keheranan, Richard berjalan diantara 2 barisan itu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Mendadak, dari salah satu ruang kelas, Cynthia keluar sambil setengah didorong-dorong oleh beberapa temannya, namun ia tidak menunjukkan raut muka cemberut atau ketidaksukaan. Ia berdiri tepat di tengah-tengah barisan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Rupa-rupanya sudah ada panitia penyambutan di sini, entah siapa yang merencanakan, tetapi Richard sangat berhutang budi padanya. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard pun terdiam, entah malu, entah senang, entah kaget, tapi ia kembali berjalan. Langkah-langkah penuh makna diambilnya, sentimeter demi sentimeter dilalui, ia berjalan menghampiri Cynthia.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Lalu jarak aman sudah habis. Sekarang mereka saling bertatapan, saling berhadapan, dengan jarak yang cukup dekat untuk membuat suasana menjadi sedikit romantis. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard merasakan ada sesuatu yang menghalangi suaranya, namun ia dengan segenap kekuatannya, bisa mengeluarkan sedikit suara untuk mengucapkan sesuatu, sesuatu yang sekiranya bisa membuka perasaannya walaupun hanya sedikit. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Cynthia..” Richard membuka pembicaraan. Ingin sekali ia menumpahkan seluruh isi hatinya, namun sekarang belum saatnya. Belum saatnya hal ini dibicarakan. Belum ada momen yang tepat untuk ini, namun sekarang, ia mempunyai hal lain yang ingin dibicarakan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“..Happy Valentine.” Richard mengakhiri kalimatnya, dan menyerahkan bunga dan coklatnya kepada Cynthia. Keringat dingin mengucur. Layaknya seseorang yang akan dihukum mati, ia merasa sedikit ketakutan, gemetar, dan seperti drug addict yang sakaw.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Tapi semua itu sirna ketika Cynthia mengambil pemberian Richard. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Thanks yah. You’re so kind.” Cynthia membalas dengan sebuah senyum yang manis, yang meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Senyum seseorang memang bisa memiliki banyak arti, senyum seseorang bisa memiliki tujuan tertentu. Namun kali ini, senyum yang diberikan Cynthia adalah senyum yang tulus dari hati.Tidak pernah Richard melihat sebuah senyuman tulus diberikan pada dirinya. Baru kali ini, untuk seumur hidupnya, seseorang tersenyum dengan tulus padanya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Tepuk tangan menggemuruh dan siulan genit dilemparkan pada kedua orang itu. Dengan tampang malu-malu, mereka tersenyum pada orang-orang yang menyambut mereka.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“So Cynthia&#8230;”Richard melanjutkan pembicaraannya. “How about if we go somewhere? Just to hang out for today..?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Sure”jawab Cynthia. “Tapi tunggu sebentar yah, gua mau beresin kerjaan dulu. Ganti baju dulu saja, masa pakai seragam sekolah.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oke, no problem.”jawab Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span>*<span>    </span>*<span>    </span>*</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald menyetir mobilnya dengan kencang, dan ia sekarang berada di jalan HOS Cokroaminoto.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Selamat siang kawula muda. Request lagu dari saudara Arman akan kita mainkan. Ini dia Kerispatih dengan Kejujuran Hati!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Reynald naik darah mendengar lagu itu. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“<i>Sesungguhnya, ku tak rela, jika kau tetap bersama dirinya&#8230;</i>” demikian lirik lagu itu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><i>Terkutuk buat siapa pun yang request lagu ini di saat gua lagi gila!</i></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> Reynald segera mematikan radionya dan melaju terus menuju H.R. Rasuna Said. Dan pada saat itu juga, handphonenya berbunyi.Dari Richard. Ia langsung mematikan HP nya dan terus melaju. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard menelepon lagi. Kali ini Reynald benar-benar sebal dan ia merejectnya sekali lagi, lalu melempar handphonenya ke jok belakang. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span>*<span>     </span>*<span>     </span>*</span></span></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Berangkat sekarang yuk. Tugas gua udah selesai. Richard?” Cynthia berkata pada Richard yang masih bingung melihat layar handphonenya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Telepon gua di-reject sama Reynald dua kali. Lu liat Reynald gak?” Richard bertanya pada Cynthia.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Nggak tuh. Memang dia datang?.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Hah? Serius?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Aduh, beneran. Ngapain juga gua bohong?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oh oke. Ya udah, yuk berangkat.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard dalam hatinya khawatir akan Reynald. Instingnya mulai bekerja, dan perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard dan Cynthia masuk ke dalam Land Cruiser, dan berangkat menuju suatu tempat yang hanya Richard yang tahu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>30 menit kemudian..</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Richard masih menyetir dan bercanda dengan Cynthia. Mendadak sebuah telepon masuk ke handphone Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Sini, biar gua nyalakan loudspeaker.”kata Cynthia sambil menyalakan loudspeaker Nokia 6600 milik Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Thanks. Halo?” </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Halo.”suara itu menjawab.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Papa ya? Kenapa?” tanya Richard.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p><span><span>“Reynald kecelakaan di Kuningan.”</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=32&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2008/01/17/part-xvi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part XV</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/12/11/the-untitled-love-story-part-xv/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/12/11/the-untitled-love-story-part-xv/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 02:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/12/11/the-untitled-love-story-part-xv/</guid>
		<description><![CDATA[Malam semakin larut, namun Erwin dan Michelle tidak tampak semakin mengantuk. Obrolan yang diselingi dengan jurus-jurus memikat membuat keduanya semakin asyik berbicara. &#160; “Ah Michelle jahat nih. Kasih tahu donk siapa yang Michelle suka.” Erwin menggoda Michelle. &#160; “Mau tauuu aja, hehehe. Udah lah gak usah dipikirin siapa yang gua suka. Emangnya penting banget yah?” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=31&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Malam semakin larut, namun Erwin dan Michelle tidak tampak semakin mengantuk. Obrolan yang diselingi dengan jurus-jurus memikat membuat keduanya semakin asyik berbicara.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ah Michelle jahat nih. Kasih tahu donk siapa yang Michelle suka.” Erwin menggoda Michelle.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Mau tauuu aja, hehehe. Udah lah gak usah dipikirin siapa yang gua suka. Emangnya penting banget yah?” Michelle menggoda Erwin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Penting dong”. Senyum Erwin semakin lebar dan memikat, sekarang ia bisa menyaingi Ferdie dalam tersenyum. ‘Kan ada seseorang yang mikirin Michelle juga.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Oh ya, maksud Erwin, selain Reynald?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Iya, masa yang suka sama Michelle cuma Reynald? Pasti banyak lah!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">Pipi Michelle memerah mendengar gombalan itu, tapi bagaimanapun juga ia termakan oleh kata-kata manis dari Erwin.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Siapa? Kasih tau donk! Please!” Michelle memohon-mohon pada Erwin.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Eh gak bisa, kasih tau dulu siapa yang Michelle suka” Erwin mengejek Michelle.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yah kok jadi barter sih, cuma pengen tahu aja.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p>  <span><span>“Nanti juga tahu sendiri.” Erwin berkata dengan intonasi yang berbeda, kali ini dengan intonasi penuh cinta.</span></span></p>
<p align="center">***</p>
<p align="left"> 20 menit berlalu sudah sejak aksi perampokan itu berlangsung.  Tidak ada perampok yang selamat dari tangan korbannya. Kalimat ini memang membingungkan, namun itulah kenyataannya.</p>
<p align="left"> Richard dan Reynald, dibekali dengan kemampuan bela diri mereka, berhasil menghabisi orang-orang yang telah mendobrak rumah mereka itu. Walaupun demikian, Richard dan Reynald sedikit terluka di sana-sini dan memar di wajah.</p>
<p align="left"> &#8220;Richard, telpon polisi di deket sini&#8230; malas gua ngurusinnya.&#8221; Reynald memerintahkan Richard dengan santai dan tanpa intonasi.</p>
<p align="left"> &#8220;Yang bener aja kali!&#8221; Richard spontan berteriak. &#8220;Kita baru bunuh orang, tahu? Oke, ini bukan perampok pertama, tapi masa elo mau lepas tangan begini?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Gua bunuh orang, elo bunuh orang, dua-duanya mati. Ga ada bedanya kalau gua yang ngurus. Gua capek, mau tidur&#8230;lagipula kayaknya emosi gua mendapatkan pelampiasan yang tepat..&#8221;</p>
<p align="left">Reynald melangkah dengan lemas ke kamarnya sebelum Richard menarik bahunya.</p>
<p align="left">&#8220;Ayolah&#8230;&#8221;</p>
<p align="left">Dengan enggan, Reynald membersihkan kerusakan yang ada sementara Richard menelepon polisi terdekat.  Polisi yang ditelepon tidak menyangka bahwa mereka betul-betul membunuh perampok yang masuk sampai mereka tiba di rumah itu 20 menit kemudian.</p>
<p align="left">Dengan dua mobil patroli yang masih baru, empat orang polisi dan satu komandan tiba di rumah yang mewah itu. Komandan itu mengetuk pintu dan Richard membukanya.</p>
<p align="left"> &#8220;Bapak Richard ya? Saya John Tembak, panggil saya John, komandan polisi di daerah ini. Jadi katanya bapak menangkap perampok yang masuk ke rumah bapak? &#8220;</p>
<p align="left">Richard masih terpana dengan nama itu sebelum menceritakan apa yang terjadi.</p>
<p align="left">&#8220;Jadi pak Tembak,eh maaf, pak John , urusannya bagaimana? Saya membela diri lho.&#8221;</p>
<p align="left">Komandan John Tembak berpikir sejenak.</p>
<p align="left">&#8220;Ya sudah, mereka tampaknya memang perampok ahli yang beraksi di perumahan ini. Kami akan membawa mereka ke rumah sakit untuk diperiksa.  Kalau ada waktu, besok bisa beri keterangan di kantor?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Waktu sih ada pak, tenang saja.&#8221; <em>Yang ga ada tuh niat, monyong&#8230;</em></p>
<p align="left"> &#8220;Bagus-bagus. Ya sudah, kami akan lakukan tugas kami&#8221;.</p>
<p align="left">Komandan John Tembak memerintahkan anak buahnya membereskan mayat-mayat itu  dan membungkus mereka dengan body bag beserta senjata yang mereka bawa.</p>
<p align="left">Reynald membuatkan kopi kental bagi si Komandan polisi sambil mempersilakannya untuk duduk. Ia menceritakan kembali apa yang terjadi sebenarnya di rumah itu.</p>
<p align="left">30 menit, dan semua urusan selesai.  Uang sedikit berperan, namun bagi Reynald, yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan untuk tidur.  Mereka mandi lagi, dan Richard menemani Reynald tidur di kamarnya karena ia tahu kakaknya masih kesal terhadap Erwin.</p>
<p align="left"><em>Sudah saatnya gua mencoba kasur empuk si Reynald yang diumpetin di kolong ranjang&#8230;</em></p>
<p align="left">Mereka berusaha tidur ketika ada bunyi lagi di bawah.</p>
<p align="left">&#8220;Duh, apa lagi sih&#8230;&#8221;Reynald menggerutu.</p>
<p align="left">&#8220;Anak-anak!&#8221; suara terdengar dari bawah.</p>
<p align="left">&#8220;Itu papa sama mama! Reynald, turun bentar yuk&#8221; Richard mengajak kakaknya turun.</p>
<p align="left">Mereka berdua turun bersamaan ke lantai bawah untuk menyambut orang tuanya yang sudah pergi untuk beberapa waktu lamanya. Dengan mata setengah tertutup, Reynald menyambut orangtuanya.</p>
<p align="left">&#8220;Sori kami pulang kemalaman hari ini, jadi ganggu kalian. &#8221; sang Ibu berkata kepada anak-anaknya. &#8220;Habis ada kejadian lagi ya? Makanya, mama udah pesan kalian supaya pasang teralis besi yang kuat di tiap jendela. Gak pernah nurut sih. Tapi udah selesai kan?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Udah  ma. Iya deh, besok kita urus..&#8221; Richard menjawab dengan lemas. &#8220;Papa mana?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Lagi ke tetangga, ngasih oleh-oleh. Udah, kalian tidur aja&#8221;.</p>
<p align="left">Kakak beradik itu naik kembali ke kamar Reynald, lalu mengunci pintu dan mematikan lampu.  Sambil menerawang jauh ke langit-langit, dan ditemani sebuah senyum kecil, Reynald berkata pelan pada adiknya.</p>
<p align="left"><span><span>“Richard&#8230; kayaknya gua punya ide yang sekiranya bagus buat kita. Atau setidaknya, buat kita dan yang kita cintai.” Reynald menjawab. &#8220;Sebenarnya, gua lagi murung karena mikirin mau ngasih apa, dan gimana buktiin ke Michelle kalau gua lah yang mencintai dia secara tulus, bukan pelarian kayak si Erwin.&#8221;  </span></span></p>
<p align="left"> Richard melonjak kegirangan melihat kakaknya yang mulai berubah pikiran. &#8220;Nah gitu dong! Gimana ide elo?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Bulan depan kan Februari.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Terus?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Itu lho! 14 Februari!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Oh&#8230; hari jual coklat dan mawar palsu sedunia? Kenapa memangnya?&#8221;</p>
<p align="left">Reynald seakan tidak percaya dengan kebodohan adiknya.</p>
<p align="left">&#8220;Goblok. Itu Valentine&#8217;s Day,setidaknya kita memberikan sesuatu bagi orang yang kita sayang. Gak heran orang-orang bilang elo ga romantis!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Iya&#8230;terus?&#8221;</p>
<p align="left"><span><span>“Why don’t we give something to them? I mean, sesuatu yang bisa..yah&#8230;meramaikan Valentine ini.”</span></span> R<span><span>eynald mencoba meyakinkan adiknya.</span></span></p>
<p align="left">Richard yang tadi berseri-seri mendadak menjadi murung, lalu kembali merebahkan dirinya di kasur tambahan.</p>
<p align="left">&#8220;Bahkan gua sendiri pun enggak tahu mau ngasih apa buat Cynthia&#8230;&#8221; Richard menjawab sedih. &#8220;Yang pasti bukan coklat, kan? Katanya itu cowok yang dapat.&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Tepatnya : bunga dan coklat!&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Haha, elo berharap psikopat kaya gua bawa-bawa bunga? Gimana reaksi Cynthia nanti? Bisa diketawain gua!&#8221;</p>
<p align="left">Reynald malah mentertawakan adiknya. <span><span>“Heh, sekarang gua mau nanya. Lu sendiri mau nggak sih memberi sesuatu di Valentine ini? I mean, 17 years of your life and you have spared none of them for love. Gua tahu, lu pasti bingung harus gimana, beli bunga apa yang romantis, dan sebagainya. Tapi semua itu bisa diatur kalau tahu caranya. Nih, denger yah,<span>  </span>menurut 2 buku yang baru gua beli..&#8221;</span></span></p>
<p align="left">Reynald mengeluarkan 2 buah buku kecil tentang bagaimana memikat hati wanita. Ia membalik salah satu buku dan membuka halaman 139</p>
<p align="left"><span><span>&#8220;Nah! Menurut yang ini, sebaiknya kita ngasih bunga nggak sembunyi-sembunyi, tapi langsung secara jantan. Mungkin sedikit malu-maluin, mengingat sifat lu yang jaim itu, tapi ini perlu, Richard. Demi elo juga.” Reynald bicara panjang lebar atas bawah kiri kanan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Gua gak bilang kalau gua gak mau ngasih sesuatu.” Richard menegaskan pikirannya pada kakaknya. “ Yang gua bingung, keadaan pada saat kita ngasihnya.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Habis mau bagaimana? Ya hajar aja lah, disitu letak serunya!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p>  <span><span>“O..kay.”</span></span></p>
<p align="center">* * *</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Waktu sudah menunjukkan pukul 11.59 PM. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Dadah Michelle.”sahut Erwin sambil melaju dengan mobilnya</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Dadah, hati-hati di jalan ya.” Michelle melambai kepada Erwin, lalu ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Siapa sih sampai malam begini? Teman kamu yang biasa nelpon itu?”ibunya Michelle mendadak muncul dari dalam kamar.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Bukan, lain lagi. Dari orkestra juga sih.” Jawab Michelle dengan acuh.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Ah, dasar keseringan cari cowok. Udah sana, tidur. Besok harus ke gereja. Jam enam bangun ya.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Yaaaa&#8230;” Michelle menjawab dengan sangat, sangat malas. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi, menggosok gigi, lalu ke kamarnya dan langsung berbaring seperti karung beras yang dilempar.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>Sambil memeluk guling kesayangannya, Michelle terdiam, memikirkan sesuatu, tentang cinta, realita, dan kebohongan.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span> </span></span></p>
<p><span><span><em>Kenapa sih aku ini, dan mengapa semua ini terjadi</em>? </span></span></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=31&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/12/11/the-untitled-love-story-part-xv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Ask</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/i-ask/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/i-ask/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 13:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/i-ask/</guid>
		<description><![CDATA[Do you think I am talented? Honest =p<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=30&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Do you think I am talented? Honest =p</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=30&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/i-ask/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part XIV</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/the-untitled-love-story-part-xiv/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/the-untitled-love-story-part-xiv/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 12:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 14]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/the-untitled-love-story-part-xiv/</guid>
		<description><![CDATA[  Tiga minggu sejak tahun baru yang meriah itu. Richard dan Reynald mendapat kabar bahwa kedua orang tua mereka akan pulang bulan depan. Ini berarti kebebasan akan hilang 70% dibandingkan sekarang.  Sambil menikmati makan malam yang ringkas dan sedikit di dalam sebuah rumah besar yang seluruh lampunya sudah dimatikan kecuali lampu ruang makan itu, Reynald [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=29&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entry-header"><span><span></span></span><span><span></span><span></span><span></span></span><span><span> </span></span><span><span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span>Tiga minggu sejak tahun baru yang meriah itu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p><span><span>Richard dan Reynald mendapat kabar bahwa kedua orang tua mereka akan pulang bulan depan. Ini berarti kebebasan akan hilang 70% dibandingkan sekarang. </span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span>Sambil menikmati makan malam yang ringkas dan sedikit di dalam sebuah rumah besar yang seluruh lampunya sudah dimatikan kecuali lampu ruang makan itu, Reynald memasang tatapan sinis pada adiknya. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Huh”. Reynald mengeluh. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Kenapa sih?” Richard bertanya pada kakaknya. “Sudah 3 minggu terakhir ini sikap elo gak jelas banget, apalagi sama gua. Kadang sinis kadang senyum-senyum sendiri?&#8221; </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Hahaha, gak kenapa-napa Richard. Gua jadi senang aja melihat elo akhir-akhir ini. Kayaknya tahun baru ini bener-bener berkesan buat lu”</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Richard terdiam sebentar mendengar perkataan kakaknya itu. Tersirat di benaknya apa yang terjadi di malam tahun baru kemarin, sebuah kisah baru dalam hidupnya, api cinta yang redup dalam dirinya disulut kembali. Bahasa mudahnya, ia kembali bersemangat untuk kembali ke semangatnya yang dulu. Ia lalu menenggak air putih untuk menghilangkan kegugupan yang mendadak terjadi. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yah,”Richard menjawab kakaknya. “Memang bener sih. Gua juga..jujur aja, kaget”. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Hey, cuma itu respon lu?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Abis lu berharap gw merespon apaan? Tahu sendiri gua waktu itu juga&#8230;yah&#8230;antara senang, tapi takut juga.” </span></span></p>
<p><span><span>Reynald lalu memasang muka kecut. </span></span><span><span>“Ampun Richard!” Ia menegur adiknya.”Lu sampai takut? <em>Listen up, when a woman trusts herself<span>  </span>to a man, it is a sign of a good thing</em>. Bersyukurlah elo!” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“</span></span></p>
<p><span><span>Mungkin aja. Gua gak berani ambil kesimpulan apa-apa.”Richard menjawab dengan hati-hati. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Boleh tau kenapa?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Lu pasti udah tau, kalau seseorang berharap terlalu banyak, ia akan jatuh dengan sendirinya.”Richard menjawab dengan datar.</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Terserah apa kata lu deh.” Reynald berkata dengan malas-malasan.”Tapi gak ada salahnya bermimpi. Kita berdua itu sama, Richie. Dari dulu sampai sekarang, kita cuma bisa bahagia dalam mimpi.”</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Richard terdiam, kata-kata kakaknya memang benar. Dari dulu hingga sekarang, kebahagiaan sesungguhnya ada pada mimpi mereka, sesuatu yang tidak pernah nyata. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Tapi,”Reynald melanjutkan.”suatu saat nanti, pasti, salah satu dari kita akan bahagia. Entah kenapa, tapi firasat gua mengatakan, cuma ada satu.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Firasat lu gak pernah salah.”Richard menyela.”Walaupun sebenarnya gua berharap, kita berdua bisa bahagia sama-sama.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>*<span>             </span>*<span>             </span>* </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span>“Eh Erwin, ayo masuk.”Michelle berkata Erwin yang sedang berada di depan pintu rumahnya. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span><span></span></span></p>
<p><span><span>Rumah Michelle yang terletak di Pluit memang agak sulit dijangkau oleh Erwin. Namun, hari ini tampaknya cukup spesial baginya sehingga ia rela boros bensin dan tenaga. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Thanks yah. Gak usah repot-repot, cuma mau mampir aja kok.” jawab Erwin dengan ramah. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu. Rumah Michelle yang lumayan besar dan furnitur yang tersusun rapi membuat siapapun yang berkunjung ke rumahnya merasa sangat rileks. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“</span></span></p>
<p><span><span>Ada apa nih.”Michelle memulai pembicaraan.”Kok tumben datang ke rumah gua? Sore-sore lagi” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh gak ada apa-apa, cuma mau ngobrol aja, gua lagi bener-bener bosen di rumah. Adik gua juga lagi sibuk, banyak tugas.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Tetangga? Tuh kakak adik aneh di seberang rumah lu&#8230;kan bisa diajak gila bareng. Lu berdua biasa kebut-kebutan kan di jalan gede di luar kompleks?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Iya sih,”Erwin menjawab dengan kecut.”Tapi mobil gua lagi dipake sama keluarga semua.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span> </span></span></p>
<p><span><span>“Komputer?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Rusak.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Wah, kasian juga yah lu. Mau gua temenin bentar? Hahaha! Bentar yah, gua ambil minum dulu”</span></span></p>
<p><span><span>Michelle mengeluarkan jurus godaan nomor #5 : <em>Buat laki-laki merasa dihargai oleh si cewek untung memicu rasa GR</em> </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oke, thanks yah.” </span></span></p>
<p><span><span>Erwin mengeluarkan senyum memikat nomor #2 : <em>Tersenyumlah dengan manis biar si cewek merasa dihargai</em> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Dan, untuk sekedar informasi, hari ini ada seseorang yang sedang menebar cinta.</span></span></p>
<p align="center"><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>*<span>            </span>*<span>           </span>* </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“&#8230;dan mungkin progressnya akan makan waktu beberapa bulan, tapi setiap perjuangan pasti ada hasilnya.”Reynald masih meneruskan kuliah cintanya. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Ya, iya, whatever.”Richard mulai terlihat bosan dan mengantuk dengan perkataan kakaknya. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Heh, dengerin dong. Mau ngebujang seumur hidup?”Reynald berusaha membangunkan adiknya.</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Ya enggak lah!”Richard menjadi segar kembali setelah mendengar perkataan kakaknya.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Kalau enggak mau, dengerin!” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“</span></span></p>
<p><span><span>Iya, iya, tapi elo udah ngomong berjam-jam. Gak kasihan sama kuping gua ya?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak lah. Karena cinta itu lebih berharga dari kuping lu.”Reynald melantunkan satu lagi lelucon  garing. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yah, mulai kan. Udah deh, mendingan sekarang lu dengerin gua. Gantian kuping lu yang gua bunuh.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Go ahead, hehehe.”</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oke.”Richard menarik nafas panjang sebelum memulai perkataannya.”Semua yang lu bicarakan itu benar adanya, tapi gua selalu punya sesuatu hal yang mengganjal dalam diri gua.”</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Apa itu?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Terkadang, seseorang yang kita cintai adalah seseorang yang justru paling tidak ingin bertemu kita.”</span></span></p>
<p><span><span>Richard membawakan pendapatnya dengan sedih.”</span></span></p>
<p><span><span>Udah dua minggu, tapi dia jarang ngasih kabar yang begitu berarti. Kita juga belum tahu kapan latihan orkes lagi. Selalu begitu, kalau sudah agak mepet baru latihan. Padahal, momen latihan itu sendiri bener-bener berharga, either for you or for me.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Well,”Reynald menjawab adiknya.”lu bisa sms kek, telepon kek, telepati kek&#8230;.all roads lead to Rome.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“But you can get lost on your way to Jerusalem.”Richard membalas sinis. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh&#8230;”Reynald terlihat mengerti dengan perkataan adiknya.”Gak dibalas?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Enggak. Mungkin lupa, atau lagi nerima banyak.” </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Mereka sedang berbicara mengenai SMS. Apa korelasinya dengan cinta, silakan dipikirkan sendiri. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak mungkin begitu lah, kalau begitu buat apa dia ngajak pergi tahun baru kemarin. Elo sendiri memang kadang-kadang gak logis juga yah&#8230;</span></span><span><span>”</span></span></p>
<p><span><span>Reynald semakin heran dengan otak adiknya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak usah pakai logika dulu kalau bicara cinta.”</span></span></p>
<p><span><span>Richard menjawab.”Apa aja bisa terjadi, bahkan mungkin sesuatu yang tidak kita sangka sekalipun.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yeah, well, whatever.”Giliran Reynald yang bosan.</span></span></p>
<p><span><span>”Elo memang rendah hati, tapi kalau kerendahan hati malah bikin elo keracunan, mendingan gak usah” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Mendadak terdengar suara ‘krak’ dari lantai 2.</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Tuh kan”Reynald mendadak berbicara.”Rendah hati bisa bikin patah hati.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>&#8220;Bukan..&#8221; kata Richard dengan ekspresi yang mendadak berubah.</span></span><span><span> &#8221;Itu dari atas&#8221; </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Dengan sigap kedua saudara itu naik ke lantai 2 dengan diam-diam dan dengan sangat hati-hati. Richard melihat sebuah belati yang digunakan untuk hiasan dinding yang baru dibeli bulan lalu. Masih tajam. Ia mengambilnya dan memegangnya erat-erat, untuk jaga-jaga. </span></span><span><span></span></span><span><span>Dengan sangat hati-hati, Reynald memimpin barisan sambil merangkak di tangga, agar langkahnya tidak terdengar oleh siapapun, atau apapun yang sekiranya mendobrak masuk. Dan seperti yang ia sangka, ia melihat 4 orang berbaju hitam sedang mencari sesuatu di pojok lantai dua rumahnya yang luas. Pakaian mereka hitam-hitam, muka ditutup kain seperti ninja, seorang membawa linggis dan celurit. 3 orang dari mereka terlihat membawa<span>  </span>samurai. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Duh, pake senjata pula lagi. Yakin nih?&#8221;</span></span><span><span> Reynald berbisik sangat perlahan kepada adiknya.</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak lah! Elo kira belati bisa apa?&#8221; Richard menjawab dengan setengah panik. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>&#8220;Berarti harus ke kamar elo dong, kita harus buru-buru. </span></span><span><span>Reynald memberi solusi yang paling masuk akal. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Asalkan kita sampai kamar, mereka tamat.”</span></span><span><span>Richard tersenyum, sekarang dengan senyum dan tatapan yang lain dari biasanya. Sekarang ia terlihat seperti orang lain. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Eh, beneran nih?&#8221;Reynald bertanya. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“</span></span><span><span>Ayolah, kapan lagi sih? Udah lama kita ga senang-senang kaya gini!” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Dengan gerakan secepat kilat, mereka menerobos masuk ke dalam kamar mereka dan menutup pintu.Tentunya keempat maling itu langsung sadar akan apa yang terjadi barusan. </span></span></p>
<p><span><span>Bukannya kabur, mereka malah mendekati kamar yang baru terbuka itu. Tentunya mereka tidak akan membiarkan ada gangguan dalam merampok rumah mewah itu, dengan segala hiasan indah nan memikat yang benar-benar menunjukkan bahwa kedua remaja itu berasal dari keluarga kaya. </span></span><span><span></span></span><span><span>Belum sempat mereka menuju kamar itu, Richard dan Reynald menerobos keluar dengan menendang pintu kamar itu hingga keempat perampok itu tersungkur. Di tangan mereka adalah 2 bilah samurai..</span></span></p>
<p align="center"><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>*<span>        </span>*<span>        </span>* </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“&#8230;terus ya gitu deh, kacau banget pokoknya kalau si Reynald udah SMS, kayaknya dia memang kebanyakan baca novel-novel romantis, ketauan banget, soalnya gua kan suka baca juga. Baru tahu lho kalau dia suka baca kaya begitu.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Haha, dasar Reynald.”Erwin tertawa kecil.”Tapi Reynald memang kayak gitu. Banyak sekali hal yang bisa mempengaruhi dia, dari yang kecil sampai yang besar.”</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Yah, memang enak sih ada seseorang yang memperhatikan gue, tapi yah, gimana yah..”Michelle tampak tidak enak membicarakannya. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“</span></span></p>
<p><span><span>Banyak hal yang lu gak suka dari dia?”Erwin bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak juga, dia baik banget. Dia tipe orang yang gua suka dan cocok buat jadi cowok gua, tapi gua gak boleh bohong sama diri gua sendiri, kalau ada orang lain yang<span>  </span>gua juga suka. Yah, setidaknya baru-baru ini sih.”</span></span></p>
<p><span><span> </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Oh, siapa tuh?”Erwin semakin penasaran.”Anak orkes kah? Atau seseorang di sekolah lu? Setau gua, lu itu termasuk orang yang lumayan selektif.” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak jauh-jauh dari gua kok”. Michelle menjawab dengan senyum manis. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>&#8230;..Jurus memancing nomor #10&#8230; <em>Berikanlah tanda-tanda yang absurd pada seorang cowok</em> </span></span></p>
<p align="center"><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>*<span>        </span>*<span>        </span>* </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Selamat malam,..”Richard membuka pembicaraan. “Tiga kesalahan yang telah kalian lakukan di sini.” Richard mengacungkan jempolnya. “Pertama, kalian mau mengambil barang-barang yang bukan milik kalian.”Ia melipat jempolnya dan mengangkat telunjuk. “Kedua, kalian sudah mengganggu kita berdua yang sedang membicarakan cinta. Saya, selaku pemilik rumah, merasa terganggu. Apalagi saya sedang ada masalah cinta..” Ia melipat telunjuknya, dan mengacungkan jari berikutnya.”Ketiga, kalian pikir kami ini lemah ya?” </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span><span></span></span></span><span><span></span></span><span><span>Salah seorang dari mereka, yang membawa celurit, tanpa dikomando lagi langsung menyerbu ke arah kedua saudara itu sambil mengayunkan senjatanya. Richard menendang orang itu hingga terpental ke tangga dan terguling hingga ke bawah. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span>Richard lalu mengayunkan senjatanya dengan cepat ke perampok yang satu lagi dan menebas tepat di lehernya. Dalam sepersekian detik, darah menyembur ke arah muka Richard dan orang itu jatuh tak bernyawa. </span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>Mendadak, orang yang terguling di tangga kembali bangkit dan menyerbu Richard, sementara dua orang yang lainnya menyerbu Reynald yang belum siap dan bertahan sebisanya. </span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Reynald! Elo ngapain!” Richard berteriak panik melihat kakaknya menghadapi dua orang sekaligus. </span></span></p>
<p><span><span></span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span>“Gak bisa&#8230;.dicabut&#8230;&#8221; jawab Reynald dengan terengah-engah ketika dua orang perampok yang mengincarnya mengayunkan senjata mereka dari arah yang berlawanan. </span></span><span><span></span></span></p>
<p></span></span></h3>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=29&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/10/the-untitled-love-story-part-xiv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part XIII</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xiii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xiii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 11:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 13]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xiii/</guid>
		<description><![CDATA[31 Desember telah tiba. Sesuai rencana, mereka memang akan menonton sebuah film silat, dengan lokasi : MKG. Richard pergi bersama kakaknya, Helena dan Michelle, sedangkan Cynthia sudah pergi duluan ke sana karena kakaknya juga perlu pergi ke situ. Tidak seperti biasanya, Richard yang matanya agak kacau jika hari sudah malam itu(alias rabun ayam) nekat menyetir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=28&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"></span></span><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 7.5pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><font color="#ffffff">31 Desember telah tiba. Sesuai rencana, mereka memang akan menonton sebuah film silat, dengan lokasi : MKG. </font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 7.5pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 7.5pt 0 0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><font color="#ffffff">Richard pergi bersama kakaknya, Helena dan Michelle, sedangkan Cynthia sudah pergi duluan ke sana karena kakaknya juga perlu pergi ke situ. Tidak seperti biasanya, Richard yang matanya agak kacau jika hari sudah malam itu(alias rabun ayam) nekat menyetir sendiri Jazz hitamnya yang sering dipakai kakaknya balapan di dekat Plaza Senayan itu. </font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 7.5pt 0 0;" class="MsoNormal"><font color="#ffffff"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="color:#ffffff;"></span></font></p>
<p><font color="#ffffff"><span style="color:#ffffff;"><font size="2" face="Verdana">&#8220;Heh, orang aneh, udah siap belom lo? Hahahaha!&#8221; Michelle mengejek Richard.</font> </span><span style="color:#ffffff;"></span></font></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText2"><font color="#ffffff"><span><span>“Pertanyaan bagus, non.” Richard menjawab. “Hari ini gak ada persiapan mental apapun. Pokoknya gua hari ini modal nekat aja. Lagipula, gua mau coba sedikit lebih waras. Sekali ini saja.”</span></span> </font></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Wah, kayak lagunya Glenn Fredly.” Jawab Reynald. “Tenang aja, kita berdua nggak bakal ganggu lu berdua kok. Beneran deh, sumpah dua jari. Tiga deh”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Sekarang bukan masalah diganggu atau enggak. Masalahnya cuma bagaimana kita melewati malam tahun baru ini. Biasa saja atau menyenangkan, cuma itu kan pilihannya?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oh, pertanyaan retoris lagi dari Profesor Richard!”ejek Reynald. “Tentu saja malam ini menyenangkan. Who doesn’t want to spend the New Year’s Eve with someone special?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Udah ah, lu berdua jangan ribut melulu. Iiih, pusing dengernya. Nanti si Richard tabrakan lho.” pinta Michelle kepada kakak-beradik yang ribut melulu itu. “Tuh. Helena saja sampai ketiduran.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oi, bangun, baru jam 6 sore nih.”kata Reynald pada Helena sambil membangunkannya.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Udah, biarin aja. Toh macet begini. Bangunkan kalau kita udah dapat parkir di dalam.”kata Richard.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Jazz Hitam itu melaju dengan hati-hati di antara kerumunan mobil-mobil yang akan masuk ke dalam tempat parkir mengikuti sebuah mobil Jazz warna Pink yang catnya membuat silau mata orang-orang. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff"><em>Kenapa sih ada yang milih mobil dengan warna begini&#8230;</em>Richard bergumam</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Ketika Jazz Hitam itu melaju kedepan, mengikuti mobil sejenis yang berwarna pink di depannya, tiba-tiba mobil pink itu seperti kehilangan remnya dan meluncur ke belakang dengan kecepatan yang lumayan. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Brakkkk&#8230;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Richard segera menarik rem tangan untuk menstabilkan posisi mobilnya agar tidak terseret ke bawah. Sementara itu, Jazz Pink di depannya sudah berhenti, namun bagian belakangnya penyok, demikian juga dengan Jazz Hitam milik Richard. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“What a good way to spend this evening..” Richard bergumam dalam hati sambil keluar dari mobil. Dan yang tak ia sangka adalah, ia mengenali siapa pengemudi Jazz itu.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ferdie?” Richard melongo keheranan.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Richard?! Aduh sori banget sori-sori-sori banget!”ujar Ferdie dengan nada suara yang ketakutan.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ferdie, mobilnya kita bawa masuk dulu aja, disini bikin macet.” kata Reynald pada Ferdie. “Sekalian periksa kerusakan.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Kedua mobil itu dengan segera mencari tempat parkir yang terdekat. Beruntung, ada dua mobil yang keluar bersamaan. Mereka segera menempati tempat parkir yang baru ditinggalkan itu. Setelah parkir, masing-masing pemilik mobil memeriksa kerusakan yang terjadi.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Lihat? Warna pink di Jazz Hitam ditambah penyok. Untung gua gak pake Land Cruiser.” Kata Richard pada Reynald.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ya, kalau Land Cruiser yang lu pakai, kasian Jazz nya si Ferdie, tau nggak! Bemper Land Cruiser lu itu udah kaya benteng Pamplona; yang nabrak siapa, yang rusak siapa.”jawab Reynald. “Faktanya, adikku sayang, sekarang kita menggunakan Jazz Hitam dan Jazz ini tidak didesain untuk menghadang tank.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Kalau Jazz saja didesain untuk menghadang tank, tank buat apa dong? Udah lah nggak usah ngelantur terus. Mendingan sekarang pikirin deh, bagian depan mobil ini bentuknya sudah kacau. Sudah gak mungkin lagi dibawa jalan-jalan, remuk begini.” Michelle memotong pembicaraan mereka. “Haha, jadi ingat puding gua yang gak sengaja jatuh terus terinjak kaki gw sendiri.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Please, jangan bikin gua tambah ngeri.” Richard menjawab dengan gugup.<br />
”Sekarang mau diapain ya? Dibawa ke bengkel? Gua gak tahu bengkel terdekat di mana. Lagian udah mulai macet.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oh gampang. Tanya saja sama mobil pink yang menabrak kita” jawab Helena dengan senyum sinis sambil menunjuk Ferdie yang sedang berjalan menghampiri mereka.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Wajah Ferdie tampak sedikit cemas, namun di wajahnya masih tersirat senyumnya, yang seperti kita telah ketahui, amat memikat.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ferdie.”kata Richard. “Monster apa yang bisa bikin lu hilang konsentrasi kaya tadi?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Monster cinta kali, hehehe”Ferdie menjawab dengan culun.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ya udah lah, bisa tolong bantuin mikir mobil gua enaknya diapain? Rusaknya lumayan nih. Mobil lu sendiri gimana?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Rusak juga lah.” Ferdie menjawab dengan santai.”Tapi memang gak separah ini sih,cuma penyok sedikit banget, soalnya kan mobil lu yang ada di bawah. Untung nggak ada lampu yang pecah. Kalau soal mobil lu diapain, gua juga gak tahu. Mungkin minta tolong supir lu untuk antarkan mobil yang lain, terus yang ini dibawa ke bengkel atau dibawa pulang dulu.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Kalau supir gua masih ada sih gua gak usah nanya lu.”jawab Richard. “Atau..”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Atau apa?”tanya Ferdie.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Richard memberikan senyum sinis.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“You do that thing..oh..ya gua inget. Lu punya koneksi bengkel kan?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ya, trus? Lu minta gua buka paksa itu bengkel?” Ferdie bertanya keheranan.”Gila aja, tahun baruan kali.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Atau lu minta gua telpon keluarga lu? Bokap dan nyokap sekaligus? Richard bokap lu, gua nyokap lu. Nomor lu yang satu ditelpon bokap, yang satu lagi ditelpon nyokap. Silakan pilih.” Reynald ikut-ikutan.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Jangan lah, gila banget sih lo.”Richard menanggapi komentar kakaknya yang sinis itu.”Udah lah Ferdie, bengkelnya kasih duit lebih aja, biar malam ini juga selesai.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Mana bisa selesai malam ini?”Ferdie semakin bingung dengan ide gila kakak-beradik ini.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Reynald, yang sudah mulai muak dengan semua ini, mulai melihat ke arah mata Ferdie dengan tajam. Tak sedetik pun pandangannya ia alihkan. Seketika, Ferdie mulai menggigil, ketakutan, dan kakinya seperti hampir lumpuh. Matanya pedih, mulai mengucurkan air mata, nafasnya sesak, dan seluruh tubuhnya kesemutan.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oke&#8230;gini&#8230;gua bakal ke rumah lu, supir gua juga gua suruh ke sini&#8230;gua minta kunci mobil lu, salah satu aja&#8230;supir gua bakal bawa mobil lu ke rumah lu untuk ditukar&#8230;nanti gua juga ikut biar orang rumah lu percaya&#8230;terus gua balik lagi ke sini&#8230;dengan mobil lu..” Ferdie berbicara dengan sedikit gemetar dan gagap.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Land Cruiser. Gak pakai lama.” Reynald menambahkan. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Ferdie langsung melesat menuju lokasi yang agak terbuka untuk mencari sinyal handphone, sementara itu, yang lainnya masuk ke dalam mall, menuju lokasi yang telah ditentukan. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ferdie baik juga ya. Mau mengantar mobil lu.”kata Helena kepada Richard.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Yah, dia memang orang baik sih.”Richard menjawab dengan menahan tawa. &#8220;Lumayan baik lah..&#8221;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Suasana di dalam gedung itu begitu ramai, banyak sekali pasangan muda yang menjalin cinta di malam hari yang romantis itu.Richard, yang melihat sedemikian banyak orang-orang yang dimabuk cinta, menarik nafas panjang dan mencoba tidak memikirkan apa-apa.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Setelah sekian menit berjalan menuju bioskop, Richard berbisik kepada kakaknya.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Sadis lu.”kata Richard. &#8220;Tapi teknik itu masih bisa juga ya? Gua kira udah mulai ilang..&#8221;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Justru gua mau berterimakasih sama lu. Kalau Ferdie gak dibikin pusing sama lu, belum tentu mempan.”jawab Reynald. &#8220;Lagipula, belum ilang semuanya&#8230;&#8221;</font></span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:0.8em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">*<span>        </span>*<span>          </span>*</font></span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Itu Cynthia tuh. Liat nggak? tanya Michelle pada Richard.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Iya-iya, gua liat kok..”jawab Richard.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Keempat orang itu segera menghampiri Cynthia yang sedang duduk di sofa bioskop. Gading XXI penuh sekali pada malam itu, karena banyak orang yang ingin menghabiskan malam tahun baru di mall itu, 99% adalah orang berpasangan. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Sorry, kita telat gak? Ada sedikit masalah di bawah tadi.”Richard berkata pada Cynthia.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Sama sekali nggak kok. Yuk beli tiketnya.”jawab Cynthia dengan lembut.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Mereka membeli tiket, dan menonton..</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Film itu menggambarkan kisah seorang wanita yang memiliki kecantikan luar biasa dan semua orang terpikat padanya, namun, apa yang ia miliki tidak lepas dari campur tangan Dewi Nasib yang menjanjikan kekayaan dan kecantikan yang ditukar dengan janji sang gadis, bahwa walaupun ia cantik dan memiliki segalanya, semua laki-laki yang mencintainya akan mati, dengan cara apapun. Ia tidak akan mendapatkan cinta, kecuali&#8230;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Kecuali jika sungai mengalir ke atas, waktu berputar kembali, dan orang mati hidup kembali.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Dan akhirnya, waktu memang diputar kembali&#8230;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Namun bagi Richard, waktu serasa berhenti. Terutama ketika ia melihat Cynthia berada di sampingnya, ketika itulah, waktu serasa berhenti, dan ia ingin memutarnya kembali.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Siapa yang tidak mau memutar waktu kembali, pikir Richard. Jika Richard adalah seorang ksatria yang berperang melawan cinta, maka ia sudah kalah dengan tubuh bersimbah darah.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Dan Richard hanya bisa tersenyum jika ia melihat wajah Cynthia, karena mulutnya telah terkunci rapat..</font></span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:0.8em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">*<span>        </span>*<span>          </span>*</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Wow”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Reynald hanya bisa berkata satu kata itu saja ketika melangkah keluar dari bioskop.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Yeah, wow.” Richard menimpali.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Astaga, lu berdua nggak ada komentar lain apa?”keluh Michelle.”Filmnya lumayan bagus juga yah, memang agak-agak bikin bingung, tapi bagus kok. Garing deh elo berdua&#8230;”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Yah, lumayan lah buat double date.”gumam Helena pada keempat temannya.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Hah?!”Richard menjawab kaget.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oh gak ada apa-apa kok.” Helena menimpali sambil tersenyum kecil. “Nah sekarang enaknya ngapain? Kayaknya masih lama sebelum jam 12 nih. Ada usul? Nanti kan ada kembang api ya?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ya, mendingan kita makan malam aja dulu di La Piazza, sekali-kali lah, kan jarang-jarang juga kita bisa kumpul begini.”jawab Cynthia.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Umm, dinner?” Richard seperti tidak percaya.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Iya, ayolah&#8230; kan udah gua bilang waktu itu.. kapan lagi bisa ngumpul-ngumpul bareng gini?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Michelle mendekati Richard sambil berbisik.“Kok pucat amat sih, ayo dong deketin atau apa lah. Kan lucu melihat lu jalan berdua..hahaha..jia you”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Richard hanya bisa diam. Tanpa komentar.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Dan terjadilah, sebuah momen baru di malam tahun baru, sebuah kenangan indah di pojok kota Jakarta. Momen cinta seseorang yang membenci cinta. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Dan kali ini juga, ia ingin agar waktu berhenti dan beputar balik, kembali ke detik-detik indah dimana cinta mengalahkan ego nya. Sekarang, Richard adalah ksatria anti cinta yang kepalanya sudah dipenggal oleh cinta. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:0.8em;color:#003399;"><font color="#ffffff">*<span>        </span>* <span>          </span>*</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 ketika mereka berlima sedang menikmati angin malam di La Piazza. Sambil melihat-lihat band yang sedang mengisi malam tahun baru dengan lagu-lagu pembawa semangat, mereka meminum kopi yang sekiranya bisa menahan mata agar tidak jatuh tertidur. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Yakin kembang apinya terlihat dari bawah sini?” tanya Michelle.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Wah, gak tau.” Jawab Cynthia. “Gimana kalau kita naik ke atas aja, mungkin lebih keliatan, lagipula lebih gak banyak orang. Semua kan pada ngumpul di dekat panggung.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oke lah, di railing aja ya sekalian cari angin” Reynald menambahkan.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">&#8230;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Oke guys&#8230;Manuver Cinta Nomor 2. 15 menit lagi, oke?”Reynald berkata pada Helena dan Michelle.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">..</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">&#8230;&#8230;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">.<em>Mereka semua ngobrol sembari melihat-lihat pemandangan dari atas&#8230;semuanya terbawa dalam perasaan, dalam keindahan, dan dalam&#8230;</em></font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><em></em></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><em></em></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><em><font color="#ffffff">Cinta?</font></em></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">&#8220;Cynthia,&#8221;tanya Richard &#8221;kok tumben-tumbenan banget ngajak-ngajak pergi? Tapi gua senang sih, elo ada usul begini, kita semua bisa ngumpul bareng.&#8221;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><font color="#ffffff"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;">&#8220;Yah, soalnya gua ngerasa kita ga bakal ada waktu lagi untuk ngumpul begini&#8230;entah kenapa.. tapi ya, akhirnya kita ngumpul juga kan? Sekarang elo kelas dua, gua kelas satu SMA..sebentar lagi elo dan Reynald kelas tiga..dan bakal lulus, ga ketemu lagi dong?&#8221; Cynthia menjawab dengan polos. &#8220;</span></span><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;">New Year..it&#8217;s beautiful&#8230;&#8221;</span></span></font></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">&#8220;Ya&#8230; it&#8217;s..beautiful..&#8221;</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Richard..?”tanya Cynthia pada Richard yang sedang menenggak habis minumannya dan bersandar pada railing.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Ya?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Lu senang sama kembang api nggak?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Senang banget kok. Kadang-kadang bisa bikin kita merasa tentram.”jawab Richard dengan sedikit gugup.”Kalau lu sendiri?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Gua juga senang banget sama kembang api.”jawab Cynthia dengan penuh senyum.”Gak cuma bikin tentram aja, tapi entah gimana gua senang banget melihat kembang api..kayak anak kecil saja ya.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Nggak kok.”Richard menjawab sambil tersenyum. “Setiap orang kan punya kesukaannya sendiri-sendiri.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Tapi gua merasa kayak anak kecil. Habis, masa kelas 1 SMA masih senang lihat kembang api?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Nggak masalah kok, yang penting lu punya sesuatu yang bisa lu senangi. Betul kan?”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Iya..” Cynthia menjawab sambil tersenyum manis. Wajahnya terlihat menanti penuh harap sambil melihat ke arah langit.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Diantara mereka berdua tidak ada yang sadar bahwa Reynald, Helena, dan Michelle sudah lama meninggalkan mereka berdua, mencari tempat lain sambil memperhatikan dua orang yang tersisa itu. Kedua orang itu terdiam melihat langit malam yang sepi, tanpa angin, yang terdengar adalah suara band yang bermain di panggung dan tawa orang-orang di sekitarnya. Namun kedua orang itu tidak bergeming, tidak bersuara, hanya tersenyum.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Dan ketika itulah, sebuah kembang api meledak tepat di hadapan Richard dan Cynthia. Sebuah kembang api besar berwarna merah cerah, digabung dengan hijau. Cynthia terkagum-kagum melihat kembang api yang indah itu. Tatapan matanya berbinar-binar seperti berlian yang disinari cahaya matahari. </font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Richard hanya tersenyum melihat kembang api yang indah itu. Selang beberapa detik, muncullah beberapa kembang api kecil berwarna biru, oranye, dan kuning, yang menyinari malam itu. Ia melihat orang-orang di lantai bawah memberi salam, meniup terompet-terompet kertas, dan tertawa terbahak-bahak.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff"><em>This is my best New Year experience</em>, Richard bergumam dalam hati. Jamnya menunjukkan pukul 00.02.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Sebelum Richard sempat berkata-kata kepada Cynthia di tahun yang baru, Cynthia dengan perlahan-lahan merangkul tangan Richard dan menyandarkan kepalanya pada bahu Richard.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Happy New Year&#8230;Richard.” Cynthia berkata kepada Richard sambil melihat kearahnya dengan senyuman yang indah.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Richard membisu kaku. Ia tak mampu lagi berpikir, namun pada akhirnya ia memberanikan diri mengucapkan sesuatu.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">“Happy New Year too&#8230;Cynthia.”</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Cynthia menyandarkan dirinya pada Richard sambil menikmati kembang api yang seakan-akan tidak pernah habis itu. Warna-warni kembang api yang berpijar melambangkan sesuatu yang baru, pengharapan yang baru, dan harapan yang baru bagi kedua orang itu.</font></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span style="font-size:1em;color:#ffffff;"><font color="#ffffff">Dan Richard, pertama kali dalam hidupnya, merasa bahagia dalam arti sesungguhnya.</font> </span></span></p>
<p></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=28&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xiii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part XII</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 11:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 12]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xii/</guid>
		<description><![CDATA[PART XII 4 hari setelah kematian Victoria&#8230; ia dikuburkan di sebuah pemakaman yang cukup mewah, setidaknya cukup representatif akan strata keluarganya. Anggota orkestra, semua tanpa kecuali, juga hadir di situ. Dari yang paling yunior sampai yang paling senior seperti Helena dan Richard. Air mata dari puluhan manusia membasahi tanah, dimana dibawahnya adalah tempat orang-orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=27&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PART XII</strong></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText2"><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span>4 hari setelah kematian Victoria&#8230; ia dikuburkan di sebuah pemakaman yang cukup mewah, setidaknya cukup representatif akan strata keluarganya.</span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText3"><span><span></span></span></p>
<p><span><span>Anggota orkestra, semua tanpa kecuali, juga hadir di situ. Dari yang paling yunior sampai yang paling senior seperti Helena dan Richard. Air mata dari puluhan manusia membasahi tanah, dimana dibawahnya adalah tempat orang-orang yang sudah berakhir masanya di dunia ini untuk melanjutkan bagian kedua dari perjalanannya di suatu alam sana, entah yang penuh awan, entah yang penuh api. Dan Victoria telah ikut dalam rombongan orang-orang yang sudah ‘pindah’ itu.  </span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><font size="3">Selayaknya pemakaman seseorang yang ramah dan dikenal banyak orang, pemakaman ini diwarnai dengan acara kehilangan kesadaran, alias pingsannya Erwin setelah meraung-raung seperti kesetanan. Dan untuk pertama kalinya, Richard melihat Erwin seperti itu&#8230; hancur dan roboh bagaikan bangunan tanpa batu penjuru.</font></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">1 jam berlalu setelah doa penutup diucapkan dan rombongan pengiring jenazah pulang. Erwin masih terkapar dengan nafasnya yang masih satu-satu dan belum teratur. Sementara Richard dan yang lain berusaha menyadarkan dia dengan mengibaskan angin dan meletakkannya di bangku yang cukup lebar, Reynald hanya melihat dari jauh. </font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">Erwin mulai sadar, namun belum sepenuhnya pulih. Richard mulai kesal dengan tingkah kakaknya.</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Mungkin lain kali gua bakal coba untuk diam aja kalau ada kebakaran. Siapa tau, apinya bisa mati sendiri.&#8221; Richard berkata kepada kakaknya dengan nada sedikit sebal.</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Gak usah sinis, toh, Erwin udah bangun juga. Ga butuh gua untuk bangunin dia, itu dia udah bangun sendiri. Yang jelas, kita ga mau sampai kemalaman disini, ga mungkin elo mau ninggalin dia dengan keadaan kaya gitu disini.&#8221;jawab Reynald. &#8220;Michelle juga ga ada yang nganter pulang.&#8221;</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Ya udahlah, mendingan sekarang elo cari minum buat Erwin. Yang di dekat sini aja, air putih botolan yang dingin&#8221; Richard berusaha mengontrol keadaan.</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Kenapa gua?&#8221;</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Kenapa enggak?!&#8221;</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">Akhirnya, Reynald dengan enggan mencari penjual air minum. Di kompleks kuburan. Sementara itu Richard, Helena, Cynthia, dan Michelle, menemani Erwin dan menenangkannya.</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Reynald udah beli minum&#8221; Cynthia bertanya pada Richard.</font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><font size="3">&#8220;Udah&#8221; jawab Richard.</font></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">Michelle sedang mengipas-ngipas Erwin dengan kipas plastik bergambar Sailor Moon. Erwin kelihatan kepanasan dan lemah sekali, tidak seperti biasanya. </font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="3">&#8220;Duh, mendingan dia cepetan deh, liat aja sendiri si Erwin, udah knockout kaya gini, daritadi dia ga bisa berhenti teriak, nangis, pasti capek..&#8221;kata Michelle.</font></span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText2"><span><span style="font-size:0.8em;"></span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Yah, tunggu aja bentar ya. Paling enggak dia udah istirahat.” jawab Richard.  Sembari menunggu kakaknya, Richard membaca sebuah batu nisan besar, tampaknya milik orang Inggris.</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“</span></font></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Eleonor Blake”</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“1915-2005”</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Disamping nisan itu berdiri pula nisan yang serupa, persis sekali dengan nisan milik Eleonor Blake. Tampaknya itu adalah makam istrinya.</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Patricia Winston Blake”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">1921-2005”</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Dibawah kedua informasi jenazah tersebut, Richard membaca sebuah tulisan diatas sebuah batu yang menghubungkan kedua kuburan tersebut.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“We, as a married couple, love each other and protect each other. Even if the time flows backwards, the dead come back to life, and rivers flow uphill, we will not be separated. We will hold together, we will stand together..”</span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Perhatian Richard teralihkan ketika Reynald datang membawa 2 botol air putih, masih dingin dengan 2 sedotan. Richard meminumkan air putih itu pada Erwin yang terkapar lemas di bangku kuburan. Setelah menenggak hampir sebotol penuh, Erwin mulai terlihat normal kembali, seakan-akan tenaganya kembali. Namun, tidak ada minuman apa pun yang bisa menyembuhkan cakaran di hatinya, bekas luka yang akan membekas selamanya. </span></font></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Kematian telah memisahkan seseorang dari dunia, dan seseorang itu telah dipisahkan dari orang-orang yang mencintainya.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“&#8230;until death takes us apart”&#8230;adalah kalimat terakhir yang tertulis di batu besar itu.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Dan Richard berdiri, melangkah pergi dari lokasi itu sambil mengajak semua orang yang ada di situ untuk pergi, pulang ke rumah duniawi.</span></font></span></span></p>
<p align="center" style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText2"><span><span></span></span><span><span></span></span></p>
<p align="center" style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText2"><span><span style="font-size:0.8em;"><font size="1">*<span>        </span>*<span>          </span>*</font></span></span></p>
<p><span><span></span></span><span><span></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"><span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Malamnya, Cynthia menelepon Richard.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Kayaknya Reynald lagi ada masalah ya?”tanya Cynthia</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></span></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Gak juga sih&#8230;emang kenapa?”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></span></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:0.8em;"><span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Keliatannya, dia ada masalah, udah beberapa hari dia jadi agak aneh. Terutama..sama Erwin?”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Richard bingung harus menjawab apa.</span></span></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"><span> </span></span></span><span><span style="font-size:0.8em;"><span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Umm, gua rasa sih begitu, tapi yah, secara detailnya pun gua enggak yakin.”jawab Richard dengan gugup.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Ya moga-moga gak ada apa-apa deh. Kayaknya gua tahu kenapa Reynald jadi berubah seperti itu, tapi yah semoga aja gak bener. Mungkin ada hubungannya sama Michelle? Tapi belom tentu juga yah&#8230; biarin aja dulu, liat perkembangannya.”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Ya, liat perkembangan dulu aja. Gua juga heran kenapa dia jadi berubah kayak gini. Dulu dia gak seperti ini, lebih kalem, lebih sabar, sekarang dia jadi agak lebih berani. Bagus sih, cuma agak nekat aja.”Richard menjelaskan dengan hati-hati.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Hahaha, emang bener sih. Oh iya, lu udah nonton film The Promise? Katanya sih bagus loh. Lu suka film silat kan? Nah, yang ini film silat tapi romantis.”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Oh, belum sih. Trailernya sih kelihatan bagus, cuma ya, namanya juga trailer kan?”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Iya sih, tapi siapa tahu kan? Giman</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">a kalau malam tahun baru nanti kita nonton? Sekalian jalan-jalan gitu, bosen gua di rumah terus. Beberapa orang aja, ajak kakak lu sama Helena kek, ajak Michelle kek. Gak seru khan kalau tahun baruan cuma di rumah. ”jawab Cynthia dengan semangat. &#8220;Kapan lagi bisa tahun baru rame-rame? Kita udah SMA, sebentar lagi kita kuliah, udah kepisah jauh-jauh semua.&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Wow, pikir Richard. Baru kali ini, dalam 17 tahun kehidupannya di dunia, seorang perempuan mengajaknya hang out, apalagi yang mengajaknya adalah seseorang yang ia cintai.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span> <span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Oke.”jawab Richard.”Nanti gua omongin sama kakak gua ya Cyn. Tempatnya?”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Umm, nanti gua pikirin lagi deh.”jawab Cynthia. “Di deket-deket sini aja ya.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Oh oke deh. Besok kabarin yah”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Haha sip deh, see you at New Year’s Eve yah Richard. Bye-bye”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Bye juga.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Telepon tertutup dan harapan terbuka. Richard melangkah masuk ke dalam kamar Reynald. Ia melihat kakaknya sedang terduduk di ranjangnya, ekspresi mukanya memang terlihat kurang senang, namun ia menunjukkan senyum yang terlihat palsu pada adiknya.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span> <span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Ada apa?” tanya Reynald.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Oh, gak apa-apa. Cynthia ngajak kita nonton The Promise malam tahun baru nanti. Sekalian tahun baruan rame-rame.”jawab Richard.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Oh oke&#8230;”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span> <span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Kalau gua boleh tanya, ada apa sih? Jelasin sesuatu, biar gua gak pusing.”tanya Richard pada kakaknya.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Gak ada apa-apa sih, cuma, ya gitu lah. Mungkin gua yang kurang peka. Kayaknya gua kurang bisa memahami Erwin, mungkin cuma itu.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Karena akhir-akhir ini dia sering nelpon Michelle? Kan udah gua bilang kalau dia memang lagi cari seseorang yang bisa diajak ngobrol, yang bisa menghilangkan kesedihannya.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Yah, mungkin aja.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Gua tahu, lu pasti agak curiga sama Erwin, tapi percaya gua, Erwin gak ada maksud apa-apa.”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Ya udah, gua percaya. Tidur sana, gua juga mau tidur.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Oke, dadah.”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Richard melangkah keluar dari kamar Reynald yang penuh dengan puzzle yang tersusun rapi dan dipigura, dilengkapi dengan home theatre yang yahud.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Richard..” Reynald memanggil Richard sebelum ia keluar.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span> <span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Ya?”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Jangan terlalu excited dengan semua ini. Gua gak mau melihat lu sedih lagi kayak dulu&#8230;dengan seseorang itu..”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">“Gua tahu, Reynald. Gua akan hati-hati. Thanks, gua juga berharap Michelle gak menjadi kanker dalam diri lu.”</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"></span> <span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';">Dan keduanya tertawa kecil. Kedua orang itu kini kembali menuju alam mimpi dimana semua yang terjadi adalah semu, namun penuh harap. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Georgia','serif';"> </span><span></span><span></span></p>
<p></span><span></span></p>
<p></span></span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=27&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/11/05/the-untitled-love-story-part-xii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part XI</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/28/the-untitled-love-story-part-xi/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/28/the-untitled-love-story-part-xi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 16:18:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/28/the-untitled-love-story-part-xi/</guid>
		<description><![CDATA[Part XI “Kartu natal dari Cynthia?” tanya Reynald pada adiknya. “Yep, and a nice one I’d say” jawab Richard. &#8220;Bagus ya&#8230;kayaknya ini yang limited edition..&#8221;  “Menurut gua, sebaiknya rasa senang itu elo simpan dulu deh. Ngerti kan kenapa?” “Ngerti kok. Lagian, kita memang musti cari cara supaya Erwin gak kenapa-kenapa. Soalnya, gua tahu persis arti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=26&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entry-header">Part XI</h3>
<h2><span><u></u></span></h2>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kartu natal dari Cynthia?” tanya Reynald pada adiknya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yep, and a nice one I’d say” jawab Richard. &#8220;Bagus ya&#8230;kayaknya ini yang limited edition..&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Menurut gua, sebaiknya rasa senang itu elo simpan dulu deh. Ngerti kan kenapa?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ngerti kok. Lagian, kita memang musti cari cara supaya Erwin gak kenapa-kenapa. Soalnya, gua tahu persis arti penting Victoria buat Erwin.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oh ya?” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Yep” jawab Richard dengan yakin. “Erwin sering cerita tentang Victoria ke gua. Mereka memang kadang-kadang keliatan dingin, kadang-kadang keliatan pasangan hot. Kadang-kadang keliatan seperti sedang cekcok, kadang-kadang keliatan seperti suami-istri. Memang membingungkan bagi orang lain, namun buat yang tahu apa yang sebenarnya ada dibalik hubungan mereka, semuanya itu indah.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oh” Reynald menimpali dengan dingin sembari setengah melamun.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">”</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Memang menurut elo, hubungan mereka itu hubungan yang gimana?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yah, katakan saja mereka saling mengerti satu sama lain. Mungkin, disitulah indahnya kalau seseorang punya orang lain yang mau mendampinginya, dan sang pendamping itu bisa mengerti perasaan yang didampinginya, dan juga sebaliknya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Jadi, intinya mereka klop, cocok, pas dan sebagainya?” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Menurut gua sih gak cuma pas. Mereka saling mencintai satu sama lain. Bukannya apa-apa, tapi sampai sekarang, pasangan paling ideal ya mereka ini. Belum pernah lihat yang lain.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Reynald bertanya keheranan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> “Even our parents?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yes” jawab Richard dengan tegas.”Ini bukan hal yang gampangan, soalnya kalau bicara tentang hati seseorang, kita gak akan pernah tahu apa isinya, bahkan sampai salju turun di musim panas dan orang mati bangkit pun kita gak bakal pernah tahu. Yang jelas keliatan ya Erwin sama Victoria itu memang cocok. Mungkin di dalam hati mereka, ada sesuatu yang lebih besar yang ada di luar bayangan kita. Jadi, sekarang mungkin elo bisa paham gimana rasanya menjadi Erwin yang kehilangan seseorang yang bener-bener berarti&#8230;setidaknya elo melihat sendiri gimana hasilnya..” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Hh” Reynald menghela nafas panjang. “Mungkin mereka memang cocok. Gua sekarang jadi heran, kenapa lu yang bisa ngomong setinggi itu masih jomblo sampai sekarang, belum pernah pacaran lagi. Padahal, gua kakak lu sendiri yang harusnya tahu tentang adiknya. Dan juga, gua udah pernah pacaran, tapi kayaknya gua ga mikir setinggi itu..” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oh” Richard menjawab lesu. “Kalau soal itu, gua sendiri pun gak tahu. Ada kalanya gua merasa gua itu seseorang yang, yah katakanlah, talkatif kalau dibandingkan dengan lu. Padahal kenyataannya gak selalu begitu. Rada-rada susah bergaul dengan cewek mungkin, kalau dibandingkan dengan lu. Dan sejak kejadian yang bener-bener nusuk itu&#8230;gua semakin ga tau harus gimana dengan cewek. Dan gua gak percaya zodiak bullshit yang<span>  </span>bilang kalau orang Libra itu romantis lah, Cancer itu pendiam lah, atau sebagainya. Mungkin itu satu kelebihan, atau mungkin kekurangan gua.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Bisa dua-duanya.” jawab Reynald. “Kalau hal itu benar, itu kekurangan lu, kalau hal itu salah, itu kelebihan lu. Menurut gua, gak ada salahnya kalau elu sekarang berusaha cari tahu identitas diri lu yang sebenarnya itu siapa.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Identitas diri?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ya. Identitas diri. Really helpful in building your relationship, I’d say. Ya udah, thanks udah balikin otak gua ke dunia. Gua mau mandi dulu” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Reynald beranjak dari teras depan menuju ke dalam rumah, sekarang giliran Richard yang ingin menikmati udara malam yang sejuk dengan hawanya yang menggigil. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oh ya Richard.”tanya Reynald. “Ada satu hal yang belum pernah gua tanya sama lu.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Apa itu” tanya Richard. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Apa artinya Cynthia buat lu?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yerusalem.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jawaban Richard itu membuat Reynald semakin heran dengan adiknya, si tukang kata-kata aneh. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yerusalem? Memang apa hubungannya Yerusalem dengan Cynthia?” tanya Reynald. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
”Baca aja sejarah Perang Salib dan lu bakal tahu arti pentingnya Yerusalem.”jawab Richard <span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
”Oke, gua gak ada waktu untuk baca buku. Secara singkat saja deh”</span></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oke. Yerusalem adalah segalanya. Jerusalem is everything” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“That’s it?”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Masih ada penjelasan, tapi lebih baik lu mandi dulu. Rada panjang nih”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">*<span>        </span>*<span>          </span>* </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Erwin!” teriak seorang wanita setengah baya di dalam rumah di seberang rumah Richard.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ya?” jawab Erwin yang juga sedang merenung di teras, memikirkan apa yang terjadi hari ini, sesuatu yang terjadi dengan cepat namun akan hilang dengan lambat. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Telepon buat kamu. Namanya Michelle” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Segera Erwin mengangkat telepon dengan penuh kebingungan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Untuk apa Michelle meneleponnya? Untuk menghiburnyakah? Atau untuk menambah segala bencana? </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tapi ia tak perduli. Ia angkat telepon itu. Ia sudah terlalu hancur untuk dihancurkan dan terlalu sedih untuk dibuat menangis. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">* <span>       </span>*<span>          </span>* </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Udah siap menjelaskan omongan lu tadi?” tanya Reynald pada adiknya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:5pt 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Sebelum itu, gua ingin tahu pandangan lo mengenai Michelle.”jawab Richard. &#8220;Gua rasa, lebih baik kita bahas sesuatu yang lebih rasional dan bermasa depan cerah&#8230;dibandingkan kasus gua dan..yah..elo tau lah..&#8221;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Reynald mengangguk, dan mulai memberikan jawabannya tentang Michelle. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p style="margin:5pt 0 3pt;" class="MsoBodyText2"><span><span style="font-size:0.8em;">“Yang pasti gak serumit pikiran lu.<span>  </span>Waktu pertama kali gua deket sama Michelle, gua ngerasa ada seseorang yang jauh lebih baik, lebih terbuka, dibandingkan begitu gua jadian sama&#8230;ya si itu tuh” Reynald menjelaskan dengan hati-hati.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“I see. Jadi lu menemukan seseorang yang, katakanlah, lebih baik dari si itu?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yep. Now it’s your turn.” Reynald merespon dengan tidak sabar. &#8220;Gua rasa, itu udah cukup&#8221; </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oke, kak. Pendapat gua tentang Cynthia juga gak serumit yang lu duga. Seperti yang gua katakan tadi, dia itu Yerusalem. Terlalu berharga untuk diungkapkan. Tapi kalau mau diungkapkan juga, gua sendiri susah.<span>  </span>Mungkin lu harus bongkar badan gua terus periksa isi hati gua. Itu pun kayaknya belum cukup.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Reynald menjawab dengan santai sambil mengetik SMS.“Terus kalau yang itu? Yang dulu ada sekarang tidak ada?” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Richard mulai terpancing emosinya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Yang itu&#8230;menurut gua..sebaiknya gak usah dibahas. Gua merasa bego banget waktu itu, sekarang gua gak mau mengulanginya lagi.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oh” Reynald merespon dengan santai. Lagi. “Gimana kalau hal yang sama terjadi dengan Cynthia. Apakah lu akan separah dulu lagi? Apakah lu akan&#8230;yah..kembali merasa orang paling gak beruntung di dunia?” Reynald lalu mengirim SMS yang dia ketik. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">*<span>        </span>*<span>          </span>* </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Jadi gitu ya masalahnya, ya udah Erwin, gua rasa itu memang udah rencana Tuhan. Kita gak tau kapan seseorang pergi, kapan seseorang datang.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“ Emang sih, tapi gimanapun juga, walaupun gua merelakan dia, gua tetep kehilangan banget, Michelle. Gua gak tau musti gimana, gua ngerasa gua udah gak punya tujuan dalam hidup gua.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jawab Erwin. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Gak juga kok. Semua orang punya jalannya masing-masing. Eh sori ada SMS.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Oh oke? Dari siapa?” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Reynald.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">*<span>        </span>*<span>          </span>*</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kalau itu terjadi lagi&#8230;kalau itu terjadi lagi..” Richard merasa seakan-akan dipukul tengkuknya. “Maka gua akan hormati keputusan dia. Secara total” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Total?” tanya Reynald meyakinkan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ya. Total&#8230;.Udah ah mau tidur. Besok masih sekolah tau.” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">‘Ya udah. Tidur duluan sana.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Setelah Richard pergi ke kamar, Reynald menunggu di teras dengan penuh harap. Menunggu sebuah jawaban. Dari sebuah SMS. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan yang ditunggu tiba. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">‘</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><em>Hai Reynald. Sori nih gak bisa sms-an lama-lama, padahal udah agak lama juga gak sms-an. Gua lagi telpon sama Erwin, tau sendiri kan ada apa, ya gitu deh. Sori banget yah. Latihan berikutnya minggu depan kan? Sampai ketemu minggu depan ya. GBU.</em>’ </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=26&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/28/the-untitled-love-story-part-xi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story PART X</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-x/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-x/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 15:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 10]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-x/</guid>
		<description><![CDATA[..near Christmas  &#8220;Jauh amat, kita mau kemana sih?&#8221; tanya Richard  “Ada yang masuk rumah sakit” jawab Reynald. “O ya? Siapa?” “Victoria” Laksana tersetrum kabel listrik tegangan tinggi, Richard tersentak. “Hah, yang bener aja?! Setahu gua, semalam dia cuma demam.” “Lho, kak Victoria katanya cuma kena demam kok. Berarti parah banget ya?” Lizzie menambahkan. “Bisa jadi, Liz.”jawab Reynald. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=25&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>..<em><u>near Christmas</u></em> </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>&#8220;Jauh amat, kita mau kemana sih?&#8221; tanya Richard </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ada yang masuk rumah sakit” jawab Reynald.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“O ya? Siapa?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Victoria”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Laksana tersetrum kabel listrik tegangan tinggi, Richard tersentak.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Hah, yang bener aja?! Setahu gua, semalam dia cuma demam.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Lho, kak Victoria katanya cuma kena demam kok. Berarti parah banget ya?” Lizzie menambahkan.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Bisa jadi, Liz.”jawab Reynald. “Banyak banget penyakit yang awalnya hanya dikira demam karena flu biasa. Bisa saja dia kena flu burung atau sejenisnya.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Aduh, gimana dong..kasian koko Erwin kalau sampai kak Victoria kenapa-kenapa”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Yah, moga-moga sih enggak, Liz” jawab Reynald dengan setengah panik. Keringat dingin pun menyelimuti badan semua orang di dalam mobil itu. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Jazz hitam itu terus melaju dengan cepat, menyalip mobil-mobil yang bagaikan siput di jalan raya beraspal hitam panas. Dan sampailah mereka di sebuah rumah sakit. Sebuah rumah sakit berstandar internasional. Jika rumah sakit ini sebagus yang dibicarakan, tentu nasib Victoria tidaklah seburuk yang dipikirkan.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Harapan belum tentu menjadi kenyataan, dan kenyataan belum tentu sebagus yang diharapkan, baik itu keinginan untuk hidup atau untuk mati, kesembuhan atau kelumpuhan, cinta ataupun benci. Tidak ada yang mutlak diprediksi. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Orang sok simpel bilang : mati ya mati aja&#8230;</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tapi kenyataannya, mati tidak sesimpel itu..</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Sesampainya di lobi rumah sakit, mengunjungi resepsionis, Erwin sudah menunggu mereka di lobi. Mukanya pucat, matanya sayu dan tidak terlihat berbinar seperti biasanya. Tidak ada semangat hidup yang terlihat di wajahnya. Bagaikan terkena AIDS dikomplikasikan dengan jantung koroner plus asma dan hepatitis, Erwin terlihat mati jiwanya. Bahkan sebuah patung pun terlihat lebih hidup. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Erwin…” sapa Richard</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Richard…Reynald…thanks for coming but….I don’t think she still has a chance..” jawab Erwin.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ada apa Erwin?” tanya Reynald. “Victoria kenapa?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gua..gua gak tau…kata bapaknya…tadi pagi dia makin parah…katanya sesak nafas….rahangnya kaku…terus langsung dibawa kesini” jawab Erwin. “Dia kena tetanus”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Hah?? Terus?!” tanya Reynald keheranan.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak tau, dia masih di ruangan.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard, Reynald, dan Lizzie hanya bisa terdiam. Menunggu detik-detik berlalu bagaikan aliran sungai. Tidak ada kabar apa-apa dari dalam. Erwin sesekali dihibur, namun seperti membakar air, tidak ada hiburan apa pun yang dapat menyemangati Erwin. Kedua orangtua Victoria juga ada di situ, bersama dengan kedua adik kembarnya. Mereka juga terlihat sama seperti Erwin, kehilangan jiwa. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan waktu pun berjalan terus. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>1 jam. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>2 jam. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>3 jam. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>4 jam. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>5 jam. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tidak ada kabar. Keempat sahabat itu semakin stress. Lizzie sendiri takut kakaknya akan jatuh sakit, sementara Richard dan Reynald khawatir kalau-kalau hal yang terburuk terjadi pada Victoria. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Setelah 5 jam tepat, dokter keluar dari ruangan tempat Victoria berbaring. Layaknya seorang dokter, ia tidak berekspresi, seperti robot, dan, seperti istilah Richard : tanpa cinta. Ia memanggil semua orang yang menunggui Victoria. Ketiadaan ekspresi, baik senyum maupun tangisan, baik mata yang berbinar maupun pandangan kosong, membuat semua orang itu, terutama Erwin, tidak dapat menebak-nebak.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“<em>Cephalic Tetanus” </em>kata sang dokter. “Penyakit ini langsung menyerang otak dan menyebabkan symptom tetanus yang lebih parah dibandingkan dengan tetanus biasa. Serumnya tidak berhasil, kami sudah mencoba sebisa kami.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Seketika itu juga, otot-otot kaki Erwin langsung lemas, syarafnya seperti lumpuh. Ia jatuh ke lantai dengan berlutut. Air mata yang sudah menggenang sejak beberapa jam yang lalu tertumpah ke pipinya, mengalir deras, mengucapkan kata-kata kesedihan dan pilu, bagaikan menggambarkan rasa sakit yang dialami Victoria. Ia meraung-raung seperti kesetanan. Lizzie tidak mampu berkata-kata. Reynald pun terdiam. Ayah dan ibu Victoria menangis , demikian pula kedua adik kembarnya. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan Richard?</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard bingung, cemas, dan sekaligus merasa sakit. Ia tahu apa yang dialami Erwin, ia tahu kepedihan yang dialaminya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan ia membayangkan jika hal yang sama terjadi pada dirinya, jika seseorang yang ia cintai meninggalkan dia untuk selamanya. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard langsung gemetar, sembari menghibur Erwin yang nyaris pingsan, Richard menerawang ke arah lapangan parkir dengan setengah melamun. Sekilas terbayang angan-angan buruk, dan Richard langsung membuang jauh pikiran itu, berharap sesuatu tidak akan terjadi. Richard adalah seorang yang mudah dijangkiti trauma, sebuah trauma adalah proyektil peluru <em>shotgun</em> yang selamanya bersarang dalam tubuh.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ia tidak menginginkan sesuatu yang sama terjadi pada Cynthia. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard melihat tubuh Victoria dari kejauhan, di atas sebuah ranjang putin&#8230;terbaring kaku. Walaupun sudah tak bernyawa, namun kecantikan Victoria seperti tidak pernah hilang. Lalu wajahnya yang indah itu ditutup kain putih&#8230;.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoBodyText"><span>*<span>          </span>*<span>            </span>*</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Thanks banget yah udah mau datang. Thanks udah nemenin gue sampai saat terakhirnya dia. Gimanapun juga kalau gak ada kalian, gue gak tau sekarang gue udah gimana. Thanks banget” kata Erwin kepada kakak-beradik itu dengan suara yang masih parau dan mata sembap, namun tetap berusaha untuk berdiri tegak. Terlihat di kejauhan jenazah Victoria yang sedang dibersihkan untuk disemayamkan. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak apa-apa, Erwin” jawab Richard. “Kita berdua gak pernah segan untuk bantun elu”.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Thanks again yach. Sekarang gua mau pulang, besok Victoria disemayamkan, gua gak tau sekarang gua mau bagaimana. Sekarang kalian mau kemana?” tanya Erwin.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Kita mau pulang, besok kan hari terakhir sekolah. Kita harus hadir supaya bulan depan dapat raport.” Jawab Reynald.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Yah, itu untung-ruginya raport dibagikan setelah libur. Berarti semua harus masuk ya? Yah, gua gak jamin si cogan se-Asia Tenggara itu mau maklumin keadaan gua. Ya udah deh, kita pulang.<span>  </span>Thanks banget yah.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Erwin, gua aja yang bawa mobil, Reynald bisa nyetir sendiri. Gua yakin, setabah apapun elu, gua gak jamin lu bisa konsentrasi bawa mobil. Nanti kenapa-napa, kasian lu berdua. Gimana Reynald?” tanya Richard, menyadari bahwa sangatlah berbahaya jika Erwin membawa mobil di hari yang sudah gelap ini dengan perasaan yang sudah galau.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oke, gak apa-apa. Asal lu jangan nikung gua di jalan. Bisa celaka berempat&#8230;”jawab Reynald. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Heh, enggak lah. Ayo kita pulang.”kata Richard dengan kesal. Lalu mereka menuju mobil masing-masing, Jazz hitam dan Ford Escape. Sementara Richard menyetir dengan hati-hati, Reynald tancap gas menuju rumah.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoBodyText"><span>*<span>          </span>*<span>            </span>*</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gimana Erwin di mobil?” tanya Reynald kepada adiknya ketika ia baru saja tiba di rumah.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Bayangkan seseorang kehilangan sesuatu yang sangat berarti buat hidupnya. Nah kira-kira seperti itu.”jawab Richard.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oh, yeah. Lu udah sms teman-teman kita di orkes?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Udah, Mr. Perfect juga udah.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oke thanks. Kalau mau jujur ya, Richie, firasat gua gak enak.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Kenapa lagi? Tsunami? Gunung meletus?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak tahu, yang jelas, gua bener-bener mohon sama lu, pinter-pinter baca situasi dan tanda-tanda.Anything deh. Gw mohon..”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oke, although I don’t really understand what you mean.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak masalah kalau lu gak tahu, nanti kita liat aja”.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard, penuh kebingungan, meninggalkan kakaknya yang terlihat aneh malam ini dan segera menuju kamar mandi. Sementara itu, Reynald, merenung di teras, bertengger bagaikan burung betet yang baru menjalani operasi cangkok otak. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Mungkin, ia sendiri pun tidak tahu apa yang ia pikirkan. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard, yang bosan karena  PS2nya rusak, mencoba menghibur diri dengan menghiasi pohon natal dengan pernak-pernik mengkilap. Itulah hobinya : mencari hobi. Dan ketika ia sedang mencari gunting, ia menemukan sebuah amplop.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Warnanya biru, tanpa hiasan, tanpa keterangan, tanpa nama. Hanya ada tulisan : ‘To Richard’</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ketika ia membuka amplop itu, isinya adalah kartu natal. Isi kartunya?</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ketika ia membuka kartu itu, isinya ucapan natal yang ditulis tangan :<span>  </span>‘May the Blessing of the Saviour be with you’. Pengirimnya?</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ketika ia selesai membaca ucapan natal itu, ia melihat nama pengirimnya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>C….</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Cynthia.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=25&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love StoryPart IX</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-ix/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-ix/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 14:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 9]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-ix/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum mimpi, sebelum ia terlena dalam sesuatu kondisi, situasi, dan keadaan dimana ia hanya bisa berbahagia dan pada akhirnya tersenyum dengan hati yang polos, Richard tenggelam dalam sebuah pikiran. Siapa yang tidak pernah tenggelam dalam sebuah pikiran? Semua orang selalu tenggelam dalam sebuah pikiran. Apapun itu dan apapun bentuknya Lalu apakah yang Richard pikirkan itu? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=21&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Sebelum mimpi, sebelum ia terlena dalam sesuatu kondisi, situasi, dan keadaan dimana ia hanya bisa berbahagia dan pada akhirnya tersenyum dengan hati yang polos, Richard tenggelam dalam sebuah pikiran. Siapa yang tidak pernah tenggelam dalam sebuah pikiran?</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Semua orang selalu tenggelam dalam sebuah pikiran. Apapun itu dan apapun bentuknya</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Lalu apakah yang Richard pikirkan itu? </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Kembali Richard merasakan suatu kehampaan. Kosong, tanpa api yang berkobar seperti yang dialaminya beberapa jam yang lalu. Sekarang ia merasa beku, kaku, tak berjiwa, tak berperasaan. Tepat seperti apa yang selalu ia rasakan hampir setiap harinya.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ia hanya melamun, menunggu kantuk menguasai matanya. Kamarnya remang-remang, hanya dihiasi lampu jalanan yang redup. Poster-poster di kamarnya, yang jika siang hari membuat kamar Richard bagaikan panggung gembira, pada malam ini terlihat ikut tidur nyenyak bersama pemilik mereka. Richard melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 00.45. Hanya bunyi jarum detik yang memotong kehampaan itu. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Di meja belajarnya, ada banyak sekali pernak-pernik berfosfor yang membuat kamar itu sedikit menyala-nyala, dari patung Darth Vader, Kamen Rider Kabuto, Kamen Rider Faiz, dan barang-barang kecil lainnya. Cukup untuk membuat orang asing ketakutan dengan koleksi yang begitu banyak. Di atas sebuah meja belajar. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Sesekali ada suara anjing tetangga melolong, mungkin ada roh yang sedang lewat? Mungkin anjing itu merasakan ada aura lain yang tidak dirasakan di siang hari? Mungkinkah ada manusia yang sedang kerasukan, mulutnya berbusa, omongnya ngelantur dan penuh hujat, dan dibelakangnya, ia ditunggangi iblis bertanduk 10 dan berkepala 7?</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Atau mungkin… anjing itu justru kesepian? Seperti Richard yang melamun di tengah malam ini?</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Sesi pikiran dibuka bagi otak Richard.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Apa artinya cinta?” tanya Richard dalam hati. Bukan, bukan film yang diperankan Samuel Rizal. Sejak dulu, Richard selalu bersikeras bahwa cinta tidak ada artinya, buang-buang waktu, buang-buang perasaan, dan menghambat kemajuan. Baginya<span>  </span>pertanyaan ini hanya sebuah retorika hidup belaka. Percuma dipusingkan, percuma dibahas, dan percuma dijawab.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Namun, sekarang lain. Benar-benar 180 derajat, atau mungkin, 179, 5 derajat. Sekarang cinta sudah menempel bagai ikan remora di perut ikan hiu. Selalu menempel, dan seiring berjalannya waktu, akan lepas dan akan kembali lagi. Tentu saja, cinta sekarang sedang menempel dengan mesra. Tapi apa artinya cinta yang menempel ini?</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Cynthia terbayang di kepalanya. Begitu indah dan begitu manis wajahnya, begitu bersinar dan baik hatinya. Memori tentang dirinya berlalu bagaikan putaran film-film di sebuah bioskop. Indah sekali, pikir Richard. Mengapa Tuhan begitu baik, begitu memperhatikan ciptaanNya sehingga Ia dapat menciptakan seorang manusia yang begitu berarti bagiku? Seorang manusia yang telah mengubah hidupku, yang membuatku makin dewasa, makin bisa merasakan hidup, dan makin bisa bersyukur padaNya? </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ia kadang-kadang berpikir, mengapa hatinya yang beku akibat sebuah peristiwa bisa luluh kembali, walaupun kadang-kadang kaku lagi?<span>  </span>Mengapa rasa penolakan yang selalu ia patok didalam hatinya perlahan-lahan bisa lenyap, walaupun kadang-kadang timbul lagi? </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tapi mengapa, walaupun naik dan turun, semua ini indah?</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan ketika itulah, Richard menyadari artinya cinta.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Namun, ketika rasa kantuk mulai menggerogoti matanya, terlintaslah di pikirannya, bayangan seseorang yang melekat juga di hatinya. Yang juga begitu berarti baginya di masa lampau, namun sekarang meninggalkan bekas luka. Layaknya seperti ditusuk dari bawah ranjang, Richard bangun dan terduduk dengan tiba-tiba. Sarafnya bagaikan disetrum dari segala arah. Tangannya gemetar dengan hebat,, keringat dingin mengucur dari punggung dan dahinya, matanya tidak bisa ditutup. Giginya gemertak seperti kedinginan, dan yang pasti, jantungnya berdebar sangat keras. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Memori lain kembali terlintas. Memori yang sangat lain, yang berbeda, dengan orang lain, dengan perasaan lain, dengan pengalaman lain, dan sebuah kejadian menyakitkan. Ia melihat seorang ratu dengan mahkotanya yang bertuliskan kata-kata cinta dalam berbagai bahasa dan ekspresi diiringi dengan melodi-melodi halus nan memukau. Seseorang yang dulu ia cintai, yang sekarang telah pergi, meninggalkan dia. Richard menyadari, betapa bodohnya ia di masa lampau, idiot dan berintelektual rendah. Ia menjadi ragu, apakah ia sekarang masih juga bertindak bodoh. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard tertunduk lesu di ranjangnya, nafasnya masih belum teratur, namun ia sudah mulai bisa menguasai dirinya. Ia baru tertidur pukul 01.30, dimana keheningan malam sudah mencapai puncaknya, dimana seluruh makhluk hidup beristirahat dengan tenang, menghembuskan nafas menggigil yang semilir. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>….</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan pagi pun tiba. Pukul 05.30..Reynald baru saja bangun dan sedang memakan beberapa potong roti ditemani secangkir kopi. Mukanya tampak segar, seperti baru saja mendapat mimpi indah. Richard baru saja bangun dan terlihat loyo, namun senyum terlukis di wajahnya. Yang ini benar-benar baru mimpi indah.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Mimpi indah, dede kecil?” tanya Reynald pada adiknya.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Begitulah.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Heh, baguslah. Terus kenapa lu jadi loyo gini? Kelamaan telepon ya?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Terus kenapa?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak kenapa-napa.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Okay, I won’t ask any further. Have your breakfast and take a bath.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan Richard melakukan apa yang disuruh kakaknya. Ia makan pagi, rutinitas yang sangat rutin. Roti bakar yang digigitnya terasa aneh di mulut, mungkin karena Reynald memanggangnya terlalu lama dan kurang diberi mentega. Kopinya pas, namun seperti biasa, Reynald paling malas mengadukkan gula di kopi Richard. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Papi-mami pulang kapan sih, kayaknya mereka asyik banget jalan-jalan.”tanya Richard</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Dulu sih, mereka pernah bilang kalau mereka bakal pulang minggu depan. Yah sebenarnya kan mami yang jalan-jalan, papi mah lagi dinas” jawab Reynald. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Heh, yea, bener juga”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ya udah, mandi sana. Gua mau cari udara segar dulu di luar”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Seselesainya Richard mandi, ia langsung berpakaian sambil menunggu Reynald. Di hadapan cermin yang sedikit pecah di bagian kiri atasnya, Richard memandang dirinya. Tanpa kacamata, ia tidak bisa melihat dengan terlalu jelas, namun apa yang ia ingin lihat terlihat dengan sangat jelas sekali. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dirinya,<span>  </span>segala isinya, dan segala auranya. Ia berpikir dengan dalam sambil merenung.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard, dengan segala keterbatasannya, dapat bertemu, berkenalan, dan berbicara dengan Cynthia; yang bagi Richard tidak ada bandingannya di dunia ini. Itulah yang ia renungkan di depan cermin.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Kadang ia membayangkan, Cynthia sedang berdiri di sampingnya sambil tersenyum, namun segera ia kesampingkan pikiran itu. Baginya, hal itu tidak mungkin terealisasi dalam dunia ini, yang penuh dengan ambigu dan ketidakpastian. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan setelah mereka semua siap, mereka berangkat dengan Jazz hitam modif mereka yang sedikit baret karena menyerempet pintu garasi semalam.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Lupakan impian kosong sebelum dirimu terjerumus dalam hidup penuh mimpi</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoBodyText">*<span>          </span>*<span>            </span>*</p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0 0 0 0.25in;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Tepat di seberang rumah kakak-beradik itu, seorang laki-laki muda sedang buru-buru masuk ke dalam mobil dengan adiknya dan berangkat. Kedua orang itu adalah Erwin dan Elizabeth. Tak biasanya, Erwin tidak mengenakan seragam sekolah hari ini.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Di tengah jalan Elizabeth alias Lizzie kepikiran tentang alasan kakaknya tidak sekolah.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Koko Erwin gak sekolah?” tanya Lizzie.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Gak, Lizzie.”jawab Erwin dengan agak panik.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Kenapa?”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Koko gak bisa cerita sekarang Liz, agak panjang dan koko gak mau kamu kepikiran. Sekarang gini, nanti siang pas pulang sekolah, kasih 2 surat ini, satu ke sub-moderator sekolah koko, satu lagi ke Richard atau Reynald, pokoknya siapapun yang kamu ketemu duluan.”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Hah? Lizzie ke sekolahnya koko  gimana?”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Semalam koko udah telepon Alicia, temen kamu. Koko udah minta tolong dia anterin kamu. Pokoknya nanti kamu ketemu dia aja oke?”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Setelah mengantarkan Lizzie, Erwin langsung menancap gas. Lizzie terdiam sejenak, memikirkan mengapa kakaknya yang rajin sekolah dan berprestasi tinggi itu hari ini tidak mau masuk sekolah. Tanpa perlu memikirkan lebih lanjut, ia sudah tahu ada yang tidak beres.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoBodyText">*<span>          </span>*<span>            </span>*</p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Oke, makhluk rese, berapa nilai Sejarah lu?” tanya Richard kepada kakaknya.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“85, lumayan lah, gua gak belajar.” Jawab Reynald.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Ha, segitu gak belajar? Gila lu?”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Iya lah, harusnya elu yang anak Sos yang gak usah belajar. Gua tahu, pasti lu dapet 100 kan? Ya maklum lah, bahan ulangan sama tapi jam pelajaran lu lebih banyak dari gua. Ya hanya beda 15 poin, dengan jumlah jam pelajaran lebih banyak DITAMBAH lu belajar.”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Heh..maksud lu?”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Gak ada maksud apa-apa”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Ketika mereka berdua berjalan keluar menuju mobil, mereka melihat Lizzie sedang berdiri di samping mobil mereka.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Lizzie!” sapa Reynald “Ada apa?”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Ini, koko Erwin nitip 2 surat ini, satu buat sub-moderator. Kayaknya surat izin deh. Satu lagi buat kalian berdua. Gak tau tuh, koko Erwin hari ini aneh banget. Gak bilang kenapa dia gak masuk sekolah.”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Oh gitu…Richie, kasih surat ini ke sub mod kita yang cogan itu dong, gua mau baca surat yang satu lagi”.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Oke” jawab Richard.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Reynald lalu membuka surat itu dan membacanya, lalu Richard datang setelah memberi surat itu kepada sub-moderator mereka, yang, seperti kata Reynald, sangat cogan, se-Asia Tenggara mungkin.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Isinya apa?” tanya Richard.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Kita ke Karawaci sekarang. Lizzie, kamu ikut ya.”</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&#8220;Lizzie juga..?&#8221;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&#8220;Kamu baca deh&#8230;&#8221;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=21&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/10/16/part-ix/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part VIII</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/22/the-untitled-love-story-part-viii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/22/the-untitled-love-story-part-viii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2007 06:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 8]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/22/the-untitled-love-story-part-viii/</guid>
		<description><![CDATA[“Kenapa…Michelle ada di sini?” Reynald bertanya-tanya dengan penuh kebingungan “Lu nanya gua, gua nanya siapa?” jawab Richard yang juga bingung. “Cuma diajak jalan aja kali..gak usah prasangka buruk lah. Paling juga bukan Erwin yang ngajak. Dia kan setia ama Victoria”. “Yakin lu? Hanya diajak jalan? Gak sama Victoria lagi…feeling gua ga enak nih&#8230;” “Udah lah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=19&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Kenapa…Michelle ada di sini?” Reynald bertanya-tanya dengan penuh kebingungan</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Lu nanya gua, gua nanya siapa?” jawab Richard yang juga bingung. “Cuma diajak jalan aja kali..gak usah prasangka buruk lah. Paling juga bukan Erwin yang ngajak. Dia kan setia ama Victoria”.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Yakin lu? Hanya diajak jalan? Gak sama Victoria lagi…feeling gua ga enak nih&#8230;”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Udah lah balik yuk, nanti gua coba cari tahu. Jangan cari masalah di sini, Reynald. Pulang dulu deh, sabar dulu ya”.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ya udah, kita balik deh”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Semua orang, baik Richard, Reynald, Cynthia, dan Helena, sekaligus Michelle dan Erwin, pulang dengan membawa perasaan yang berbeda-beda. Setelah mengantar Helena dan Cynthia pulang kerumahnya, tinggal Richard dan Reynald yang tersisa. Masing-masing dengan pandangan yang berbeda tentang apa yang mereka lihat di EX tadi.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Sesampainya di rumah, Reynald buru-buru mandi untuk mendinginkan hatinya yang tidak panas tetapi penuh kebingungan dan kecemasan. Sementara itu, Richard langsung mengunci kamar dan meraih telepon. Ia menelepon Erwin untuk memastikan apa yang ia lakukan di EX. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Halo” jawab suara di telepon itu.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Erwin? Ini Richard”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oh yes, Richie. Kenapa?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Teknik Interogasi #1 : Bersikaplah akrab</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak ada apa-apa sih. Eh tadi lu ada di Hard Rock Café EX ya? Wah sombong nih gak sapa-sapa gua.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Lha kalo gitu siapa yang sombong coba? Hehehe.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Teknik Interogasi #2 : Pura-pura bego</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“O iya, tadi itu lu sama siapa sih? Gua hanya lihat sepintas aja. Kayanya bukan Victoria.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oo emang bukan, tadi gua sama Michelle.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Wah tumben..emang Victoria kemana?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Dia sakit demam. Kata dokter jangan dijenguk dulu, dia butuh istirahat cukup. Michelle yang ngajak gua pergi, katanya biar gua gak stress. Yah, gua gak stress-stress amat sih, tapi ya gua kuatir aja, kuatir Victoria kenapa-kenapa.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Teknik Interogasi #3 : Jangan membuat suasana interogasi</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oww..musim sekarang kalo kena demam agak-agak bahaya loh. Takutnya penyakit apaan kan?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Bisa jadi sih, eh sori nih si Lizzie ngajak gua makan malam. Gua makan dulu yah, laper berat nih.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Makan lagi? </em>Pikir Richard</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oke deh. See you”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan ketika Richard menutup telepon, Reynald masuk ke dalam kamarnya dengan menggunakan kunci duplikat. Perlu diketahui bahwa dia sedikit memiliki mental maling, terutama dalam menjebol password orang-orang dan pintu-pintu rumah.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“And? What were he doing?” tanya Reynald &#8220;Selingkuh ya?&#8221;</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan Richard menjelaskan masalahnya kepada Reynald.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oh gitu ya. Yah, mungkin aja bener, mungkin enggak” jawab Reynald setelah mendengar penjelasan Richard.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Aduh kak, kalau bener gimana? Lu gak usah kuatir lah. Kalau ada apa-apa kan masih ada gua. Lagian lu kan sebenernya gak perlu kesel kaya gini, kecuali kalau Michelle udah jadi sama lu.”jawab Richard dengan sedikit sebal melihat perilaku kakaknya yang, kalau sudah kesal, menjadi orang yang sangat apatis dan keras kepala.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ya..sori deh. Mungkin gua lagi gak enak badan hari ini.”jawab Reynald.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Mau minum obat? Lu emang keliatan rada sakit sih, jangan-jangan flu?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Enggak usah, eh ada SMS. Bentar-bentar”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan Reynald tidak kembali ke kamar Richard. Dalam hatinya, Richard tahu siapa yang mengirim SMS itu. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Richard kembali sibuk dengan urusannya. Mengecek e-mail, melakukan maintenance rutin pada komputer, menyelesaikan PR Akuntansi yang tinggal sedikit, dan<span>  </span>meneruskan lagu yang sedang dalam proses pembuatan. Semuanya ia lakukan tanpa memikirkan siapa-siapa ataupun merasakan apa-apa, tidak memberi peluang pada cinta untuk masuk dan hinggap pada dirinya. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Kadang ia berpikir, tidak adakah hal lain yang bisa ia lakukan selain rutinitas ini. Memang tak ada.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tak ada yang bisa dilakukan lagi.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tak lama, telepon di kamar Richard berdering. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, dan Richard tidak punya perkiraan yang pasti tentang siapa yang mau menelepon pada jam-jam segini. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Halo”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Halo Richard. Ini Cynthia”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><strong>WAAAA ^_^</strong> (kira-kira beginilah perasaan Richard)</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Halo Cynthia. Ada apa?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Haha, gak ada apa-apa sih. Gua lagi bete aja di rumah. Gak ada siapa-siapa, ortu pergi, cici gua lagi asyik nonton DVD, dan gua blom bisa tidur.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Wah, pasti gara-gara minum kopi di Hard Rock tadi, hehehe”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“O iya, tadi gua pesan kopi ya? Pantes aja gua gak bisa tidur. Bego banget ya gua, hahaha”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Kan tadi memang rencananya mau begadang bikin PR, gua masih ingat lho”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ah masa bodo, PR doank. Lagian udah gua kerjain sebagian besar kok. Besok nyalin aja ..hehehe, toh gua udah ngerti materinya.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan pembicaraan itu berlanjut dalam hitungan jam. Ketika pembicaraan berakhir, waktu menunjukkan pukul 00.30, dimana seluruh orang di rumah sudah terlelap, dibawa alam mimpi mereka masing-masing.<span>  </span>Richard bukanlah pengecualian dari mereka. Ia mimpi indah, sangat indah.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan Cynthia?</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ketika Cynthia menutup telepon, kakaknya segera masuk ke kamarnya</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Siapa sih Cyn? Sampe malam begini masih nelpon?” tanya kakaknya</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Teman kok” jawab Cynthia</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oooo..yakin? Cuma teman?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ya gitu deh..hahaha”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Kakak Cynthia tidak mau mengira-ngira dahulu, tetapi ia sudah bisa membaca apa yang ada di pikiran Cynthia.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan Cynthia pun bermimpi indah malam itu.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=19&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/22/the-untitled-love-story-part-viii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part VII</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/18/the-untitled-love-story-part-vii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/18/the-untitled-love-story-part-vii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 11:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 7]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/18/the-untitled-love-story-part-vii/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika penumpang yang lain mulai berkomentar tentang betapa bagus lagu itu, Richard tidak berbicara sepatah kata pun. Mulut dan lidahnya terkunci rapat. Telinganya tuli akan segala hal kecuali lirik lagu itu. Terkadang sesuatu perlu didengar, terkadang  tidak. Istilah kerennya : Selective Attention “..that sometimes I cry but I can’t tell you why, why I feel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=17&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ketika penumpang yang lain mulai berkomentar tentang betapa bagus lagu itu, Richard tidak berbicara sepatah kata pun. Mulut dan lidahnya terkunci rapat. Telinganya tuli akan segala hal kecuali lirik lagu itu. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Terkadang sesuatu perlu didengar, terkadang  tidak. Istilah kerennya : Selective Attention</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>“..that sometimes I cry but I can’t tell you why, why I feel what I feel inside…”</em></span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Lirik itu begitu berarti bagi Richard, baginya, sepatah lirik lagu dapat mengungkapkan apa yang ada di hatinya, perasaannya, dan pikirannya. Namun hal-hal itu tidak dapat diungkapkan, apalagi dikatakan. Dan belum saatnya untuk dikatakan. Bagi Richard, sebuah perasaan yang menggantung terasa lebih baik, dan lebih nyaman, baginya. Tidak baik, namun baik baginya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Richard! Jangan bengong oi! Lampu merah tuh!” teriakan Reynald menghapus lamunan Richard. Saking kagetnya, ia menginjak pedal rem hingga menimbulkan bunyi berdecit yang dapat membuat kumat orang jantungan. Ban nya mengeluarkan asap hangus sedikit dan meninggalkan bekas di jalan.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Aduh! Ngelamun pas lagi nyetir, bagus banget ya! Bahaya tau gak?!” keluh Reynald dengan kesal. “Mikirin apaan sih? Serius amat, mau bunuh kita berempat ya?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“YA MAAP!” balas Richard dengan kesal. “Gua gak mikirin apa-apa kok, atau lu mau bawa ini mobil? Silakan!”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Udah-udah jangan berantem.” Helena buru-buru melerai. “Richard, kalau lu memang lagi pusing, biar Reynald aja yang bawa.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak usah, thanks. Gua gak kenapa-kenapa kok.”jawab Richard.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>&#8220;Richard? Elo sakit?&#8221;Cynthia bertanya.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>&#8220;Enggak kok&#8230; gak kenapa-kenapa, bneran deh&#8221;</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan mobil hitam itu melanjutkan perjalanannya ke EX, kali ini tanpa hambatan berarti…</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Kecuali macet dan sulit dapat tempat parkir. Jazz hitam berplat B 777 RR itu baru mendapat tempat parkir setelah 8 menit 17 detik berputar-putar.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Laen kali, daripada muter-muter kaya orang bego, pakai valet aja”keluh Reynald yang sudah pegal karena kelamaan duduk.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Silakan, kalau mau mobil kita hilang lagi kaya BMW X5 kita di pestanya Ferdie waktu itu. Masih untung yang itu udah diasuransikan! Yang ini kan belum karena baru selesai dimodif”Richard merespon dengan sebal.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Waktu itu kan tempatnya gak jelas, ini EX kali. Mana mungkin ilang.” balas Reynald.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Sotoy” balas Richard dengan nada mengejek. Dan seketika, dengan seketika, suasana kembali menjadi ceria. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Aduh, lu berdua ada-ada aja deh. Yuk kita makan, nanti keburu penuh loh, udah rame nih tempatnya” ucap Cynthia. “Enaknya makan dimana ya?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Hard Rock Cafe?”tanya Richard dengan semangat.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>&#8220;Yuk&#8221; (Helena)</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>&#8220;Yuk&#8221; (Reynald)</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>&#8220;Yuk&#8221; (Cynthia)</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan terjadilah, 4 orang itu masuk ke dalam hard Hard Rock Café EX. Penerangan restoran itu memang tidak terang, namun bagi Richard, justru suasana ini terasa sangat romantis dan khidmat, cocok dengan seleranya. Lagipula, bagi Richard sudah ada seseorang yang menerangi jiwanya. Segelap apapun ruangan itu, Richard merasakan bahwa seseorang itu selalu bercahaya, bagaikan malaikat suci dengan sinar surgawi. Setidaknya, untuk malam indah ini dimana ia merasakan kehangatan yang sangat.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Setelah memesan makanan, mereka kembali bercakap-cakap dengan enaknya, seakan dunia milik mereka berempat. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Richard, kapan nih dapet cewek? Jomblo terus?” ejek Helena mendadak.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Umm..gak tau lah. Ya kalo nasib baek aja” jawab Richard dengan ngaco.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Alaaah jangan gitu. Nasib baik nih” ejek Reynald.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Nasib baik apaan?” tanya Richard.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Itu tuh.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Apaan??”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gak tau yaaa. Helena, emang apaan?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Umm…di depan gua ada pasangan serasi loh” ejek Helena. Perkataan Helena membuat Richard keringat dingin, dan Cynthia hanya tersipu-sipu dengan senyumnya yang imut-imut. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ah udah ah. Bingung gua”jawab Richard dengan tangan gemetaran.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Ketika mereka sudah selesai makan, tampak sekali bahwa keempat orang itu terlalu banyak memesan makanan.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Geblek. Ide siapa tadi yang mesen makanan banyak gini? Kenyang deh gua” ucap Helena.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Iya nih banyak banget. Mendingan kita habis ini jalan-jalan aja ya, biar enak” tambah Cynthia.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ya udah sekarang aja. Mbak, minta bill-nya ya”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Setelah membayar makanan itu, Reynald memberi tips kepada pelayan yang telah melayani mereka dengan baik. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tepat ketika mereka akan melangkah keluar dari restoran itu, Richard melihat seseorang yang tampaknya tak asing baginya. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Reynald…”kata Richard.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Apa?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Yang di pojok itu Erwin kan?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ah sumpah lu? Yang mana?….eh bener juga. Tapi siapa cewek yang sama-sama dia itu. Kayaknya bukan Victoria deh. Wah selingkuh nih&#8230;waaah&#8230;.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Iya, yang ini lebih tinggi. Siapa ya? Kayaknya model rambutnya gua kenal deh. Rada culun dan habis di re-bonding”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan ketika perempuan itu berdiri dan berjalan menuju toilet, kakak beradik itu seakan tak percaya akan apa yang mereka lihat. Bagi Richard, ini skandal. Bagi Reynald, hal ini meremukkan hatinya….</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=17&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/18/the-untitled-love-story-part-vii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part VI</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/12/the-untitled-love-story-part-vi/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/12/the-untitled-love-story-part-vi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 03:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 6]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/12/the-untitled-love-story-part-vi/</guid>
		<description><![CDATA[“Yang bener?!&#8221; seru Reynald tidak percaya ketika sedang sesi istirahat dalam latihan orkestra. Helena, teman baik Richard dan Reynald, mengatakan bahwa ia harus pindah ke London tahun depan. &#8220;Serius deh&#8230;&#8221; “Bener, Reynald. Gua musti pindah tahun depan. Padahal gua masih mau main sama kalian. Yah, yang namanya ikut orang tua, gua gak bisa bicara apa-apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=15&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Yang bener?!&#8221; seru Reynald tidak percaya ketika sedang sesi istirahat dalam latihan orkestra. Helena, teman baik Richard dan Reynald, mengatakan bahwa ia harus pindah ke London tahun depan. &#8220;Serius deh&#8230;&#8221;</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Bener, Reynald. Gua musti pindah tahun depan. Padahal gua masih mau main sama kalian. Yah, yang namanya ikut orang tua, gua gak bisa bicara apa-apa lagi.”jawab Helena dengan nada bicara yang setengah cuek namun gaul.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Helena..” kata Richard. “Gua gak tau mau ngomong apa, kayaknya gua sama Reynald bakal kehilangan lu setengah mati. Sumpah deh.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Hahaha, gak usah ekstrim begitu.”jawab Helena. “Tapi, bener juga sih, gua gak bisa lagi isengin lu sama Cynthia, nanti gak ada yang jodohin lu berdua dong, hahaha”.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Sial.. hahaha..</em></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Perkataan ini begitu dalam dan mengena bagi Richard. Semenjak ia mulai mencintai Cynthia, Helena dan Reynald adalah dua orang yang paling sibuk menyemangati Richard. Semenjak sebuah tragedi yang kurang mengenakkan, Richard menjadi orang yang sangat kaku dan pendiam. Ia hanya didukung oleh dua teman baiknya ini setelah tragedi itu, hanya mereka yang membuat Richard merasa hidupnya begitu berarti.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Tidak hanya mereka, namun anggota lain pun turut merasa kehilangan. Bagaimanapun juga, kontribusi Helena selama beberapa tahun ini sudah membuat sebuah orkestra yang seadanya terus berjalan melewati banyak rintangan.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan seketika itu juga, Cynthia mendatangi orang &#8211; orang yang sedang sibuk sendiri itu</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Helena, sayang banget yah lu harus pergi. Kita gak bakal jalan-jalan bareng lagi nih.”kata Cynthia.”Tapi paling enggak kan kita masih bisa tampil bareng di dua atau tiga event lagi. Lu harus rajin-rajin datang yah, hehehe.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Tenang aja kali” kata Helena.”Mana mau gua bolos, udah tau gua bakal minggat dari sini, hahaha. Udah tenang aja, daripada mikirin gua mau nyebrang samudra mana, mendingan sekarang kita ke EX saja, jalan-jalan sekalian cari makan malam. Capek gila, and gua lapar nih. Gimana, Richie? Cynthia?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oh boleh, gua juga lagi bosen di rumah terus, mau jalan-jalan” jawab Cynthia. “Kalo lu, Richard?”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Gua sama Reynald sih memang gak ada rencana kemana-mana lagi, jadi oke aja deh.”jawab Richard. &#8220;Sounds fun&#8221;</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><em>Asiiiik&#8230;</em>pikirnya</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ya udah,” sambung Reynald. “Berangkat sekarang aja ya, takut macet nih.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Di dalam mobil Jazz hitam itu, Reynald dan Helena duduk di belakang sembari membicarakan sesuatu dengan diam-diam, dan sudah pasti sesuatu itu adalah hal yang dirahasiakan dari dua orang di depan, Cynthia dan Reynald yang menyetir mobil yang dimodifikasi itu. Modifikasinya? Pernak-pernik aneh dan audio yang disesuaikan untuk lagu orkestra. Sisanya, langsung dari pabrik.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Richard, lu udah gabung di orkestra sejak kapan sih? Kayaknya lo tau betul apa-apa aja yang kita perlu kalau ada event.”tanya Cynthia.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Oh, udah sejak 7 tahun lalu. Namanya juga komunitas orkestra antar sekolah, jadi ya, walau masih SD tapi boleh masuk tim juniornya. Baru diterima masuk tim inti sekitar kelas 3 SMP. Dari awal, gua selalu jadi pianis. Emang gak ada skill lain yang bisa dibanggakan sih, haha” jawab Richard</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“Ah, emang dasarnya lu itu jago kok. Tapi gua senang, soalnya lu jago banget kalau main piano. Gak tau deh kalau gak ada lu di orkestra, mungkin kita gak bakal sesukses ini, gini-gini kan lu senior juga, paling banyak ngurusin teman-teman yang lain.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>“ Ah biasa aja kali”sambung Richard dengan malu-malu.”Gua memang demen sih terlibat di orkestra, habis gak ada kegiatan lain, ya gua fokus aja di orkestra. Musik udah jadi bagian dalam hidup gua, entah kenapa, mungkin disitulah gua menemukan kedamaian.”</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Percakapan dua manusia di depan itu terus berlanjut, dan percakapan itu seakan-akan begitu bermakna bagi dua manusia lagi yang berada di kursi belakang. Entah bagaimana, Reynald dan Helena begitu menikmati pemandangan indah ini. Richard dan Cynthia berbicara satu sama lain. Bagi orang lain, hal ini hanyalah komunikasi antar manusia yang saling bertukar kata dan kalimat, bercengkerama, dan berbicara. Namun, bagi yang mengetahui arti dari momen ini, hal ini adalah sesuatu yang istimewa.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Dan seketika itu juga, pembicaraan seketika terhenti. Radio yang diputar memainkan sebuah lagu yang pernah ngetop beberapa tahun yang lalu. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>In A Rush.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span>Sebuah lagu yang begitu dalam maknanya bagi Richard. Semua yang ada di mobil itu menyukai lagu ini, lagu yang begitu sederhana, namun indah dan penuh arti. Bagi Richard, lagu ini adalah cerminan hatinya; apa yang ia ingin katakan tidak pernah terucap, apa yang ia inginkan tak pernah tercapai, namun yang ia percaya adalah, semua ada waktunya.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><span><strong>Dan di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Richard menangis..</strong></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=15&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/12/the-untitled-love-story-part-vi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part V</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-v/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-v/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 12:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 5]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-v/</guid>
		<description><![CDATA[“Hai juga, Cynthia” sahut Richard setelah terlepas dari lamunannya. “Kok telat, gak seperti biasanya?” “Macet, hehehe. Gak juga sih, gue tadi ketiduran, jadinya telat.” balas Cynthia dengan nada suara yang lucu, membuat Richard tambah bengong bagaikan orang bisu. “Oh, oke..” Richard hanya bisa menjawab demikian sembari memikirkan huruf apakah yang akan digunakan untuk memulai sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=13&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Hai juga, Cynthia” sahut Richard setelah terlepas dari lamunannya. “Kok telat, gak seperti biasanya?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Macet, hehehe. Gak juga sih, gue tadi ketiduran, jadinya telat.” balas Cynthia dengan nada suara yang lucu, membuat Richard tambah bengong bagaikan orang bisu. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oh, oke..” Richard hanya bisa menjawab demikian sembari memikirkan huruf apakah yang akan digunakan untuk memulai sebuah percakapan baru. Dan akhirnya, ia mendapat ide yang lumayan berguna. Lebih dari sekedar huruf tentunya. “Lu udah latihan lagu-lagu yang bakal kita pakai buat konser bulan Maret depan blom? Lumayan susah kan lagunya.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oh udah kok. Gak terlalu susah juga kok nyanyiinnya. Lu sendiri udah latihan buat iringan pianonya?” balas Cynthia.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oh udah kok. Iringan pianonya jauh lebih simple dari lagunya ternyata. Yah, ga sesulit yang diduga&#8221;</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ah, emang lu jago piano kok, hehehe”jawab Cynthia, kembali dengan tawanya yang lucu itu. Jika tawa Ferdie dapat membuat hati wanita luluh, maka tawa Cynthia dapat membuat seluruh laki-laki di dunia bengong. Mungkin juga Richard adalah salah satu dari banyak lelaki yang bengong itu. Postur tubuhnya yang imut-imut dengan sepasang mata yang indah dan rambut hitam yang terikat rapi ditambah dengan selera humornya yang unik membuat ia dikagumi banyak pria dari segala umur. Mungkin balita juga?</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oh..hahaha.,.gak lah&#8230;..”hanya itu jawaban Richard yang mukanya sudah merah dan bingung mau bicara ataupun bertindak apa. Kemudian, sebuah SMS masuk ke handphone Richard. Aku selamat, pikirnya. Dibacanya SMS itu, ternyata dari pelatih orkestra mereka, yang mengatakan bahwa hari ini dia datang agak sedikit telat dan minta agar anak-anak diberitahu dan sabar menunggu. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tentu saja, Richard melakukan sesuai instruksi sang pelatih, yaitu memberitahukan keterlambatannya kepada seluruh anak-anak.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sekarang kebingungan Richard bertambah. Semua lagu sudah ia kuasai, namun dengan jumlah anggota yang belum sampai setengah di ruangan itu, tak ada satu lagu pun yang bisa dilatih. Ditambah lagi dengan Ferdie dan Levina yang hingga detik ini masih entah berada di dunia mana.<span>  </span></span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Richard, mainkan satu lagu dong buat gua. Mau kan?” sahut Cynthia dengan tiba-tiba.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Richard <span></span>kaget setengah mati, mungkin ¾ mati, atau mungkin hampir mati setelah mendengar ucapan itu. Entah bagaimana, tangannya otomatis meraih clear holder berwarna biru dari tas yang dibawanya. “Oke deh, mau yang mana?” jawab Richard.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Yang mana aja, asal lu suka lagu itu.”jawab Cynthia.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tanpa ragu-ragu, Richard mengeluarkan 2 lembar partitur yang dilengkapi dengan lirik. Intro dimainkan dengan mantap, lalu ketika sudah masuk ke bagian nyanyian, dengan mantap pula Richard menyanyikan lagu itu, seakan-akan lagu itu sudah menyatu dengan raganya.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><span></span><span></span><span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><em>I can’t believe that you are here </em></p>
<p><em>Here by my side, talking to me </em><em>Your voice puts aside my fear </em><em>And do you know, my angel? </em><em>I truly admire you and your soul </em></p>
<h1><em>Now let me bury my feelings in my heart</em></h1>
<p><em>I know it will be painful, and it will be hard </em><em>It hurts like being stabbed by a dart </em></p>
<h1><em>But I know it will be enough</em></h1>
<p><em>Because I love you </em><em>And my heart is tough </em><em>Tough enough to love you </em></p>
<h1 class="MsoNormal"><span style="font-style:normal;"></span></h1>
<p>&#8220;Wow, bagus banget lagunya! Lu bener-bener jago kalau nyanyi sambil main piano!&#8221; seru Cynthia dengan suara penuh semangat. &#8220;Siapa yang buat lagu ini? Bagus banget, kesannya dalam banget.&#8221;</p>
<p>&#8220;Menurut lu, yang buat lagu ini orangnya kira-kira gimana ya?&#8221; Richard iseng bertanya</p>
<p>&#8220;Gua suka orang yang bisa mengekspresikan dirinya dengan lagu.&#8221; Jawab Cynthia. &#8220;Tandanya, dia jujur pada diri sendiri dan dia artistik and romantis.&#8221;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Gak tahu sih siapa yang buat, tapi yang jelas, buat gua lagu ini yang paling cocok buat gua” jawab Richard dengan sedikit tersipu-sipu. <em>&#8230;gue yang bikin kali Cyn&#8230; hahaha..</em></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Wah, bagus dong kalau gitu, bisa nyanyi sampai tengah malam nih, hehehe.”Cynthia kembali melempar tawa imut-imutnya pada Richard. Dari kejauhan, Reynald dan Helena hanya bisa tertawa ditahan-tahan melihat tingkah laku Richard pada hari itu. Mereka tahu apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">“Mungkin juga, eh Mr. Perfect udah datang. Mendingan kita siap-siap?” jawab Richard. Mr. Perfect adalah julukan bagi pelatih orkestra mereka yang, walaupun baik hati dan kocak, namun sangat perfeksionis dalam segala hal termasuk pakaian dan tata letak para pemain orkestra.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&#8216;Wah saya telat ini, senang ya kalian bisa main-main dulu.&#8221; kata Mr. Perfect dengan jalannya yang tegap. Dandanannya rapi, tapi tidak bisa menutupi wajah garangnya.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Lalu, mereka hanyut dalam latihan yang melelahkan namun melegakan hati…alunan lembut violin, cello, piano, dan tak lupa suara emas Cynthia sebagai solis telah mengubah ruangan latihan menjadi serambi surga.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Tanpa seseorang pun menyadari, Erwin tidak hadir hari ini. Ia sudah mabuk kepayang oleh cinta dalam perjalanan menuju rumah Victoria untuk mengantarnya pulang. Mungkin bisa dibayangkan apa saja yang mereka bicarakan dan lakukan dalam mobil Mercy S-Class milik Erwin. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi, tetapi nanti setelah tiba waktunya bagi segala sesuatu untuk terungkap.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Setibanya<span>  </span>Richard dan Reynald di rumah seusai latihan orkestra dan membereskan segala macam tugas sekolah, mereka tidur dengan cinta yang masih melekat di hati mereka, tanpa rasa khawatir dan kesepian. Tanpa rasa ditinggalkan dan dibuang.</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">Dan keesokan harinya, kabar kurang mengenakkan tersebar di kalangan anggota orkestra&#8230;</p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText">&nbsp;</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=13&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part IV</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-iv/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 12:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 4]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-iv/</guid>
		<description><![CDATA[Belum. Mereka belum hancur. Walaupun dipenuhi dengan emosi dan rasa kecewa, pasangan kakak-beradik berkacamata tipis itu tetap melanjutkan makan mereka, seakan tidak perduli akan makhluk lainnya. 15 menit berlalu dengan kesunyian di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berbicara, seakan leher mereka disumbat sesuatu dan mulut mereka digembok tiga lapis, walaupun sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=12&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Belum. Mereka belum hancur. Walaupun dipenuhi dengan emosi dan rasa kecewa, pasangan kakak-beradik berkacamata tipis itu tetap melanjutkan makan mereka, seakan tidak perduli akan makhluk lainnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>15 menit berlalu dengan kesunyian di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berbicara, seakan leher mereka disumbat sesuatu dan mulut mereka digembok tiga lapis, walaupun sebenarnya mereka makan dengan lahap.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Richardlah yang memecah kesunyian itu.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Kakak.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Kenapa lagi?” jawab Reynald dengan sedikit emosi, dia masih sedikit marah rupanya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Sekarang hari apa ya?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Rabu. Masa lupa?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Bukannya…kita latihan orkestra hari ini?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Reynald langsung tersentak kaget, tersedak oleh minumannya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Mampus! Gua lupa!! Ya sudah ayo kita buruan cabut!!” kata Reynald dengan terburu-buru. “Pak, minta bonnya ya! Buruan!”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sang pelayan yang mukanya tidak memancarkan cinta itu menyodorkan bon makanan mereka. Dengan cepat Reynald menarik dua lembar seratus ribuan dan memberikannya kepada<span>  </span>si pelayan, lalu segera pergi bersama Richard. Yang tidak ia sadari adalah, biaya makan mereka berdua tidak sampai tujuh puluh ribu.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Honda Jazz hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi dari Jalan Semanggi menuju Jalan Gatot Subroto tepatnya di Wisma Bidakara. Selama perjalanan beberapa menit itu, diputarlah lagu <em><span></span>Untitled* </em><span></span>yang merupakan lagu favorit kakak-adik itu (karena mereka merasa lagu ini adalah penggambaran yang tepat bagi mereka, yang merasa inferior dalam cinta).</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Reynald mengebut di lapangan parkir yang sangat sempit dengan kecepatan 60 km/jam, lalu membanting stir dan memarkir mobilnya di satu-satunya tempat kosong di situ. Tak lupa rem mendadak yang sudah menjadi ciri khas Reynald. Aroma sedap ban hangus sudah biasa dicium oleh Reynald. Mereka berdua segera berlari ke aula dimana latihan orkestra diadakan. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sesampainya di dalam, mereka hanya menemukan beberapa orang di dalam. Salah satunya adalah Michelle, sang pemain harpa dalam orkestra. Rambutnya yang panjang terurai membuatnya terlihat sangat cantik jika sedang memainkan alat musik khayangan itu, bagaikan malaikat yang melantunkan musik pujian bagi Yang Tertinggi.<span>  </span></span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan di samping Michelle, seorang gadis yang sedikit lebih tua darinya sedang memeriksa partitur dengan seksama. Ia adalah Helena, seorang pemain biola yang disegani oleh anggota-anggota lain oleh karena sifatnya yang tegas. Tidak pernah ada seseorang pun yang berani melawannya, omongannya yang tajam sudah terbukti pernah menundukkan beberapa orang yang coba-coba mencari masalah dengannya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Richard! Reynald! Wah kirain tidak jadi datang” sapa Helena kepada kakak-beradik itu dengan ramah, seakan menghapus semua anggapan tentang dirinya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Reynaaaaald!! Sori kemarin sms lu gak gua bales, soalnya pulsa gua habis. Sori ya” sambung Michelle dengan tiba-tiba. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oh gak apa-apa kok” jawab Reynald dengan sedikit canggung. Richard hanya bisa cekikikan di belakang punggung kakaknya yang ditembak panah cinta itu.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Richard melihat ke sekeliling ruangan dengan seksama, seakan sedang mencari sesuatu, atau seseorang. Lalu, dengan lemas ia berjalan menuju piano hitam yang baru saja dibersihkan dan dilap sehingga terlihat baru. Katakanlah, Richard akan segera menyatukan dirinya dengan jiwanya yang kedua, yaitu piano. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tak seperti biasanya, ia tidak langsung menghantam tuts-tuts piano dengan jarinya. Ia diam, diam, dan hanya diam. Partitur yang ada tidak dilihatnya, foot sustain tidak diinjaknya. Ia bagaikan robot yang baru kehilangan program. Sekali lagi, ia melihat ke kiri dan kanannya, lalu dengan perasaan berat, ia menerima kenyataan bahwa apa, atau siapa, yang ia cari tidak hadir pada latihan hari ini. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Namun, ketika ia baru akan memulai memainkan sebuah lagu, sebuah suara lembut menyapanya dari belakang.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Hai, Richard.”sapa suara itu.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan Richard kembali terdiam.<span>  </span>Ia menoleh kebelakang, dan bagaikan melihat seorang malaikat yang dikirim langsung dari surga oleh sang Raja Segala Raja, Richard terpana seperti orang idiot. Ia hanya bisa menelan ludah, gemetar, lalu tersenyum kaku. Perasaan hatinya bercampur aduk, antara lega, salah tingkah, dan gembira. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan Richard merasakan cinta mengalir dari otaknya menuju pembuluh darahnya. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=12&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story-part-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part III</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 12:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 3]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story/</guid>
		<description><![CDATA[Sementara itu di EX Plaza Indonesia yang borju itu, tepatnya di bioskop Premiere yang harga tiketnya melambung tinggi mencapai planet Saturnus, tepatnya lagi di 2 kursi paling pojok kanan atas, bertebaranlah nuansa cinta dan kebahagiaan. Sebuah nuansa dan keadaan yang dapat mencabut nyawa Richard dan Reynald dengan cepat dalam hitungan detik. Di dua kursi pojok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=10&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sementara itu di EX Plaza Indonesia yang borju itu, tepatnya di bioskop Premiere yang harga tiketnya melambung tinggi mencapai planet Saturnus, tepatnya lagi di 2 kursi paling pojok kanan atas, bertebaranlah nuansa cinta dan kebahagiaan. Sebuah nuansa dan keadaan yang dapat mencabut nyawa Richard dan Reynald dengan cepat dalam hitungan detik. Di dua kursi pojok itulah duduk Erwin dan Victoria, sepasang manusia yang saling mengasihi, saling menyayangi, dan yang paling penting adalah, saling mencintai. Cinta mereka adalah cinta yang satu dan sejati, cinta yang sempurna antara laki-laki dan perempuan. Di pojok ruangan yang dingin dan membekukan ujung jari itu, mereka tidak merasa dingin, mereka tidak merasa terusik dengan suhu. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Karena cinta mereka memang ibarat api, saling menghangatkan hati yang satu dengan yang lain.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Erwin…” kata Victoria dengan manja.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya?” jawab Erwin.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Filmnya seru banget ya.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Iya, aku gak salah pilih film kan?” jawab Erwin dilanjutkan dengan senyum penuh makna</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Kamu gak pernah salah pilih film kok buat kita”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Hehe…” Erwin hanya bisa tertawa manis mendengar kata-kata cinta Victoria</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Win…”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya..?”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Aku cinta kamu..”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Aku juga, Vic. Selamanya.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Win….” dan Victoria tersenyum nakal…</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span> Apa yang terjadi berikutnya adalah sebuah masalah personal, sebaiknya diterka sendiri dan ditebak sendiri. Logika aja, habis rayuan terbitlah&#8230;apa?</span></p>
<p><span></span><span></span><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan sementara itu, di sebuah restoran dimana tidak ada yang namanya cinta, Richard termangu melihat 2 orang yang memasuki restoran tepat di depan hidung Richard. Tepatnya sepasang muda-mudi kenalan Richard dan Reynald.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Hai Levina, berdua aja sama Ferdie?” sapa Richard kepada Levina, sang gadis yang berpostur pendek namun berparas otaknya jalan. Wajahnya lumayan sebagai seorang cewek. Hatinya culas, seculas yang bisa dibayangkan manusia, namun bagi yang bisa melawan keculasan dengan kasih, Levina bisa menjadi teman baiknya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya, habis bosan, hari ini mau nonton tapi kehabisan tiket. Maklum, film beken sih.” Jawab Levina.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Haha, gak juga sih, kita tadi emang telat datengnya, hehehe” sambung Ferdie dengan senyum culun yang terkesan konyol tapi telah berhasil memikat ribuan wanita (mungkin dia harus nerbitin buku &#8216;Arti Sebuah Senyuman&#8217;)</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Nah buka kartu juga kan lu akhirnya.”ejek Richard. “Ya udah duduk sana, lagi penuh juga nih. Ntar gak dapat kursi&#8221;</span></p>
<p><span></span><span></span><span>“Yah takut banget sih lu.”sahut Ferdie. “Hei Reynald, bengong aja nih?”</span><span></span><span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Iya Fer, gua lagi rada-rada pusing. Biasalah kurang tidur”tukas Reynald gelagapan.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>”Oh, umm oke-oke. Ya udah gua duduk dulu ya.  Dadah.” jawab Ferdie, diikuti dengan senyumnya yang  menggoda itu. Untungnya, senyumnya belum pernah menggoda pria.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sementara pasangan dengan status TIDAK JELAS (pacaran juga bukan, tapi lebih dari TTM) itu mencari tempat duduk, Reynald hanya bisa terdiam mengenang memori masa lampau yang penuh kegembiraan, yang sayangnya hanya berlangsung sesaat dan dilanjutkan dengan penderitaan berkepanjangan. Pelayan-pelayan restoran itu pun tampaknya tidak memiliki cinta di mata mereka, suasana restoran itu pun tidak mendukung keberadaan cinta. Restoran apa memangnya? Tebak sendiri. Yang jelas, ini bukan restoran yang (menurut sudut pandang Reynald) pas untuk pacaran. Tampaknya argumen itu baru saja runtuh. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Sekembalinya Richard dari mobil, ia melihat bahwa pesanan mereka sudah datang, yaitu 2 porsi Grilled Snapper with Mushroom Gravy dengan 2 gelas ice lemon tea yang kelewat asam. Ia lalu melemparkan komik Reynald tepat ke depan muka pemiliknya.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Astaga bengong aja lu kayak burung sekarat.”kata Richard dengan nada sedikit kesal kepada Reynald. “Ajak ngomong kek, apa kek, mulut lu emang digembok pakai apa sih? Gembok khayangan”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Gua mau ngomong apa, Richie?!”jawab Reynald dengan lebih kesal sembari membanting komiknya ke lantai.”Lu tau kan gua udah gak bisa lagi ngomong satu kata pun sama dia. Lu tau sendiri gua emang udah gak bisa lagi ngomong sama dia. Boro-boro dia mau ngomong sama gua.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Reynald!”bentak Richard.”Apa-apaan sih lu. Tu orang udah gak lu anggap manusia apa? Dia gak dendam sama lu, malah elu yang paranoid sendiri.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Sekarang, yang ada di hati gua cuma Michelle. Gua udah gak mau mikirin Levina lagi. Gua putus sama dia juga karena kegoblokan gua. Gua gak mau ngulang kesalahan yang sama, karena itu gua gak mau dekat-dekat sama Levina lagi. Udah paham? Kalau udah, ayo makan! Udah gua bilang jangan ungkit-ungkit, lu malah nekat. Cape tau.”</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Richard hanya bisa menatap kakaknya dengan agak kesal,namun penuh iba. Tak pernah sekalipun kakaknya membahas tentang masa lalunya dengan Levina, apalagi mengungkit-ngungkit masalah itu di depan banyak orang. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tapi pada akhirnya ia paham. Restoran ini bukan restoran cinta, karena itu Reynald dapat dengan bebas terbang menuju langit lepas dengan membombardir orang-orang dengan cerita yang memilukan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Bayangkanlah restoran apa ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dia paham bahwa baik adanya bagi Reynald untuk mengeluarkan isi hatinya yang sudah hancur digerogoti monster yang namanya cinta di dalam restoran tanpa cinta ini.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan sekali lagi, Richard menyadari bahwa cinta adalah sesuatu yang terlalu berbahaya untuk disentuh. </span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan hal itu membuatnya semakin membenci monster itu. Monster yang bernama cinta. Yang, menurut pendapatnya, adalah makhluk berkepala seribu dengan janji-janji manis yang selalu keluar dari mulutnya yang bertaring tajam…dan..oh!! Monster itu pun sudah menggerogoti Richard.</span></p>
<p><span></span><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Akan hancurkah mereka berdua?</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=10&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/09/the-untitled-love-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story Part II</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/06/the-untitled-love-story-part-ii/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/06/the-untitled-love-story-part-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 04:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 2]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/06/the-untitled-love-story-part-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Oke Liz, kita udah sampe” sahut Richard pada Lizzie, yang tertidur karena alunan musik klasik yang begitu merdu. &#160; “Oh, udah sampe toh. Oke deh, makasih ya koko Richie” jawab Lizzie sambil turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumahnya. &#160; “Oke, dadah. Salam buat Erwin ya” sahut Richard sembari memarkir mobilnya di depan rumahnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=9&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oke Liz, kita udah sampe” sahut Richard pada Lizzie, yang tertidur karena alunan musik klasik yang begitu merdu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oh, udah sampe toh. Oke deh, makasih ya koko Richie” jawab Lizzie sambil turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumahnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Oke, dadah. Salam buat Erwin ya” sahut Richard sembari memarkir mobilnya di depan rumahnya. Kenapa tidak di dalam garasi? Malas.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Richard menuju pintu rumahnya dengan menyeret-nyeret langkah dan merogoh kunci rumah, seperti yang biasa ia lakukan selama 3 tahun ini. Tidak, ia bukan anak yang akan tinggal kelas. Ia menempati posisi ke-empat tertinggi di kelasnya. Bukan itu yang membuatnya lemas.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Tapi cinta.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Bikin lemas.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Ketika pintu terbuka, Richard menatap isi rumah. Kosong melompong. Furnitur-furnitur seakan menatap Richard dengan curiga. Lukisan-lukisan seakan mengancam keberadaan dirinya, dan angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka seakan menusuk perasaan yang terluka. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Perasaan Richard memang terlalu hiperbolis, seperti dirinya, yang hiperbolis akan sebuah pertukaran aura hati alias MOOD.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Richaaaard!” sebuah suara memanggil dari dalam rumah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya?” jawab Richard</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Makan di luar yuk, hari ini gue lagi dapet hoki nih” jawab suara itu</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Hoki apaan?”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Menang taruhan, biasa, MU-Inter Milan 3-2”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Hoki datang dan pergi, tapi apakah itu wajar jika hoki datang dan tidak pergi-pergi?</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya ampun kirain apa..”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya udah, ayo berangkat”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Orang itu adalah Reynald, kakak Richard yang hanya beda 1.5 tahun darinya, namun masih satu angkatan di sekolah karena Richard pernah loncat kelas. Bukan kakak namanya jika wajah dan sifat mereka berbeda. Kacamata, tatapan, sifat, kenakalan, kegilaan, kebejatan, semua menjadi trademark duet Richard-Reynald yang bagaikan pinang dibelah dua sekaligus sepasang klon yang memiliki jiwa harimau dan naga, namun hati bagaikan bambu yang bergoyang ditiup angin semilir. Singkatnya? Dua-duanya melankolis.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Naga dan harimau apakah yang sedemikian rentan hatinya? Ya ini, dua orang ini. Mereka bertaring, diselimuti semangat muda, tapi&#8230;.begitulah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Naik apa kita?” tanya Reynald pada adiknya.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya terserah, yang paling hemat aja lah.” jawab Richard.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Dan jadilah. Sebuah Honda Jazz modif berwarna hitam keluar dari garasi menuju sebuah lokasi. Lokasi dimana tidak ada yang namanya cinta. Lokasi dimana hanya ada kedamaian. Lokasi dimana Richard dan Reynald dapat sedikit melupakan masa lalu mereka tentang cinta yang, kalau bisa diandaikan, seperti sebuah gelas yang dihantamkan ke ujung meja. Hancur berkeping-keping meninggalkan bekas tajam.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Duduklah mereka di lokasi itu. Lokasi yang paling baik untuk mereka, dimana mereka bisa sedikit merasakan kehampaan dan kebahagiaan (menurut sudut pandang mereka tentunya ). Sederhana saja yang mereka pesan, namun berarti sekali makna dari perjamuan ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Richard..” sahut Reynald dengan pelan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya..?” jawab Richard.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Michelle kemaren telpon gak?”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Gak tuh. Lagian lu sendiri pake acara tidur cepet-cepet” jawab Richard ketus. “Emang kenapa?..Oh I see..You miss her..”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Gak kenapa-napa” jawab Reynald. Siapa tau kan? Abis gue lagi kangen sama dia hehehe”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Alah jangan rese deh lu. Mentang-mentang rada-rada lancar sedikit<span>  </span>Pikirin juga dong nasib saudara sendiri.”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Memang nasib lu kenapa?” tanya Reynald. “Madesu ya? Tak ada kemajuan? Atau&#8230; ”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Gak tau lah. Udah lah gak usah dibahas dulu deh. Nanti gue gak nafsu makan. Eh omong-omong, kemaren gue ketemu…”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Omongan Richard langsung dipotong oleh Reynald.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Iya gue tahu lu ketemu siapa kemaren. Udah lah kalau lu gak mau bahas-bahas persoalan lu sendiri, gak usah bahas persoalan gue. Bete tau.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Hei, gue cuma mau ngasih tahu aja kaleee! Gak usah sewot, kak. Gue gak bermaksud apa-apa” Jawab Richard dengan cepat, sedikit emosi tapi paham akan perasaan Reynald. &#8220;I just want to let you know&#8230;&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Iya-iya sorry. Gue pikir lu mau ngejek gue lagi.” Jawab Reynald dengan tajam</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Enggak kok, beneran.”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Ya udah, tapi kok orderan kita belum datang juga sih. Rese banget nih restoran”.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><em>Sekarang komentar datang dari yang namanya perut.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Tau nih, kak”.jawab Richard. “Eh gue ambil majalah dulu ya di mobil. Bakalan lama nih kayaknya”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>“Eh komik gue jangan lupa.” Sahut Reynald. “Naruto sama Shonen Star. O iya jangan lupa dikunci lag…..”</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span>Omongan Reynald tak bisa dilanjutkan. Seseorang di pintu masuk telah memutus otaknya dari mulutnya dan jiwanya dari lidahnya. Richard pun hanya terdiam melihat orang itu. Ia tak tega melihat raut wajah kakaknya..</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=9&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/06/the-untitled-love-story-part-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Untitled Love Story, Part I</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/05/the-untitled-love-story-part-i/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/05/the-untitled-love-story-part-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 13:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Part 1]]></category>
		<category><![CDATA[The Untitled Love Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/05/the-untitled-love-story-part-i/</guid>
		<description><![CDATA[School is over, for today. Semuanya sudah berlalu. Akhir dari sebuah hari yang kurang mengenakkan. Dan hari yang kurang mengenakkan terjadi setiap minggu, entah satu, dua, atau tujuh hari.  Richard hanya bisa tertunduk lesu, membayangkan jutaan wajah muram dan masam. Memang ada apa pada hari itu?Itu dia, tidak ada apa-apa. Tak cocok untuk seorang Richard yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=8&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>School is over, for today. Semuanya sudah berlalu. Akhir dari sebuah hari yang kurang mengenakkan. Dan hari yang kurang mengenakkan terjadi setiap minggu, entah satu, dua, atau tujuh hari.</p>
<p> Richard hanya bisa tertunduk lesu, membayangkan jutaan wajah muram dan masam. Memang ada apa pada hari itu?Itu dia, tidak ada apa-apa. Tak cocok untuk seorang Richard yang menginginkan perubahan. Ekstrimis? Tidak. Petualang? Bukan. Hanya seorang biasa dengan berbagai macam pikiran dan ide.</p>
<p>Richard menstarter mobilnya, Land Cruiser baru dengan tongkrongan gagah. Terbayanglah seperti apa keadaan finansialnya. Cukup-cukupan. Dan sembari menjalankan mobilnya dari lapangan parkir, ia melihat ke sebelah kirinya. Sepasang kekasih sedang berciuman. Ia membuang mukanya dan fokus pada jalan di depannya. Kembali ia melihat 2 orang pecinta bahagia sedang melangkah menuju sebuah restoran elit. Kali ini, jika ia membuang muka, hasilnya adalah kecelakaan. Mengapa? Karena didepannya ada yang berhenti mendadak.</p>
<p>Radio yang didengarkannya diganti menjadi CD. Lagu-lagu gubahan para musisi klasik adalah salah satu dari sedikit hal yang bisa membuatnya sedikit tersenyum.</p>
<p>Karena lagu-lagu klasik tidak punya lirik cinta.</p>
<p>Dan itu membuat Richard bahagia.</p>
<p>Di tengah jalan, seseorang menelepon. Sial, pikir Richard. Sedang menyetir kok diganggu.</p>
<p>&#8220;Halo&#8221;</p>
<p>&#8220;Halo Richie, Erwin nih, gue pake nomor temen gue&#8221;</p>
<p>Penting sekali, pikir Richard. Penting sekali.</p>
<p>&#8220;Ada apa, win?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gini nih, gue lagi sama Victoria di EX&#8230;&#8221;</p>
<p>Ah, Victoria. Si cantik yang sudah meluluhkan hati Erwin. Cantik, tapi tidak ada di hatinya. Cinta itu bukan dari fisik belaka.</p>
<p>&#8220;&#8230;kebetulan adik gue, itu tuh si Lizzie, gak ada ekskul hari ini, jadi pulang cepet. Lu kalo pulang lewat sekolah dia kan? Anterin pulang dong, kan rumah gue di seberang rumah lu. Gue udah sms dia kalo lu bakal jemput dia. Oke ya, thanks loh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Win, gue..&#8221;</p>
<p>Tak sempat berkata apa-apa, telepon sudah diputus. Sial, pikir Richard. Dan ia kembali menggerutu. Cinta itu bikin repot, gumamnya.</p>
<p>Lizzie, nama panggilan untuk Elizabeth, sudah menunggu di gerbang sekolahnya. Bagus, pikir Richard. Gak perlu bayar seribu hanya untuk menjemput seseorang.</p>
<p>&#8220;Hai Liz, ayo masuk&#8221; ajak Richard</p>
<p>&#8220;Makasih, koko Richie&#8221; kata Lizzie &#8221; koko Erwin emangnya kemana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biasa, nampang di EX.&#8221;</p>
<p>&#8220;Uuuh, kenapa sih akhir-akhir ini koko Erwin gak pernah jemput Lizzie lagi. Alasannya macam-macam lagi. Tau sendiri Lizzie masih SMP, gak boleh bawa mobil sendiri. Gak kayak koko Richie, enak ya udah SMA&#8221;</p>
<p>&#8220;Emang Lizzie udah bisa nyetir?&#8221; ejek Richie. Postur Lizzie yang pendek memang tidak cocok untuk mengemudi mobil apapun, becak saja tidak pantas. Motor? Terlalu gagah untuk si mungil.</p>
<p>&#8220;Uuh blom tau kalo Lizzie nyetir. Udah lah, yuk jalan&#8221;.</p>
<p>Jalanan macet. Lengkap sudah hari ini, pikir Richard. Banyak pikiran berkecamuk di otak Richard. Masalah A sampai Z dan kembali lagi ke A sampai Z dan seterusnya sampai mampus.</p>
<p>&#8220;koko Richie..&#8221; sahut Lizzie kepada Richard, melepas lamunannya.</p>
<p>&#8220;Eh iya2, kenapa Liz?&#8221; sahut Richard, kaget.</p>
<p>&#8220;memangnya orang pacaran itu enak ya?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan yang SUPER SENSITIF DAN DESTRUKTIF DAN PROVOKATIF bagi Richard.</p>
<p>&#8220;Waduh, aku gak tau Liz. Gak pernah sih&#8221; jawab Richard spontan. Hanya itu yang bisa ia jawab.&#8221;Emang kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Koko Erwin sekarang kayanya asik banget sama pacarnya, sampe-sampe Lizzie jarang diajak ngobrol. Padahal dulu kita berdua kompak banget.&#8221; Lizzie terdiam sejenak. &#8220;Lizzie jadi agak..kesepian..tapi kalau itu yang terbaik buat koko Erwin, ya udah deh..&#8221;</p>
<p>Dan Richard kembali terdiam. Mengapa cinta seseorang bisa berakibat buruk bagi orang lain? Mengapa rasa sayang yang manusiawi itu bisa menjadi satu hal yang sadis bagi orang lain, yang tidak tahu apa-apa seperti Lizzie? Pikiran itulah yang berkecamuk di kepala Richard.</p>
<p>&#8220;Liz, orang pacaran itu bisa diandaikan bermain-main dengan api. Panas, menggairahkan, namun terang benderang dan hangat. Cuma, kalau main api sembarangan dan gak pakai otak kan bisa bahaya, bisa buat yang main api, bisa juga buat orang-orang di sekitar orang yang main api. Pacaran juga begitu&#8221; tukas Richard.</p>
<p>&#8220;Aduuh bahasanya berat banget sih&#8221; jawab Lizzie. &#8220;Aku gak ngerti&#8221;</p>
<p>Apalagi gue, gumam Richard dalam hati.</p>
<p> <em>Cinta bukan untuk dimengerti&#8230;</em></p>
<p>Dan Land Cruiser itu kembali melaju, membawa dua orang yang dikecewakan oleh cinta. Hanya saja, yang satu tidak terlalu kecewa karena tidak mengerti, yang lainnya sangat kecewa karena cinta adalah sebuah fakta di dunia nyata ini yang sudah merobek perasaannya dan membekukan hatinya. Batu nisan lu, ejek orang-orang. Batu nisan yang begitu <em>plain..dan sepi..</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=8&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/05/the-untitled-love-story-part-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Advent</title>
		<link>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/04/advent/</link>
		<comments>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/04/advent/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 10:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jedirider777</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Update]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/04/advent/</guid>
		<description><![CDATA[Say hello to this little blog. I hope this blog is going to be very interesting to all of you. This blog will consist of mainly my stories and some random ramblings about stuffs. Refer to my Friendster Blog for more detail.  This blog is going to be my final blog until I have found [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=6&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Say hello to this little blog. I hope this blog is going to be very interesting to all of you.</p>
<p>This blog will consist of mainly my stories and some random ramblings about stuffs. Refer to my Friendster Blog for more detail.</p>
<p> This blog is going to be my final blog until I have found a perfect one. But WordPress seems to be excellent enough. So, I think I&#8217;ll be using this one for my stories. I&#8217;ll post the updates on my Friendster Blog, or you can just drop by and see what&#8217;s been posted.</p>
<p> Enjoy.</p>
<p><em>&#8220;Ore, sanjou!&#8221;</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jedirider777.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jedirider777.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jedirider777.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jedirider777.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jedirider777.wordpress.com&amp;blog=1637742&amp;post=6&amp;subd=jedirider777&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jedirider777.wordpress.com/2007/09/04/advent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5800579e1fc9e5a5bacd4048b980d93?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">jedirider777</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
